CILEGON, WILIP.ID — Di tengah kepungan banjir yang melanda sejumlah wilayah di Kota Cilegon, Gerakan Pramuka kembali membuktikan perannya sebagai garda sosial yang selalu siap hadir saat masyarakat membutuhkan. Melalui Kwartir Cabang (Kwarcab) Pramuka Kota Cilegon, kepedulian tak berhenti pada simbol empati, melainkan diwujudkan lewat aksi nyata di lapangan.
Dipimpin langsung Ketua Kwarcab Pramuka Kota Cilegon, Erza Erdiansyah, didampingi Ketua Harian Kwarcab Heni Anita Susila, Pramuka Cilegon menyalurkan bantuan kemanusiaan ke tiga titik terdampak banjir. Salah satu fokus utama adalah Kelurahan Cilurah, Kecamatan Ciwandan, yang menjadi wilayah dengan dampak cukup signifikan.
Sebanyak 75 paket sembako disalurkan kepada warga terdampak melalui pengurus RT setempat. Bantuan tersebut merupakan hasil gotong royong keluarga besar Pramuka Kota Cilegon.
“Alhamdulillah, hari ini kami menyalurkan bantuan sembako dari keluarga besar Pramuka Kota Cilegon. Sebanyak 75 paket sudah kami distribusikan melalui RT di Kelurahan Cilurah,” ujar Erza, Minggu (4/1/2026).
Tak hanya menyasar warga secara langsung, Pramuka Cilegon juga memperkuat dapur-dapur umum yang menjadi nadi pemenuhan kebutuhan konsumsi saat bencana. Bantuan disalurkan ke dapur umum di Kelurahan Cilurah serta dapur umum Palang Merah Indonesia (PMI).
Menurut Erza, keberadaan dapur umum sangat vital dalam situasi darurat, bukan hanya untuk warga terdampak, tetapi juga bagi para relawan yang bekerja tanpa lelah di lapangan.
“Mungkin bantuan ini terasa agak terlambat, tapi kami berharap tetap bisa memberi manfaat dan benar-benar sampai kepada masyarakat yang membutuhkan,” tuturnya.
Lebih dari sekadar aksi sosial, keterlibatan Pramuka dalam penanganan bencana merupakan implementasi langsung nilai-nilai kepanduan. Erza menegaskan, prinsip cinta alam dan kasih sayang sesama manusia yang tertuang dalam Dasa Dharma Pramuka menjadi landasan utama setiap gerakan kemanusiaan.
“Kami memiliki badan kelengkapan bernama Pramuka Peduli. Ini adalah wujud nyata Dasa Dharma kedua. Dalam kondisi bencana, Pramuka memang harus hadir dan mengambil peran,” tegasnya.
Sejak sehari sebelumnya, Tim Kesiapsiagaan Bencana (TKB) Pramuka Peduli Kwarcab Kota Cilegon, yang didominasi Pramuka Penegak dan Pandega, telah lebih dulu turun ke lapangan. Mereka terlibat langsung dalam operasional dapur umum, distribusi logistik, hingga membantu warga di titik-titik banjir.
Tak berhenti pada fase tanggap darurat, Pramuka Cilegon juga mengambil peran strategis dalam pemulihan pascabanjir, khususnya di sektor pendidikan. Sejumlah sekolah yang terdampak genangan dibersihkan oleh Pramuka Peduli dan Dewan Kerja Cabang bersama relawan.
“Hari ini kami juga melakukan bersih-bersih sekolah yang terdampak banjir. Ini penting karena besok sudah mulai kegiatan belajar mengajar setelah libur dua minggu. Kami ingin memastikan sekolah siap digunakan kembali,” ungkap Erza.
Di tengah keterbatasan dan situasi darurat, Pramuka Cilegon menunjukkan bahwa nilai solidaritas dan gotong royong bukan sekadar slogan. Saat air merendam rumah, fasilitas umum, dan sekolah, Gerakan Pramuka hadir sebagai mitra masyarakat—membantu, memulihkan, sekaligus menguatkan harapan.
(Rais/Red*)















