CILEGON, WILIP.ID — Pemandangan kemacetan di sekitar kawasan Al-Khairiyah Cabang Jombang Wetan, Kota Cilegon, setiap pagi dan siang hari kini bukan lagi sekadar problem lalu lintas. Ia telah menjelma menjadi indikator kuat membeludaknya minat masyarakat terhadap sistem pendidikan Al-Khairiyah.
Deretan kendaraan orang tua, angkutan, hingga sepeda motor yang mengular saat jam masuk dan pulang sekolah justru mencerminkan satu hal: kepercayaan publik terhadap Al-Khairiyah terus menguat dan tumbuh signifikan.
Ketua Cabang Al-Khairiyah Jombang Wetan yang juga pimpinan lembaga pendidikan setempat, H.M. Nazib, menyebut fenomena tersebut sebagai bukti bahwa transformasi internal yang dilakukan Al-Khairiyah dalam beberapa tahun terakhir mulai membuahkan hasil nyata.
“Sejak dipimpin Ketua Umum PB Al-Khairiyah, H. Ali Mujahidin, Al-Khairiyah dari pusat sampai cabang semakin menggeliat. Sistem pendidikan dibenahi, manajemen diperkuat, dan semangat juang (ghirah) seluruh unsur organisasi meningkat,” ujar Nazib, Minggu (8/2/2026) saat dikonfirmasi Wilip.id.
Ia menjelaskan, kebangkitan Al-Khairiyah bukan sekadar retorika organisasi, melainkan terwujud dalam pembenahan kurikulum, tata kelola, hingga pola pembinaan karakter peserta didik.
Menurut Nazib, daya tarik utama Al-Khairiyah terletak pada keseimbangan antara penguatan aqidah, pembentukan akhlak, dan penguasaan ilmu pengetahuan umum.
Model pendidikan ini dinilai semakin relevan di tengah tantangan zaman, ketika masyarakat modern tak hanya menginginkan anaknya cerdas, tetapi juga berkarakter dan berakhlak kuat.
Selain itu, sistem pengelolaan yang terbuka dan transparan menjadi faktor penting yang mendorong kepercayaan publik.
“Masyarakat bisa melihat dengan jelas bagaimana Al-Khairiyah dikelola. Tidak ada yang ditutup-tutupi. Itu yang membuat orang tua merasa aman dan yakin menitipkan pendidikan anaknya kepada kami,” katanya.
Nazib juga menekankan bahwa kekompakan antara pengurus pusat, cabang, dan para guru menjadi fondasi penting dalam menjaga kualitas pendidikan.
“Kami punya satu persepsi: membangun SDM unggul dengan penguatan aqidah dan ilmu pengetahuan. Itu yang menyatukan seluruh elemen Al-Khairiyah.”
Di tengah mahalnya biaya pendidikan di berbagai tempat, Al-Khairiyah justru mengambil posisi berbeda. Lembaga ini secara tegas memegang khitah para pendirinya: pendidikan bukan ladang bisnis, tetapi ladang amal.
“Kami anti-komersialisasi. Al-Khairiyah ingin meringankan masyarakat, bukan membebani. Pendidikan harus menjadi jalan ibadah dan pengabdian,” tegas Nazib.
Tak heran, setiap tahun ajaran baru, pendaftar selalu membludak. Bahkan, menurutnya, dalam beberapa tahun terakhir, pihak sekolah terpaksa menolak calon siswa karena keterbatasan daya tampung.
“Kadang sampai empat atau lima kelas tidak bisa kami terima karena kapasitas sudah penuh,” ujarnya.
Sekretaris Jenderal PB Al-Khairiyah, H. Ahmad Munji, membenarkan apa yang terjadi di Jombang Wetan merupakan potret dari tren nasional Al-Khairiyah.
Menurutnya, di bawah kepemimpinan Ketua Umum H. Ali Mujahidin, Al-Khairiyah mengalami revitalisasi semangat dan arah perjuangan.
“Ada terobosan pembinaan yang membuat seluruh warga Al-Khairiyah kembali punya ghiroh kuat. Arahnya jelas: membangun generasi emas Indonesia melalui pendidikan dan amal kebajikan,” kata Munji.
Ia menegaskan, meningkatnya animo masyarakat bukan terjadi secara kebetulan, melainkan hasil dari konsistensi Al-Khairiyah menjaga marwah pendidikan sebagai ruang pengabdian, bukan transaksi.
Fenomena macet di depan sekolah Al-Khairiyah Jombang Wetan setiap hari, pada akhirnya, bukan sekadar soal kendaraan yang berjejal. Ia adalah cermin dari kepercayaan publik yang terus bertumbuh terhadap sebuah lembaga pendidikan yang setia pada nilai, konsisten pada kualitas, dan teguh pada misi mencerdaskan bangsa.
(Pis/Red*)















