Melawan Kebencian dari Sekolah: Pergunu Dorong Kurikulum Kasih Sayang

CILEGON, WILIP.ID – Di tengah maraknya kasus perundungan dan kekerasan di lingkungan pendidikan, ruang kelas hari ini tidak lagi cukup hanya menjadi tempat transfer ilmu. Ia juga menjadi arena pembentukan watak, emosi, dan cara pandang generasi masa depan. Di titik inilah pesan Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Kota Cilegon menemukan relevansinya: guru harus lebih berhati-hati dalam mengajar, sekaligus berani mengedepankan kurikulum kasih sayang.

Pesan tersebut mengemuka dalam Seminar Pendidikan dan Wawasan Kebangsaan yang digelar Pergunu Kota Cilegon, Sabtu (27/12/2025). Bukan sekadar agenda rutin organisasi, forum ini menjadi ruang refleksi atas wajah pendidikan kita yang kerap abai pada sisi kemanusiaan peserta didik.

Ketua Pergunu Kota Cilegon, Suroj, secara lugas mengingatkan bahwa bullying tidak pernah lahir dari ruang hampa. Ia tumbuh dari benih kebencian yang dibiarkan berkembang di kepala anak-anak. Ketika kebencian itu menemukan momentum, perundungan hanyalah pintu masuk menuju kekerasan yang lebih luas.

Tema “No Bully, No Hater” yang diusung dalam kegiatan tersebut terasa seperti alarm keras bagi dunia pendidikan. Sebab, selama ini sekolah kerap sibuk mengejar target kurikulum, nilai, dan peringkat, namun lupa memastikan ruang belajar benar-benar aman bagi psikologis siswa.

Menariknya, Pergunu tidak hanya menghadirkan akademisi pendidikan, tetapi juga narasumber dari kepolisian—mantan anggota Densus 88 dengan pengalaman langsung di wilayah konflik. Pesannya jelas: wawasan kebangsaan bukan sekadar hafalan Pancasila atau teks UUD 1945, melainkan pemahaman mendalam tentang bahaya kebencian, radikalisme, dan konflik sosial jika tidak diredam sejak dini.

Di sinilah peran guru menjadi krusial. Guru bukan hanya pengajar mata pelajaran, tetapi juga penjaga nilai dan emosi di ruang kelas. Suroj menyebut guru harus menjadi agent of change—pelopor perubahan yang mampu menahan emosi, mengelola konflik, dan menanamkan empati.

Kurikulum kasih sayang yang disuarakan Pergunu sejatinya bukan konsep baru, namun sering diabaikan. Ia menuntut kehadiran guru secara utuh: mendengar sebelum menghakimi, memahami sebelum menghukum. Dalam pendekatan ini, disiplin tidak lahir dari ketakutan, melainkan dari kesadaran.

Di tengah derasnya arus digital, media sosial, dan budaya saling hujat, sekolah menjadi benteng terakhir pembentukan karakter. Jika ruang kelas gagal menanamkan nilai kasih dan kebangsaan, maka jangan heran jika kebencian tumbuh subur di luar pagar sekolah.

Apa yang disuarakan Pergunu Cilegon adalah pengingat bahwa pendidikan sejatinya adalah kerja peradaban. Dan peradaban tidak pernah dibangun dari kemarahan, melainkan dari kasih sayang yang diajarkan—setiap hari—di ruang kelas.

 

(Rais/Red*)