Viral Penampilan Hiburan di Acara Perpisahan, Kepala SMPN 3 Cilegon Beri Klarifikasi

0-0x0-0-0#

CILEGON, WILIP.ID – Kepala SMP Negeri 3 Cilegon, Nazia, akhirnya memberikan klarifikasi terkait viralnya video penampilan seorang pekerja seni laki-laki yang tampil dengan busana perempuan dalam acara tasyakuran dan perpisahan siswa kelas IX SMPN 3 Cilegon.

Menurut Nazia, kehadiran pekerja seni tersebut murni sebagai hiburan dalam rangka memeriahkan kegiatan pelepasan siswa yang telah menyelesaikan pendidikan selama tiga tahun di sekolah tersebut. Ia menegaskan tidak ada tujuan lain, apalagi menjadikan penampilan tersebut sebagai bagian dari materi pendidikan atau edukasi tertentu.

“Acara tersebut pada dasarnya merupakan tasyakuran dan ungkapan rasa syukur dari siswa serta orang tua setelah menyelesaikan pendidikan di SMPN 3 Cilegon. Tujuannya hanya untuk memberikan hiburan dan menambah semarak suasana kegiatan,” ujar Nazia saat memberikan keterangan di Front Office Media Wilip.id di kawasan Perumahan Metro Cilegon, Rabu (3/6/2026).

Nazia menjelaskan, sebelum acara berlangsung pihak sekolah telah mengingatkan pembawa acara (MC) untuk menyampaikan kepada seluruh peserta bahwa penampilan tersebut semata-mata bersifat hiburan. Bahkan, pesan tersebut disebut telah disampaikan berulang kali selama kegiatan berlangsung.

“Kami sudah meminta MC menyampaikan bahwa ini hanya hiburan. Tidak ada unsur edukasi atau pesan khusus yang ingin disampaikan kepada siswa. Namun tentu setiap orang memiliki sudut pandang yang berbeda dalam menafsirkan sebuah pertunjukan,” katanya.

Meski demikian, Nazia mengakui pihak sekolah kurang maksimal dalam melakukan pengawasan terhadap penampilan yang akhirnya menjadi sorotan publik. Ia menyebut sebelumnya telah memberikan arahan agar penampilan yang ditampilkan tetap menyesuaikan dengan lingkungan sekolah dan karakter kegiatan pendidikan.

“Saya sudah menyampaikan agar penampilannya disesuaikan dengan suasana sekolah. Karena bagaimanapun ini lingkungan pendidikan yang berbeda dengan acara umum di luar sekolah. Namun pada pelaksanaannya ternyata tidak sepenuhnya sesuai dengan arahan tersebut. Dalam hal ini saya mengakui ada kekurangan dalam pengawasan,” ungkapnya.

Ia menambahkan, proses gladi resik sebenarnya telah dilakukan sebelum acara dimulai. Namun ketika kegiatan berlangsung, terdapat sejumlah hal yang berada di luar kendali pengawasan langsung pihak sekolah.

“Gladi resik memang sudah dilakukan. Tetapi saat acara berlangsung ada beberapa hal yang luput dari kontrol. Di sisi lain, ketika pertunjukan sedang berjalan tentu tidak mudah untuk langsung menghentikannya karena kami juga harus menghormati yang bersangkutan sebagai pekerja seni yang sedang tampil,” jelas Nazia.

Atas polemik yang berkembang di masyarakat, pihak sekolah memilih menerima berbagai kritik dan masukan sebagai bahan evaluasi untuk penyelenggaraan kegiatan serupa pada masa mendatang.

“Jika hal ini dinilai sebagai bentuk kelalaian, saya menerimanya. Semua masukan akan menjadi bahan evaluasi agar ke depan kami bisa lebih baik dan lebih berhati-hati,” tegasnya.

Nazia juga meluruskan anggapan yang berkembang bahwa penampilan hiburan tersebut merupakan inti dari acara perpisahan. Menurut dia, fokus utama kegiatan justru berada pada prosesi sungkeman siswa kepada orang tua sebagai bentuk penghormatan dan ungkapan terima kasih atas perjuangan mendampingi anak-anak mereka selama menempuh pendidikan.

“Acara inti kami adalah prosesi siswa mendampingi orang tua, melakukan sungkeman, dan menyampaikan rasa terima kasih. Itu yang menjadi esensi kegiatan pelepasan siswa tahun ini,” ujarnya.

Ia kembali menegaskan bahwa sekolah tidak pernah menjadikan penampilan hiburan tersebut sebagai bagian dari proses pembelajaran ataupun sarana penyampaian nilai-nilai tertentu kepada peserta didik.

“Sejak awal sudah disampaikan bahwa itu murni hiburan dan bukan untuk kepentingan edukasi,” katanya.

Sementara itu, Ketua Pelaksana kegiatan sekaligus perwakilan Komite Sekolah SMPN 3 Cilegon, Irda, mengatakan pihaknya menghormati berbagai tanggapan yang muncul dari masyarakat setelah video penampilan tersebut beredar luas di media sosial.

Menurut Irda, seluruh rangkaian kegiatan perpisahan dirancang untuk memberikan pengalaman berkesan bagi siswa yang telah menyelesaikan pendidikan di tingkat SMP. Namun demikian, berbagai kritik yang muncul akan menjadi pelajaran penting bagi panitia dalam menyusun konsep kegiatan pada masa mendatang.

“Kami menerima seluruh masukan dari masyarakat. Apa yang terjadi saat ini menjadi bahan evaluasi bersama agar pelaksanaan kegiatan berikutnya dapat berjalan lebih baik, lebih matang, dan sesuai dengan harapan semua pihak,” ujarnya.

Irda menegaskan bahwa seluruh panitia memiliki niat baik dalam menyelenggarakan acara perpisahan. Karena itu, evaluasi yang dilakukan nantinya diharapkan mampu menghasilkan kegiatan sekolah yang tetap meriah, edukatif, serta selaras dengan nilai-nilai yang berlaku di lingkungan pendidikan.

Polemik yang muncul dari kegiatan tersebut sekaligus menjadi pengingat bagi satuan pendidikan untuk semakin selektif dalam menentukan konsep hiburan pada acara sekolah. Dengan demikian, setiap kegiatan tidak hanya memberikan kesan positif bagi peserta didik, tetapi juga mampu menjaga keselarasan dengan norma dan nilai pendidikan yang hidup di tengah masyarakat.

(Has/Red*)