Menanam Harapan di Tengah Kota: Kemenag Cilegon Peringati Hari Bumi dengan Aksi Nyata

CILEGON, WILIP.ID – Udara pagi di Kota Cilegon, Selasa (22/4/2025), terasa lebih sejuk dari biasanya. Di 11 titik instansi lingkungan kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Cilegon, para pejabat dan pegawai mengawali hari dengan menanam bibit pohon matoa. Aksi ini bukan sekadar seremonial; ia menjadi bagian dari peringatan Hari Bumi ke-55 yang diwarnai semangat untuk menjaga kelestarian lingkungan.

Sebelas pohon matoa ditanam secara serentak. Meski jumlahnya tak seberapa, maknanya tak bisa diremehkan. Kepala Kemenag Kota Cilegon, Amin Hidayat, menekankan bahwa keterbatasan lahan di perkotaan seharusnya tidak menjadi alasan untuk berhenti peduli.

“Kalau nanam di tempat kita memang sulit, lahannya sempit. Tapi bukan berarti kita berhenti. Hari ini kita tanam, insya Allah lima tahun lagi kita panen,” ujarnya dengan penuh harapan.

Bagi Amin, penanaman pohon adalah bentuk kedisiplinan jangka panjang—suatu tindakan yang tak langsung terlihat hasilnya, namun membawa dampak mendalam di masa depan. Dalam ritme kerja birokrasi yang kerap terasa kaku dan mekanis, ia ingin menanam benih kesadaran ekologis.

“Disiplin itu bukan hanya soal datang tepat waktu. Tapi juga soal merawat apa yang sudah kita mulai,” tambahnya.

Matoa dipilih bukan tanpa alasan. Pohon endemik Indonesia ini dikenal dengan buahnya yang manis dan bernilai ekonomi tinggi. Lebih dari itu, karakter pohon matoa yang tumbuh tegak dan kuat menjadi simbol harapan: agar nilai kejujuran, keteguhan, dan kedisiplinan bisa tumbuh dan mengakar di lingkungan birokrasi.

Hari Bumi adalah pengingat bahwa bumi bukan sekadar tempat kita berpijak hari ini, melainkan warisan yang harus dijaga untuk generasi mendatang. Di tengah lahan yang semakin terbatas, Kemenag Kota Cilegon menunjukkan bahwa langkah kecil bisa berarti besar—dan bahwa menjaga bumi bisa dimulai dari halaman sendiri.

(Red*)