Menyatu dengan Warga Pesisir, Mahasiswa KKM Institut Al-Khairiyah Perkuat Pengabdian Lewat Pengajian Rutin

SERANG, WILIP.ID – Pengabdian kepada masyarakat tidak selalu diwujudkan melalui pembangunan fisik atau pelaksanaan program kerja yang bersifat teknis. Di balik berbagai agenda pemberdayaan, terdapat proses yang jauh lebih mendasar, yakni membangun kepercayaan, memahami budaya lokal, dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat itu sendiri.

Prinsip tersebut menjadi pijakan Mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Kelompok 03 Institut Al-Khairiyah (INSTAL) selama menjalankan pengabdian di Desa Pulo Panjang, Kabupaten Serang. Di tengah masyarakat pesisir yang menggantungkan hidup dari laut, para mahasiswa memilih menapaki jalan yang sederhana namun bermakna, yakni hadir dalam pengajian rutin mingguan bersama warga.

Bagi masyarakat Desa Pulo Panjang, pengajian bukan sekadar kegiatan ibadah. Tradisi ini telah menjadi ruang sosial yang mempertemukan warga dari berbagai kalangan untuk mempererat silaturahmi, saling berbagi kabar, hingga memperkuat nilai-nilai kebersamaan yang diwariskan secara turun-temurun.

Mahasiswa KKM memandang forum tersebut sebagai kesempatan berharga untuk mengenal lebih dekat karakter masyarakat yang mereka dampingi. Mereka mengikuti seluruh rangkaian kegiatan, mulai dari pembacaan Surah Yasin, tahlil, doa bersama, hingga menyimak tausiyah dari tokoh agama setempat. Kehadiran mereka bukan hanya sebagai tamu, tetapi sebagai bagian dari komunitas yang tengah tumbuh bersama masyarakat.

Sekretaris KKM Kelompok 03 Institut Al-Khairiyah, Duhriyah, mengatakan bahwa membangun hubungan emosional dengan masyarakat menjadi salah satu kunci keberhasilan pelaksanaan program pengabdian.

“Melalui pengajian rutin mingguan ini kami dapat menjalin kedekatan secara emosional maupun spiritual dengan masyarakat. Kami tidak hanya datang membawa program kerja, tetapi juga belajar memahami budaya, kebiasaan, dan nilai-nilai yang terus dijaga oleh warga Desa Pulo Panjang,” ujarnya, Jumat (31/7/2026).

Menurutnya, kedekatan yang terbangun melalui interaksi sederhana justru melahirkan rasa saling percaya. Dengan begitu, setiap program yang dijalankan tidak dipandang sebagai kegiatan sesaat, melainkan sebagai bagian dari ikhtiar bersama untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.

Ketua KKM Kelompok 03 Institut Al-Khairiyah, Bustomi, menjelaskan bahwa kondisi geografis Desa Pulo Panjang yang didominasi masyarakat nelayan membuat waktu berkumpul bersama menjadi sangat terbatas. Sejak pagi hingga menjelang petang, sebagian besar warga berada di laut untuk mencari nafkah.

Karena itu, pengajian rutin mingguan menjadi salah satu momen yang paling efektif untuk mempererat komunikasi antara mahasiswa dan masyarakat.

“Mayoritas masyarakat bekerja sebagai nelayan sehingga kesempatan berkumpul bersama cukup terbatas. Melalui pengajian mingguan ini kami dapat bersilaturahmi, berdiskusi, serta mempererat kebersamaan dengan masyarakat di luar kegiatan mengajar maupun program kerja lainnya,” kata Bustomi.

Ia meyakini, keberhasilan KKM tidak hanya diukur dari banyaknya kegiatan yang terlaksana, tetapi juga dari sejauh mana mahasiswa mampu diterima sebagai bagian dari masyarakat.

Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKM Kelompok 03 Institut Al-Khairiyah, Aan Kudrotullah, M.Pd., menilai langkah mahasiswa mengikuti kegiatan keagamaan masyarakat merupakan bentuk implementasi nyata dari nilai-nilai pengabdian.

Menurutnya, mahasiswa harus memiliki kemampuan beradaptasi dengan lingkungan sosial tempat mereka mengabdi. Pengabdian bukan hanya soal menyampaikan gagasan atau menjalankan program, tetapi juga tentang kesediaan belajar dari masyarakat yang menjadi mitra pengabdian.

“Kehadiran mahasiswa KKM harus memberikan nilai tambah bagi masyarakat. Salah satunya dengan ikut menjaga tradisi, memperkuat silaturahmi, dan menghormati kearifan lokal yang telah lama hidup di tengah masyarakat. Inilah esensi pengabdian yang sesungguhnya,” ujarnya.

Di tengah derasnya perubahan sosial, tradisi pengajian mingguan di Desa Pulo Panjang menjadi pengingat bahwa nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, dan religiusitas tetap menjadi fondasi kehidupan masyarakat. Kehadiran mahasiswa KKM dalam ruang-ruang sosial seperti itu menunjukkan bahwa proses belajar tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga tumbuh dari interaksi, empati, dan kebersamaan dengan masyarakat.

Melalui pendekatan tersebut, Mahasiswa KKM Kelompok 03 Institut Al-Khairiyah berharap hubungan yang telah terjalin tidak berhenti setelah masa pengabdian berakhir. Lebih dari sekadar menyelesaikan program kerja, mereka ingin meninggalkan jejak kolaborasi, memperkuat semangat gotong royong, serta menumbuhkan ikatan persaudaraan yang terus hidup di tengah masyarakat pesisir Desa Pulo Panjang.

(Has/Red*)