CILEGON, WILIP.ID – Di sebuah lahan seluas 4.000 meter persegi di kawasan Kotasari, Kecamatan Grogol, Cilegon, geliat pembangunan mulai tampak. Tanah yang dulu kosong itu kini bersiap menjadi pusat pendidikan Islam terpadu, di bawah naungan Yayasan Al Imtiyaz.
Rencananya, sekolah dasar berbasis madrasah ini akan mulai menerima siswa baru untuk tahun ajaran 2025/2026. Nama resminya: Madrasah Ibtidaiyah Unggulan (MIU) Al Imtiyaz.
“Ini bukan sekadar membangun sekolah. Ini ikhtiar mencetak kader bangsa yang berilmu dan berakhlak,” kata Munirudin, Ketua Yayasan Al Imtiyaz, saat ditemui di lokasi pembangunan.
Konsep Sekolah: Islami, Kontekstual, dan Berkarakter
MI Unggulan Al Imtiyaz mengusung konsep pendidikan terpadu berbasis nilai-nilai Islam. Lebih dari sekadar tempat belajar, madrasah ini didesain untuk menjadi tempat pembentukan karakter dan spiritualitas sejak usia dini.
Menurut Munirudin, pendekatan pendidikan yang digunakan akan menyesuaikan dengan usia dan kebutuhan anak. Misalnya, siswa kelas 1 dan 2 akan memulai hari dengan aktivitas bermain dan olahraga.
“Kami siapkan jogging track, taman bermain, dan lapangan serbaguna. Setelah itu, mereka akan berolahraga sambil berdzikir, menyebut Asmaul Husna, tahmid, tahlil, dan bersholawat,” jelasnya.
Usai kegiatan fisik dan ruhani, anak-anak diarahkan untuk wudu, salat duha, lalu masuk ke sesi hafalan Al-Qur’an dan pelajaran dasar seperti calistung (membaca, menulis, dan berhitung).
Untuk siswa kelas 1–3, jam belajar akan selesai pada pukul 14.00 WIB. Sementara itu, ke depan, yayasan juga menyiapkan sistem asrama untuk kelas 4–6 agar target hafalan 6 juz Al-Qur’an sebelum lulus bisa tercapai.
Fasilitas: Dari Kolam Ikan sampai Pentas Seni
Saat ini, sudah dibangun tiga ruang kelas dan satu ruang guru. Selanjutnya, akan ditambah tiga ruang kelas bertingkat dua. Di area lain, yayasan membangun empang buatan dari terpal sebagai sarana edukasi budidaya ikan.
“Anak-anak akan belajar budidaya ikan lele dan tuna. Ini bagian dari pembelajaran kontekstual dan pendidikan kemandirian,” kata Munirudin.
Tersedia juga lapangan berukuran 25 x 13 meter untuk olahraga dan pentas seni, sebagai wadah menyalurkan bakat dan kreativitas siswa.
Didukung Guru Tahfidz dan Sarjana Pendidikan
Untuk tenaga pengajar, Yayasan Al Imtiyaz telah menyiapkan dua guru tahfidz dan sejumlah guru lulusan sarjana. Munirudin optimistis MIU akan menjadi pilihan baru pendidikan Islam berkualitas di Cilegon.
“Dulu anak-anak di sekitar sini susah bersaing masuk sekolah favorit. Tapi setelah kami bangun PAUD dan RA, alhamdulillah sekarang mereka sudah bisa masuk sekolah-sekolah bagus. Maka kami lanjutkan ke jenjang MI,” ujarnya.
Dukungan Masyarakat: Pendidikan untuk Anak Cucu
Pendirian MI Unggulan ini tak lepas dari dukungan warga sekitar. Rachmatullah AS, Ketua Komite MIU, menyebut Munirudin sebagai tokoh pendidikan asli “wong Cilegon” yang punya visi kuat.
“Beliau mengajak saya untuk mendampingi perjuangan ini. Saya merasa terpanggil. Ini bukan untuk kita saja, tapi untuk anak cucu kita juga,” ujar Rachmatullah.
MIU kini mulai membuka pendaftaran perdana dan mengajak masyarakat, khususnya yang mampu, untuk ikut berinfak dan bersedekah guna mendukung pembangunan dan pengembangan yayasan.
Tak hanya itu, Munirudin juga membuka kemungkinan kolaborasi dengan instansi seperti TNI, bukan untuk pelatihan fisik, tapi guna membentuk kedisiplinan siswa sejak dini.
“Insyaallah, kalau diniatkan lillahi ta’ala, semua ini akan dimudahkan oleh Allah SWT,” pungkas Munirudin penuh harap.
(Elisa/Red*)















