Robinsar: Amanah Jabatan Bukan untuk Gaya, Tapi untuk Rakyat

CILEGON, WILIP.ID — Wali Kota Cilegon Robinsar kembali menegaskan arah kepemimpinan birokrasi di Kota Baja: jabatan bukan simbol kehormatan, melainkan mandat pengabdian. Setiap kursi kekuasaan, kata dia, adalah beban amanah yang kelak harus dipertanggungjawabkan, bukan hanya di hadapan publik, tetapi juga di hadapan Tuhan.

Pesan itu disampaikan Robinsar saat melantik dan mengukuhkan pejabat pimpinan tinggi pratama serta pelaksana tugas (Plt) di lingkungan Pemerintah Kota Cilegon, Rabu (4/2/2026), di Rumah Dinas Wali Kota.

Di hadapan Sekretaris Daerah, jajaran pejabat eselon, dan Kepala Kementerian Agama Kota Cilegon, Robinsar berbicara lugas dan menukik.

“Amanah ini bukan untuk digenggam, apalagi untuk gaya-gayaan. Ini tanggung jawab yang akan dimintai pertanggungjawaban, bukan hanya oleh masyarakat, tetapi juga kelak di akhirat,” tegasnya.

Pernyataan itu sekaligus menjadi garis tegas bagi seluruh pejabat yang kini memikul jabatan baru: tidak ada ruang untuk euforia kekuasaan, yang ada hanyalah ruang pengabdian.

Dalam refleksi yang bernuansa religius namun sarat makna birokratis, Robinsar menyebut bahwa penempatan pejabat—baik definitif maupun Plt—bukanlah hasil kebetulan administratif semata. Semua terjadi atas kehendak dan takdir Allah SWT.

“Apa yang baik menurut Allah pasti baik untuk kita. Tapi yang kita anggap baik, belum tentu baik menurut Allah,” ujarnya.

Bagi Robinsar, kalimat itu bukan sekadar kutipan moral, melainkan fondasi etika kerja aparatur: bahwa kekuasaan harus tunduk pada nilai, dan kebijakan harus lahir dari niat yang bersih.

Lebih dari sekadar seremoni pelantikan, Robinsar menjadikan momentum ini sebagai titik tekan agar birokrasi Cilegon keluar dari jebakan rutinitas. Ia meminta seluruh pejabat bekerja dengan disiplin, profesional, dan berorientasi penuh pada pelayanan publik.

Menurutnya, pemerintahan tidak berjalan dengan tanda tangan wali kota atau wakil wali kota semata. Mesin pelayanan publik hanya akan bergerak jika seluruh pejabat di dalamnya bekerja dengan kesungguhan.

“Kami tidak bisa berjalan sendiri. Kami butuh Bapak-Ibu semua. Program untuk kemaslahatan dan kesejahteraan masyarakat hanya bisa terwujud kalau kita jalankan bersama,” katanya.

Narasi ini menempatkan Robinsar bukan sebagai pusat kuasa, melainkan sebagai bagian dari orkestrasi besar yang menentukan arah masa depan Cilegon.

Sebagai kota industri dengan kompleksitas sosial dan ekonomi yang tinggi, Cilegon membutuhkan lebih dari sekadar birokrasi yang pintar. Kota ini membutuhkan aparatur yang berintegritas, tahan godaan, dan berani bekerja dalam senyap.

Di titik inilah pesan Robinsar menemukan relevansinya. Bagi dia, jabatan bukan panggung privilese, melainkan ladang ibadah.

“Dimanapun Bapak-Ibu ditempatkan, bekerjalah dengan penuh tanggung jawab,” ujarnya.

Dengan gaya yang tenang namun tegas, Robinsar memperlihatkan arah kepemimpinan yang ingin ia bangun: Cilegon yang digerakkan oleh etos amanah, bukan oleh gemerlap kekuasaan.

Dan dari ruang Rumah Dinas Wali Kota pagi itu, pesan itu jelas—bahwa perubahan tidak lahir dari kursi jabatan, melainkan dari kesungguhan mereka yang duduk di atasnya.

 

(Pis/Red*)