CILEGON, WILIP.ID – “The Glasses” kini dikenal sebagai salah satu gerakan budaya yang berfokus pada seni musik untuk generasi pensiunan. Nama ini dipilih karena memiliki makna mendalam yang mencerminkan visi dan tujuan mereka.
Hartono, Ketua Komunitas The Glasses, menjelaskan bahwa inisiatif ini berasal dari Yayasan C13 (Cilegon 13), yang sebelumnya lebih dikenal melalui kegiatan olahraga seperti sepak bola, bola ping pong dan olahraga lainnya. Namun, seiring berjalannya waktu, yayasan ini mulai berkembang ke bidang kebudayaan, terutama musik, yang dianggap lebih mudah diakses oleh berbagai kalangan.
Salah satu wujud nyata dari inisiatif ini adalah lahirnya rumah budaya bernama Manjing. Meskipun masih dalam tahap pengembangan, Manjing diharapkan dapat menjadi ruang yang menyatukan berbagai kegiatan seni, dengan fokus pada musik.
Hari ini, Minggu (2 Februari 2025) Komunitas Musik The Glasses meresmikan ruang musik baru yang diberi nama “The Glasses,” sebagai kontribusi mereka dalam dunia seni.
Menurut Hartono, filosofi di balik nama ini mengacu pada simbolisme kacamata yang dikenakan oleh tiga tokoh utama dalam grup tersebut.
“Di masa depan, The Glasses diharapkan bisa menghasilkan beragam genre musik yang dapat dinikmati oleh semua kalangan, tanpa memandang usia atau latar belakang,” jelas Hartono.
Sulistiyadi, penasehat Manjing dan pensiunan PT. Krakatau Steel, menambahkan bahwa tujuan utama dari Komunitas Musik The Glasses adalah menciptakan ruang bagi pensiunan dan masyarakat umum untuk berkumpul, berolahraga, dan tentunya bermusik.
“Musik adalah bagian dari seni yang tidak mengenal batas usia. Oleh karena itu, siapa pun berhak menikmati dan berpartisipasi,” ujar Sulistiyadi.
Selain itu, Sulistiyadi menekankan pentingnya mempertahankan kesenian lokal sebagai bagian integral dari setiap daerah.
“Seni adalah kebutuhan sekunder yang juga penting untuk menjaga warisan budaya,” tambahnya.
Komunitas Musik The Glasses tidak hanya berfokus pada kegiatan musik, tetapi juga menyediakan berbagai program seni yang dapat menghubungkan generasi muda dengan tradisi musik yang telah ada.
Bang Sokat, seorang musisi senior yang tergabung dalam The Glasses, mengungkapkan bahwa para pemain di grup ini memiliki kemampuan untuk memainkan berbagai genre musik. Mereka juga aktif mengisi acara di kafe-kafe sekitar Cilegon dan Serang.
Komitmen mereka untuk menjadikan musik sebagai ajang silaturahmi yang menyenangkan sangat terasa.
“Musik adalah cara bagi kami untuk saling terhubung dan menghindari kebosanan. Ini lebih dari sekadar hobi; ini adalah cara hidup,” kata Bang Sokat.
Kang Tendi, gitaris senior Cilegon-Serang, menceritakan bahwa awalnya mereka hanya sekadar hobi bermain musik di Café Laras. Namun, seiring waktu, mereka mulai memiliki keinginan untuk menciptakan generasi baru yang bisa melanjutkan tradisi tersebut.
“Kami berharap Café Laras menjadi tempat lahirnya musisi-musisi muda berbakat,” ujar Kang Tendi.
Pak Taufik, pemain organ tunggal senior, juga turut berbagi cerita. Setelah bertahun-tahun bermain solo, kini ia menikmati bermain bersama komunitas musisi lain.
“Bermusik adalah cara kami menjaga diri tetap aktif dan terhindar dari kebosanan. Di Café Laras, kami mendukung para pemula untuk berkembang,” ungkap Pak Taufik.
The Glasses tampil di Café Laras tiga kali sebulan, yaitu setiap Selasa malam pada minggu pertama, kedua, dan keempat.
Dengan berbagai rencana dan komitmen ini, Filosofi Glasses tidak hanya menjadi wadah berkumpul bagi para pensiunan, tetapi juga berfungsi sebagai sarana untuk melestarikan seni musik.
Mereka berharap dapat membuka ruang bagi generasi muda untuk menemukan dan mengembangkan bakat musik mereka.
(Red*)















