27 Tahun Cilegon, Jalan Watu Lawang Masih Terlupakan: 450 Meter Rusak, Warga Bangun Sendiri

CILEGON, WILIP.ID — Di tengah gegap gempita perayaan Hari Ulang Tahun ke-27 Kota Cilegon, suara dari pinggiran justru terdengar lirih. Warga Watu Lawang, Kelurahan Gerem, Kecamatan Grogol, masih bergulat dengan persoalan dasar: jalan rusak sepanjang 450 meter yang tak kunjung tersentuh pembangunan.

Kontras itu terasa nyata. Saat perayaan kota dipenuhi kemeriahan dan gemerlap, warga di akses menuju Pasir Salam—yang menghubungkan Pasir Manglid, Pasir Kelapa, Pord Lampung hingga Watu Lawang—justru harus berjibaku dengan jalan “gerutul”, licin, dan rawan kecelakaan.

Tokoh masyarakat setempat, Kurtubi, menyebut kondisi ini telah berlangsung bertahun-tahun tanpa penanganan konkret. Upaya komunikasi dengan pemerintah sudah dilakukan, bahkan laporan telah disampaikan ke dinas terkait. Namun hingga kini, hasilnya masih nihil.

“Sudah lama kami sampaikan, bahkan sempat ada kabar mau survei. Tapi sampai sekarang belum ada realisasi. Sementara warga setiap hari mempertaruhkan keselamatan saat melintas,” ujarnya, Jumat (1/5/2026).

Fakta lain yang menambah ironi, jalan tersebut juga sempat dilintasi oleh Wali Kota sekitar empat bulan lalu. Dalam momen peresmian sumur bor, perwakilan RT setempat bahkan secara langsung menyampaikan harapan agar jalan tersebut diaspal hotmix. Namun harapan itu kembali menggantung tanpa kepastian.

Di tengah situasi tersebut, warga memilih tidak menunggu. Tahun lalu, mereka sudah melakukan pengecoran sebagian jalan secara swadaya dengan iuran semen, pasir, dan material lainnya. Kini, karena keterbatasan dana, masih tersisa sekitar 450 meter yang belum tersentuh perbaikan.

Rencananya, pada 17 Mei mendatang, warga kembali akan menggelar gotong royong untuk menambal jalan secara mandiri. Langkah ini diambil bukan sebagai bentuk protes, melainkan demi keselamatan bersama.

“Ini bukan karena kami benci pemerintah. Tapi karena kami peduli. Jangan sampai ada korban hanya karena jalan rusak yang tak kunjung diperbaiki,” tegas Kurtubi.

Kondisi ini memunculkan pertanyaan yang tak bisa dihindari: di usia 27 tahun Kota Cilegon, mengapa masih ada wilayah yang belum merasakan pemerataan pembangunan infrastruktur dasar?

Jalan rusak di Watu Lawang bukan sekadar persoalan teknis, tetapi potret ketimpangan yang nyata. Di satu sisi, kota merayakan capaian dan kemajuan. Di sisi lain, warganya masih harus patungan demi sekadar jalan yang layak dilalui.

Jika tak segera ditangani secara serius, jalan ini bukan hanya akan terus menghambat mobilitas dan ekonomi warga, tetapi juga menjadi simbol ketidakhadiran pembangunan yang merata. Sementara itu, masyarakat telah lebih dulu bergerak—menutup lubang dengan harapan sederhana: selamat sampai tujuan.

(Has/Red*)