CILEGON, WILIP.ID — Suhu politik organisasi di tubuh PCNU Kota Cilegon mulai meningkat. Wacana pergantian kepemimpinan tak lagi sekadar perbincangan internal, tetapi telah bergeser menjadi ruang dialektika publik yang melibatkan berbagai elemen—dari tokoh masyarakat hingga organisasi kepemudaan.
Di tengah dinamika tersebut, dorongan terhadap regenerasi kepemimpinan kian menguat. Aspirasi yang muncul tidak sekadar menuntut pergantian figur, melainkan juga menginginkan arah baru: kepemimpinan yang lebih adaptif, progresif, dan mampu menjawab tantangan zaman.
Salah satu suara yang mencuat datang dari Mulyadi Sanusi, atau yang akrab disapa Cak Moel. Tokoh muda Cilegon yang juga menyebut dirinya sebagai Presiden Laskar Tanduk Hitam itu secara terbuka menyatakan dukungannya kepada Erick Rebi’in untuk kembali memimpin PCNU Kota Cilegon.
Menurut Cak Moel, momentum pergantian ini bukan sekadar rutinitas organisasi, melainkan titik krusial untuk memastikan keberlanjutan arah gerak Nahdlatul Ulama di tingkat kota.
“Ini bukan hanya soal melanjutkan periode kepemimpinan, tetapi bagaimana memastikan estafet organisasi berjalan dengan energi baru. Kita butuh figur muda yang punya visi, keberanian, dan kemampuan membaca perubahan,” ujarnya, Rabu (22/4/2026).
Ia menilai, Erick Rebi’in merupakan representasi generasi muda yang memiliki potensi dan kapasitas untuk membawa organisasi ke level yang lebih progresif. Bukan hanya dari sisi usia, tetapi juga dari cara pandang dan pendekatan terhadap persoalan umat.
Dalam lanskap organisasi keagamaan yang semakin kompleks, kata dia, keterlibatan generasi muda tidak lagi bisa ditempatkan sebagai pelengkap. Justru, kehadiran mereka menjadi kebutuhan strategis—terutama dalam merespons perkembangan sosial, budaya, hingga transformasi digital yang terus bergerak cepat.
“Kalau kita ingin Nahdlatul Ulama tetap relevan, maka ruang bagi anak muda harus dibuka selebar-lebarnya. Erick Rebi’in punya peluang itu, dan layak diberi kesempatan untuk melanjutkan,” tegasnya.
Lebih jauh, Cak Moel menekankan bahwa regenerasi bukan berarti mengesampingkan pengalaman. Sebaliknya, ia harus menjadi titik temu antara semangat baru dan kebijaksanaan lama—sebuah kolaborasi yang akan memperkuat fondasi organisasi.
Di sisi lain, ia juga mengingatkan agar proses pergantian kepemimpinan tetap berjalan dalam koridor yang sehat dan demokratis. Menurutnya, soliditas internal harus menjadi prioritas utama, di atas segala kepentingan kelompok.
“Marwah organisasi harus dijaga. Siapapun yang memimpin nanti, harus mampu merangkul semua elemen dan menjaga PCNU tetap solid,” pungkasnya.
Dengan menghangatnya dinamika ini, publik kini menanti arah akhir dari proses regenerasi PCNU Kota Cilegon—apakah akan melahirkan kepemimpinan yang sekadar melanjutkan, atau justru menghadirkan lompatan baru bagi organisasi keagamaan terbesar di Indonesia tersebut.
(Has/Red*)















