CILEGON, WILIP.ID – Suatu pagi di akhir Mei, Wali Kota Cilegon, Robinsar, berjalan menyusuri taman kecil yang dulu sering luput dari pandangan: Taman Kecamatan Jombang, atau yang lebih dikenal warga sebagai Taman Kodok. Sambil ditemani jajaran Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman, Robinsar mengunggah sebuah video ke akun TikTok pribadinya. Dalam video itu, ia mengumumkan rencana besar: mengubah taman kumuh itu menjadi Taman Seni Budaya Cilegon.
Rencana ini bukan sekadar tambal sulam atau proyek mempercantik ruang publik. Ini adalah revitalisasi total, sekaligus reposisi fungsi taman sebagai ruang pertemuan warga dan pusat kebudayaan kota baja itu.
“Taman ini akan kita ubah total. Kita beri identitas baru: Taman Seni Budaya Cilegon,” ujar Robinsar dalam video berdurasi kurang dari semenit itu.
Langkah ini muncul dari keresahan warga yang selama ini merasa kesenian dan budaya lokal tidak punya panggung layak. Para pelaku seni, kata Robinsar, “selalu kesulitan mencari tempat tampil dan berkarya.”
Maka Pemerintah Kota Cilegon menjanjikan lebih dari sekadar rumput yang dipangkas rapi. Desain baru taman ini akan mencakup jogging track bergaya minimalis, arena bermain ramah keluarga, hingga amphitheater terbuka untuk pentas seni. Ruang hijau ini akan ditata ulang sebagai lanskap yang hidup—tempat seniman, keluarga, hingga pemuda kota bisa saling bersua dan tumbuh bersama.
Tak hanya itu, taman juga akan dilengkapi dengan youth center, sebuah ruang kreatif yang disiapkan untuk organisasi kepemudaan dan komunitas anak muda di Cilegon. Di sana, mereka bisa berdiskusi, menyusun program, atau sekadar saling berbagi ide dan gagasan. “Kami ingin anak muda punya tempat berkegiatan yang layak. Ini penting untuk masa depan kota,” kata Robinsar.
Sorotan juga diarahkan pada aspek keamanan. Saat malam hari, taman ini kerap gelap dan rawan, bahkan menjadi tempat berkumpul yang tak produktif. “Penerangan akan kami perbaiki. Kita ingin taman ini jadi ruang yang sehat dan aman bagi siapa saja,” ujarnya.
Detail Engineering Design (DED) taman ditargetkan rampung tahun ini. Pemerintah berambisi memulai pembangunan fisik pada 2026.
Jika janji ini ditepati, Taman Kodok bukan lagi taman kusam yang dijauhi, melainkan ruang urban yang hidup—simbol baru kota yang mulai memberi tempat pada seni, budaya, dan generasi muda.
*Redaksi | Wilip.id*















