Akademisi Alumni Al-Khairiyah Bicara di Forum Internasional, Soroti Masa Depan Pesantren

JAKARTA, WILIP.ID – Nama Al-Khairiyah Karang Tengah kembali harum di forum internasional. Salah satu alumninya, Dr. KH. Hasani Ahmad Said, MA, tampil sebagai narasumber di ajang International Conference on the Transformation of Pesantren (ICTP) 2025 yang digelar oleh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Rabu, 23 Juli 2025 di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta.

Hasani, yang kini menjabat sebagai dosen Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, hadir bersama ratusan tokoh pesantren dan akademisi dari berbagai penjuru Indonesia. Ia menjadi bagian penting dalam forum strategis yang membahas masa depan pesantren dalam menghadapi tantangan zaman.

Pesantren: Menyatukan Tradisi dan Inovasi

Mengangkat tema besar “Pesantren Berkelas Menuju Indonesia Emas: Menyatukan Tradisi, Inovasi, dan Kemandirian”, konferensi ini memetakan arah baru bagi transformasi pesantren sebagai institusi pendidikan tertua dan paling adaptif di Indonesia. PKB, sebagai inisiator, menyatakan komitmennya dalam mengangkat peran pesantren di era globalisasi dan digitalisasi yang kian masif.

Dalam sesi Forum Group Discussion (FGD), para peserta membahas berbagai strategi, mulai dari penguatan kurikulum keislaman, pengembangan wirausaha santri, hingga kemandirian ekonomi lembaga pesantren. Hasani hadir dengan analisis tajam mengenai dialektika intelektual pesantren di tengah perubahan sosial.

“Sejarah awal dan perkembangan tradisi intelektual Islam Nusantara telah menjadi perhatian banyak sarjana dan pengamat. Mereka memberikan analisis yang menunjukkan kecenderungan serupa, meski berbeda dalam pendekatan,” ujar Hasani melalui pesan WhatsApp kepada wartawan.

Inovasi Kontekstual, Kunci Ketahanan Pesantren

Bagi Kiai Hasani, pesantren bukan sekadar institusi pendidikan berbasis tradisi. Ia melihat pesantren sebagai ruang dialektis yang hidup dan progresif.

“Pesantren tidak hanya menjadi pusat transmisi keilmuan klasik, tetapi juga memiliki kapasitas untuk berinovasi secara kontekstual dalam merespons kebutuhan zaman,” tegasnya.

Menurutnya, transformasi tidak berarti menanggalkan tradisi, melainkan menyuntikkan semangat baru dalam kerangka nilai-nilai yang sudah tertanam kuat.

Mimpi Indonesia Emas 2045

ICTP 2025 tak sekadar forum ilmiah. Lebih jauh, konferensi ini memancang visi besar: menjadikan pesantren sebagai salah satu pilar menuju Indonesia Emas 2045. Harapannya, ekosistem pesantren tidak hanya mencetak ulama, tetapi juga wirausahawan, ilmuwan, hingga pemimpin masa depan yang tangguh dan berdaya saing global.

Dengan partisipasi tokoh-tokoh muda seperti Dr. KH. Hasani Ahmad Said, dunia pesantren membuktikan bahwa ia bukan entitas konservatif yang tertinggal zaman, melainkan simpul perubahan yang siap memimpin peradaban.

(Elisa/Red*)