PPP dan Luka Romi: Mardiono Dipuji Jadi Penyelamat Partai Berlambang Kabah

CILEGON, WILIP.ID – Ketua Umum Pengurus Besar (PB) Al-Khairiyah, KH. Ali Mujahidin, menyampaikan ucapan selamat atas terpilihnya Muhammad Mardiono sebagai Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Menurut KH. Ali Mujahidin yang akrab disapa Haji Mumu, terpilihnya Mardiono bukan sekadar soal regenerasi kepemimpinan, melainkan juga penyelamatan partai Islam itu dari cengkeraman masa lalu.

Dalam pernyataannya, Haji Mumu menyinggung secara langsung nama Romahurmuziy alias Romi, mantan Ketua Umum PPP yang pernah dipenjara karena kasus korupsi jual-beli jabatan di Kementerian Agama. Ia menyebut Romi masih menyimpan ambisi politik untuk kembali menguasai PPP, meski statusnya sebagai mantan narapidana dinilai merusak citra partai.

“PPP harus dijaga dari intervensi orang-orang yang pernah mencoreng nama partai. Mardiono telah menunjukkan kegigihannya untuk melindungi Muktamar dari upaya segelintir pihak yang ingin memaksakan kehendak, bahkan dengan cara-cara melanggar AD/ART,” kata Haji Mumu dalam keterangan pers yang diterima wilip.id, Minggu malam, 28 September 2025.

Luka Lama PPP

Sejak kepemimpinan Romi, PPP memang sempat goyah. Skandal jual-beli jabatan di Kementerian Agama yang menyeretnya ke penjara tidak hanya menimbulkan krisis moral, tapi juga meruntuhkan citra PPP menjelang pemilu. “Kalau pengisian jabatan di Kemenag saja bisa jadi arena suap, bagaimana mungkin PPP bisa dipercaya publik?” ujar Haji Mumu retoris.

Ia menilai, kasus itu menjadi titik balik bagi partai berlambang Kabah. PPP yang lahir dari rahim para ulama, menurutnya, harus bebas dari praktik culas. Muktamar sebagai forum tertinggi partai seharusnya dijalankan secara hikmat, bukan diwarnai intrik maupun perebutan kursi kekuasaan.

Penegasan Moral

Haji Mumu menekankan, musyawarah dalam Muktamar adalah amanat organisasi sekaligus ajaran Islam. Namun, ia mengingatkan tidak ada dalil yang membenarkan perusakan forum dengan cara memaksakan ambisi pribadi. “Mengacak-acak Muktamar itu tindakan tidak terpuji, dan bukan akhlak kader PPP,” ujarnya.

Karena itu, ia menilai kader dan simpatisan PPP patut bersyukur atas terpilihnya Mardiono secara aklamasi. Selain karena legitimasi kepemimpinan, PPP kini punya peluang untuk kembali bersih dari bayang-bayang korupsi.

“Ini saatnya PPP lepas dari cengkeraman ambisi kekuasaan mantan napi korupsi. Kita harus mengembalikan PPP pada marwahnya sebagai partai Islam yang amanah,” kata Haji Mumu menutup pernyataannya.

 

(Has/Red*)