Fattulloh Kembali Pimpin IPSI Purwakarta, Siap Satukan 32 Perguruan dan Cetak Atlet Berprestasi

CILEGON, WILIP.ID – Di tengah derasnya arus modernisasi, pencak silat tetap berdiri sebagai identitas budaya yang tak lekang oleh waktu. Di Kecamatan Purwakarta, Kota Cilegon, denyut itu kembali diperkuat lewat terpilihnya Fattulloh sebagai Ketua Ikatan Pencak Silat Seluruh Indonesia (IPSI) periode 2025–2030.

Musyawarah Kecamatan (Muscam) IPSI yang digelar di Kelurahan Purwakarta, Rabu (21/1/2026), bukan sekadar agenda organisasi rutin. Lebih dari itu, forum tersebut menjadi titik konsolidasi 32 perguruan silat yang tersebar di setiap lingkungan Purwakarta. Sebuah peta besar kekuatan budaya yang siap digerakkan menuju prestasi.

Terpilih dengan 18 suara dari total 33 pemilih, Fattulloh kembali dipercaya menahkodai IPSI Purwakarta. Kemenangan tipis dari pesaingnya, Madali, justru mempertegas satu hal: dinamika organisasi berjalan demokratis, terbuka, dan dewasa.

“Ini bukan soal menang atau kalah. Ini soal amanah untuk mempersatukan seluruh perguruan. Tidak ada lagi sekat aliran. Semua adalah keluarga besar IPSI,” ujar Fattulloh.

Selama ini, IPSI kerap dipersepsikan hanya sebagai wadah silaturahmi antarperguruan. Di tangan Fattulloh, paradigma itu hendak diubah. IPSI Purwakarta diarahkan menjadi pusat pembinaan atlet dan laboratorium prestasi.

Program unggulannya sederhana namun strategis: setiap wilayah minimal mengirim dua pesilat muda untuk dibina secara intensif. Mereka akan disiapkan sebagai atlet yang bukan hanya kuat secara teknik, tetapi juga bermental juara.

“Kita ingin anak-anak Purwakarta tampil di kejuaraan kota, provinsi, bahkan nasional. Silat tidak cukup hanya dilestarikan, tapi juga harus berprestasi,” tegasnya.

Semua aliran—Bandrong, Terumbu, TTKKDH, dan lainnya—didorong berkontribusi. Keragaman bukan lagi sumber perbedaan, melainkan kekuatan kolektif.

Sekretaris IPSI Kota Cilegon, Fatur R. Sadeli, melihat kepemimpinan Fattulloh sebagai momentum penting memperkuat peran IPSI dalam pembangunan daerah.

“IPSI harus hadir sebagai mitra pemerintah. Dari kecamatan sampai kelurahan. Kita bicara budaya, kita bicara generasi, kita bicara karakter bangsa,” ujar Fatur.

Menurutnya, perhatian Pemerintah Kota Cilegon terhadap pencak silat kini semakin nyata. Tahun 2026 direncanakan adanya dana pembinaan, bantuan transportasi perguruan, hingga penguatan fasilitas organisasi.

“Pak Wali Kota Robinsar sudah memberi sinyal kuat. Pemerintah ingin silat bukan hanya hidup, tapi tumbuh dan berprestasi,” ungkapnya.

Hal senada disampaikan Ketua IPSI Kota Cilegon, H. Rozak. Ia menyebut pembinaan silat kini mulai masuk dalam prioritas kebijakan olahraga dan budaya daerah.

“Ini bentuk kehadiran negara dalam menjaga warisan leluhur. Silat adalah identitas, bukan sekadar olahraga,” katanya.

Bagi Fattulloh, tantangan terbesar bukan sekadar menyatukan organisasi, melainkan menjaga keseimbangan antara tradisi dan prestasi. Di satu sisi, silat harus tetap menjadi ruang pendidikan karakter. Di sisi lain, ia harus mampu menjawab tuntutan zaman sebagai cabang olahraga kompetitif.

“Kita jaga adab, kita jaga budaya, tapi kita juga harus siap bersaing. Itu ruh kepemimpinan saya lima tahun ke depan,” tutupnya.

Dari Purwakarta, geliat baru pencak silat mulai ditata. Bukan dengan euforia sesaat, melainkan lewat kerja sunyi membangun sistem, membina generasi, dan merajut kolaborasi. Sebab bagi IPSI, silat bukan hanya warisan masa lalu—ia adalah investasi masa depan.

 

(Pis/Red*)