CILEGON, WILIP.ID – Gerakan Mahasiswa Al-Khairiyah (GEMA Al-Khairiyah) Provinsi Banten menegaskan arah baru organisasi. Lewat Musyawarah Wilayah (Musywil) yang digelar di Aula Lantai III STIT Al-Khairiyah, Sabtu (18/4/2026), tongkat estafet kepemimpinan resmi diserahkan—dengan satu pesan kuat: organisasi ini tak sekadar berjalan, tapi siap melaju.
Forum berlangsung kondusif, namun bukan tanpa muatan strategis. Musywil kali ini menjadi titik konsolidasi penting, merumuskan ulang arah gerak sekaligus mempertegas posisi GEMA Al-Khairiyah sebagai motor intelektual dan sosial di Banten.
Ketua Formatur Terpilih, Supardi, menyampaikan metafora yang tak biasa, namun sarat makna.
“Kapal besar GEMA Al-Khairiyah siap dilayarkan,” tegasnya.
Pernyataan itu bukan sekadar simbolik. Ia menjadi sinyal bahwa organisasi ini tengah bersiap memasuki fase baru—lebih progresif, lebih terstruktur, dan lebih berdampak.
Dalam garis besar arah kepemimpinan, GEMA Al-Khairiyah menegaskan komitmennya pada tiga pilar utama: pendidikan, dakwah, dan ekonomi. Namun, pendidikan ditempatkan sebagai fondasi utama—bukan sekadar program, melainkan poros gerakan.
Spirit itu merujuk pada pesan pendiri Al-Khairiyah, Brigjen KH. Syam’un:
“Membangun manusia tidak cukup dengan makan dan minum, tetapi harus dengan ilmu.”
Pesan tersebut kembali diangkat sebagai pengingat bahwa peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) tak bisa ditawar. Di tengah tantangan zaman—digitalisasi, disrupsi sosial, hingga krisis moral—pendidikan menjadi satu-satunya jangkar yang dinilai mampu menjaga arah.
GEMA Al-Khairiyah tidak ingin berhenti sebagai organisasi seremonial. Di bawah kepemimpinan baru, ada dorongan kuat untuk menjadikan gerakan ini lebih relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Isu-isu seperti penguatan ekonomi umat, literasi keagamaan yang moderat, hingga pemberdayaan generasi muda menjadi bagian dari agenda besar yang disiapkan.
Langkah ini sekaligus menjawab kritik klasik terhadap organisasi mahasiswa yang kerap dinilai hanya aktif di forum, namun minim implementasi di lapangan.
Musywil ini menutup bab lama dan membuka lembar baru. Dengan semangat kolektif, GEMA Al-Khairiyah Banten mencoba menyatukan visi—bahwa gerakan tak boleh terfragmentasi.
Penutup yang disampaikan pun sederhana, tapi mengandung ambisi besar:
“Sekali mendayung, semua pulau terlampaui.”
Kalimat itu seolah menjadi janji—bahwa dalam satu gerak yang terarah, perubahan nyata bukan lagi wacana, melainkan target yang siap diwujudkan.
(Has/Red**)















