Seminar Nasional PAI 2026: Bentengi Generasi Muda dari Krisis Karakter Era Digital

CILEGON, WILIP.ID — Di tengah derasnya arus digitalisasi dan perubahan sosial yang kian masif, Pendidikan Agama Islam (PAI) kembali ditegaskan sebagai fondasi utama dalam membangun karakter generasi muda. Isu tersebut mengemuka dalam Seminar Nasional Pendidikan Agama Islam Tahun 2026 yang digelar secara daring melalui Zoom Meeting, Kamis (21/5/2026).

Mengusung tema “PAI Sebagai Basis Pembentukan Karakter Siswa di Era Disrupsi”, seminar ini menjadi ruang diskusi strategis bagi akademisi, dosen, dan mahasiswa dalam merespons tantangan pendidikan di era modern yang serba cepat dan penuh perubahan.

Kegiatan tersebut merupakan hasil kolaborasi sejumlah perguruan tinggi, yakni STIT Al-Khairiyah Cilegon, Universitas Al Azhar Indonesia, Universitas Mathla’ul Anwar Banten, dan Universitas Islam Bandung.

Acara dibuka oleh Wakil Ketua I STIT Al-Khairiyah Cilegon, Faizudin, M.Pd., yang menegaskan bahwa Pendidikan Agama Islam tidak boleh sekadar menjadi mata pelajaran formal di ruang kelas, tetapi harus mampu hadir sebagai instrumen pembentukan moral dan kepribadian peserta didik.

“Di era disrupsi saat ini, tantangan generasi muda bukan hanya soal akademik, tetapi juga krisis nilai dan karakter. Karena itu, PAI harus menjadi pondasi utama dalam membentuk generasi yang religius, berintegritas, dan mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman,” ujarnya.

Seminar nasional ini menghadirkan sejumlah narasumber dari kalangan akademisi dan praktisi pendidikan, di antaranya Dr. Tata Saptayuda Purnama, M.Si dari Universitas Al Azhar Indonesia, Dr. Mumu Zainal Mutaqin, M.Pd dari Universitas Mathla’ul Anwar, Dr. Iwan Sanusi, M.Pd dari Universitas Islam Bandung, serta Dr. Uun Kurnaesih, M.S.I dari STIT Al-Khairiyah Cilegon.

Masing-masing pemateri menyoroti pentingnya transformasi metode pembelajaran PAI agar lebih relevan dengan karakter generasi digital. Pendidikan agama dinilai harus mampu menjawab tantangan globalisasi tanpa kehilangan nilai-nilai moral dan spiritual.

Diskusi berlangsung dinamis dan interaktif. Sebanyak 187 peserta yang terdiri dari mahasiswa dan dosen dari berbagai daerah tampak aktif mengajukan pertanyaan serta pandangan kritis terkait tantangan pendidikan Islam di tengah perkembangan teknologi informasi dan budaya digital.

Ketua Panitia Pelaksana, Wildan Mujahidin, mengatakan seminar ini bukan sekadar forum akademik, melainkan juga upaya membangun sinergi antar lembaga pendidikan Islam untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia yang unggul secara intelektual maupun spiritual.

“Seminar ini diharapkan menjadi ruang kolaborasi dan penguatan wawasan akademik dalam menciptakan generasi yang berkarakter, religius, serta adaptif menghadapi tantangan masa depan,” katanya.

Acara dipandu moderator Kamila Anjaina dan ditutup dengan sesi foto bersama seluruh peserta seminar.

Melalui seminar nasional ini, Pendidikan Agama Islam diharapkan semakin mampu mengambil peran strategis sebagai solusi dalam membentuk karakter siswa yang berakhlak mulia, disiplin, kritis, dan siap menghadapi dinamika zaman di tengah era disrupsi global.

(Has/Red*)