CILEGON, WILIP – Sejumlah pengusaha lokal yang berada di kawasan dekat PT. Krakatau Posco ( KP) melakukan pertemuan untuk konsolidasi menyikapi soal sulitnya peluang usaha yang ada di perusahaan patungan PT Krakatau Steel dengan negara Korea Selatan.
Belakangan para pengusaha lokal sering berkumpul dan membentuk organisasi Himpunan Pengusaha Krakatau Posco (HPKP). Tujuannya untuk menyamakan persepsi dan menjalin kekompakan untuk melakukan protes terhadap manajemen KP yang dinilai arogan.
“Saya ingin mengumpulkan yang tercerai berai, agar bisa kompak, dan bersama-sama menjaga kampung halaman kita. Selanjutnya, kami meminta kepada PT KP membuka peluang usaha seluas-luasnya. Agar efek ekonominya bisa langsung dirasakan oleh masyarakat,” ujar Fahmi, inisiator HPKP, Minggu 7 Januari 2024.
Salah satu yang menjadi pembahasan pertemuan adalah mengenai distribusi pekerjaan, harus merata kepada seluruh pengusaha lokal. Agar para pengusaha lokal ini juga bisa turut menjaga iklim industri yang harmonis dan kondusif.
“Pengusaha lokal bisa dijadikan brand ambassador bagi industri dalam menjaga kondusifitas. Jangan malah sebaliknya, para pengusaha lokal di tinggalkan, dibatasi, malah di akali agar para pengusaha lokal ini tidak berkembang,” kata Fahmi, Minggu 7 Januari 2024.
Mentan ketua CCSR Kota Cilegon ini menambahkan, KP menjadi perusahaan yang separuh saham dimiliki PT Krakatau Steel harus bisa membina para pengusaha lokal, karena ada amanat negara. Jadi harus melahirkan pengusaha-pengusaha yang kuat dan bisa tumbuh bersama KP.
“Sejak KP beroperasi, tiga belas tahun lalu, masih sangat tertutup dalam kaitannya memberikan peluang usaha bagi pengusaha lokal. Malah belakangan cara direksi mengelola managerial komunikasi nya semakin memburuk. Kita mau bertemu, sudah bersurat, WhatsApp, dan telpon saja tidak ada yang pernah dijawab,” ungkap Fahmi.
Fahmi menyoroti, persoalan pekerjaan sulit untuk sekadar komunikasi. Surat-surat tidak pernah ada yang dijawab. Padahal Direksi SDM dan GA adalah orang Indonesia perwakilan PT Krakatau Steel.
“Ini mengecewakan sekali. Belum lagi tender-tender yang dijalankan juga tertutup, membuat kita saling curiga dan bertanya soal aspek kebenaran aspek fairnes nya. Jangan-jangan management juga turut bermain dalam mengkondisikan setiap pekerjaan. Karena sudah beberapa kali ada pekerjaan cleaning indoor juga tidak pernah ditender, tetapi ditunjuk langsung kepada anak perusahaannya saja. Ini yang menciderai aspek keadilan,” kata Fahmi.
Di tempat yang sama, Ketua HIPMI Baja Kota Cilegon M. Sofian menyebut manajemen KP jangan mengambil langkah yang membuat suasana memburuk dengan mengadu domba antara pengusaha lokal.
“Kita harus jaga iklim kondusifitas yang sudah terjaga ini. Jangan tertutup direksinya. Temui para pengusaha lokal. Ajak bicara. Dicarikan solusinya yang maju secara bersama-sama,” kata Sofian.
Harapannya manajemen PT KP segera membuka akses komunikasinya kepada para pengusaha lokal. Agar tercipta iklim yang kondusif yang telah lama terbangun antara masyarakat dengan industri.















