Cak Moel Soroti Kursi Komisaris Krakatau POSCO, Minta BUMN Utamakan Ahli Industri Baja

CILEGON, WILIP.ID – Penunjukan Mufli Budi Ananda sebagai Komisaris PT Krakatau POSCO memantik beragam respons dari kalangan pelaku usaha di Kota Cilegon. Sosok yang dikenal sebagai asisten publik figur Raffi Ahmad itu kini masuk dalam jajaran komisaris perusahaan baja hasil kerja sama PT Krakatau Steel dan perusahaan asal Korea Selatan, POSCO.

Berdasarkan informasi yang beredar pada Sabtu, 27 Juni 2026, Mufli Budi Ananda dipercaya mengisi posisi komisaris mendampingi Komisaris Utama Brigjen TNI Bambang Sudono Sastroprawiro. Sementara jabatan Presiden Direktur tetap dipegang Kim Young-Joong.

Sorotan terhadap penunjukan tersebut datang dari Wakil Ketua Kadin Kota Cilegon, Mulyadi Sanusi atau yang akrab disapa Cak Moel. Menurutnya, pengisian jabatan strategis di perusahaan industri baja seharusnya mempertimbangkan kompetensi serta pengalaman di sektor yang bersangkutan.

“Rasulullah SAW telah mengingatkan, apabila suatu urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancurannya. Pesan itu menjadi pengingat bahwa profesionalisme harus menjadi landasan utama dalam setiap penunjukan,” ujar Cak Moel, Minggu, 28 Juni 2026 dalam keterangan pers yang diterima wilip.id.

Ia menilai, Kementerian BUMN semestinya memberi ruang yang lebih besar kepada sumber daya manusia lokal, khususnya putra-putri Banten yang telah lama berkecimpung di industri baja nasional.

“Banten, terutama Cilegon, adalah kota industri baja. Banyak putra daerah yang memiliki pengalaman, memahami proses produksi, pemasaran baja, hingga dinamika industri. Potensi seperti ini seharusnya menjadi pertimbangan dalam menentukan komisaris di perusahaan strategis,” katanya.

Menurut Cak Moel, keberadaan figur lokal bukan semata persoalan representasi daerah, tetapi juga menyangkut pemahaman terhadap karakter industri yang menjadi denyut ekonomi Cilegon.

Ia menegaskan bahwa kritik tersebut bukan ditujukan kepada pribadi Mufli Budi Ananda, melainkan sebagai bentuk masukan agar proses pengisian jabatan di badan usaha strategis dilakukan secara lebih transparan, profesional, dan berbasis kompetensi.

“Yang kami dorong adalah penghargaan terhadap kapasitas. Banyak tokoh Banten yang memiliki rekam jejak panjang di industri baja. Mereka memahami persoalan dari hulu hingga hilir. SDM seperti inilah yang semestinya mendapat kesempatan mengawal arah kebijakan perusahaan,” ujarnya.

Bagi kalangan dunia usaha di Cilegon, Krakatau POSCO bukan sekadar perusahaan patungan, melainkan salah satu simbol kekuatan industri baja nasional. Karena itu, setiap keputusan strategis, termasuk penempatan komisaris, diharapkan mampu memperkuat tata kelola perusahaan sekaligus memberikan kepercayaan kepada masyarakat bahwa profesionalisme tetap menjadi prioritas utama.

(Has/Red*)