CILEGON, WILIP.ID — Memasuki usia ke-15 tahun, Yakesma di Cilegon menegaskan posisinya bukan sekadar sebagai lembaga penghimpun zakat, infak, dan sedekah, melainkan sebagai institusi filantropi yang ingin hadir lebih dekat dengan kebutuhan nyata masyarakat. Fokus itu ditegaskan dalam peringatan Milad ke-15 Yakesma Cilegon yang berlangsung di Kantor Unit Layanan Yakesma Cilegon, di Citangkil, Sabtu (4/7/2026), dengan penekanan pada penguatan program beasiswa bagi anak yatim dan dhuafa serta perluasan kolaborasi dengan dunia industri.
Perayaan milad tersebut berlangsung hangat dan khidmat, tetapi substansi yang dibawa jauh melampaui seremoni. Di tengah kebutuhan pendidikan yang terus meningkat dan tantangan sosial yang makin kompleks, Yakesma Cilegon ingin memastikan kehadirannya benar-benar menjadi jembatan harapan bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera agar tetap bisa mengakses pendidikan yang layak.
Mewakili Dewan Pembina Yakesma Cilegon, Budi Susanto menilai usia 15 tahun merupakan fase penting bagi lembaga sosial untuk mempertegas arah, memperkuat branding, dan memperluas jangkauan manfaat. Menurut dia, Yakesma harus terus dibesarkan bersama agar semakin dikenal sebagai lembaga filantropi yang serius menggarap isu kemanusiaan dan pendidikan di Kota Cilegon.
“Harapannya, anak-anak terus meningkatkan prestasi belajarnya. Kelak ketika tumbuh dan berkembang, mereka bisa menjadi generasi yang maju, mandiri, dan bermanfaat. Yakesma juga perlu kita dukung bersama, kita perkenalkan, kita branding, supaya semakin banyak masyarakat yang tahu bahwa di Cilegon ada lembaga filantropi yang serius mengurus beasiswa dan kegiatan kemanusiaan,” ujar Budi.
Pernyataan itu menegaskan satu hal: Yakesma tidak ingin hanya dikenal sebagai penyalur bantuan, tetapi sebagai lembaga yang ikut membangun masa depan. Dalam perspektif itu, beasiswa bukan sekadar bantuan biaya sekolah, melainkan investasi jangka panjang untuk melahirkan sumber daya manusia yang kuat secara akademik, matang secara sosial, dan memiliki kepedulian terhadap lingkungan sekitarnya.

Ia menjelaskan, program beasiswa hingga kini masih menjadi prioritas utama Yakesma Cilegon. Saat ini, Yakesma mendampingi penerima beasiswa lanjutan untuk jenjang SMA dan perguruan tinggi. Jumlahnya memang belum besar, tetapi dinilai cukup strategis untuk membuka jalan bagi anak-anak yatim dan dhuafa agar bisa melanjutkan pendidikan hingga lulus sekolah bahkan masuk perguruan tinggi.
“Beasiswa lanjutan untuk mahasiswa saat ini sekitar empat sampai enam orang. Untuk tingkat SMA sekitar 10 orang, dan mereka kita dampingi sampai lulus. Harapannya ke depan ada tambahan kuota, sehingga semakin banyak anak-anak yatim dan dhuafa di Kota Cilegon yang bisa merasakan manfaat program ini,” kata Fatahila.
Di balik komitmen itu, Yakesma mengakui masih ada tantangan besar yang harus dihadapi, terutama soal perluasan dukungan dari kalangan industri. Sebagai kota industri, Cilegon sejatinya memiliki potensi besar untuk membangun ekosistem kolaborasi antara lembaga filantropi dan perusahaan melalui program tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL/CSR). Namun, dukungan tersebut dinilai belum optimal.
Padahal, kebutuhan penguatan akses pendidikan bagi kelompok rentan tidak bisa hanya dibebankan pada satu pihak. Dunia usaha, pemerintah, masyarakat, dan lembaga sosial semestinya bertemu dalam agenda bersama: memastikan pertumbuhan ekonomi kota juga diikuti pemerataan manfaat sosial. Di titik inilah Yakesma melihat kolaborasi sebagai kata kunci.
Fatahila mengatakan, komunikasi dengan sejumlah perusahaan swasta, BUMN, maupun BUMD terus dibangun. Legalitas kelembagaan serta proposal kerja sama telah disampaikan. Langkah itu dilakukan agar ruang kolaborasi bisa terbuka lebih luas dan program-program sosial, terutama beasiswa, dapat diperkuat secara berkelanjutan.
“Dukungan industri hari ini memang belum maksimal, tapi kami terus membangun komunikasi dan koordinasi. Kami berharap ke depan industri-industri di Kota Cilegon bisa berkolaborasi bersama Yakesma untuk memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat, terutama anak-anak yatim dan dhuafa yang membutuhkan dukungan pendidikan,” ujarnya.
Pesan tersebut penting dibaca dalam konteks Cilegon hari ini. Di tengah geliat investasi dan pertumbuhan industri, kebutuhan akan pemerataan akses pendidikan, perlindungan sosial, dan penguatan kualitas sumber daya manusia tetap menjadi pekerjaan rumah yang belum selesai. Pertumbuhan ekonomi, seberapa pun tinggi angkanya, akan terasa timpang jika kelompok rentan masih kesulitan menjangkau pendidikan yang layak.
Di sinilah peran lembaga filantropi seperti Yakesma menjadi strategis. Lembaga ini bukan hanya menyalurkan bantuan, tetapi juga berupaya menjembatani semangat gotong royong antara donatur, relawan, masyarakat, dan dunia usaha agar manfaat pembangunan tidak berhenti di angka-angka makro, melainkan benar-benar menyentuh kehidupan warga yang membutuhkan.
Momentum Milad ke-15 juga menghadirkan suara dari para penerima manfaat. Salah satunya disampaikan Farah Ayu Amanina, relawan sekaligus penerima manfaat Yakesma yang kini menempuh pendidikan di UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten. Di hadapan para tamu undangan, Farah menyampaikan rasa syukur atas kesempatan yang ia terima, sekaligus refleksi tentang arti penting kehadiran lembaga sosial dalam menopang masa depan generasi muda.

Menurut Farah, kesempatan mengenyam pendidikan tidak datang begitu saja. Ada banyak tangan yang bekerja, banyak kepedulian yang terlibat, dan banyak ikhtiar yang diam-diam menopang langkah para penerima beasiswa untuk tetap bertahan di jalur pendidikan. Karena itu, kepercayaan yang diberikan Yakesma harus dijawab dengan kesungguhan, tanggung jawab, dan prestasi.
“Kami belajar bahwa setiap perjalanan dan bertambahnya usia adalah pengingat untuk terus tumbuh dan memberikan manfaat yang lebih besar. Semangat itu menjadi motivasi bagi kami untuk terus berjuang dalam pendidikan dan meraih cita-cita. Kami sadar, di balik kesempatan ini ada banyak pihak yang bekerja keras dan peduli pada masa depan generasi muda,” ujar Farah.
Ia juga menyampaikan ucapan selamat milad untuk Yakesma Cilegon, seraya berharap lembaga tersebut terus berkembang, menginspirasi, dan menjadi tempat lahirnya generasi-generasi hebat yang kelak memberi manfaat bagi masyarakat. Ucapan itu sederhana, tetapi memuat pesan kuat bahwa kerja filantropi sejatinya bukan semata soal angka bantuan, melainkan tentang menyalakan harapan dan membuka masa depan.
Milad ke-15 Yakesma Cilegon pada akhirnya memperlihatkan wajah sebuah lembaga yang sedang mempertegas arah. Yakesma ingin tumbuh sebagai rumah kolaborasi, rumah kepedulian, sekaligus rumah masa depan bagi anak-anak yatim dan dhuafa. Di usia yang tak lagi muda, tantangan yang dihadapi tentu makin besar, tetapi justru pada titik itulah Yakesma sedang mengirim pesan bahwa filantropi harus bergerak lebih strategis, terukur, dan berdampak.
Ketika beasiswa ditempatkan sebagai prioritas, ketika anak-anak yatim dan dhuafa dijadikan pusat perhatian, dan ketika kolaborasi dengan industri terus diperjuangkan, maka Milad ke-15 Yakesma bukan sekadar perayaan usia. Momentum ini adalah penegasan arah bahwa merawat manusia dan kemanusiaan harus dilakukan secara berkelanjutan—dengan kerja nyata, keberanian berinovasi, dan komitmen untuk tetap hadir di tengah masyarakat.
(Has/Red*)















