Ta’aruf Al-Khairiyah 2026, Menjaga Warisan KH Syam’un di Tengah Tantangan Zaman

CILEGON, WILIP.ID – Di tengah arus perubahan yang semakin cepat, Al-Khairiyah memilih untuk tetap berpijak pada akar sejarahnya. Melalui kegiatan Ta’aruf atau pengenalan kampus yang diikuti 390 mahasiswa baru Universitas Al-Khairiyah (Unival) dan Institut Agama Islam Al-Khairiyah (Instal), lembaga pendidikan yang lahir dari rahim perjuangan Brigjen KH Syam’un itu kembali menegaskan komitmennya dalam membangun generasi berkarakter, religius, dan berdaya guna bagi masyarakat.

Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, 17 hingga 19 Agustus 2026, di Gedung Serba Guna Al-Khairiyah, Citangkil, Kota Cilegon, mengusung tema “Membentuk Generasi Hijau, Berkarakter, Berinovasi dan Berdampak untuk Kampus Berkelanjutan.”

Tema tersebut tidak sekadar menjadi slogan seremonial penyambutan mahasiswa baru. Di baliknya tersimpan pesan tentang arah pembangunan sumber daya manusia yang ingin diwujudkan Al-Khairiyah: generasi yang mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan identitas dan nilai-nilai keislaman.

Ketua Panitia Ta’aruf, Ahmad Alawi, mengatakan kegiatan ini menjadi pintu masuk bagi mahasiswa baru untuk mengenal kehidupan akademik sekaligus memahami budaya dan nilai-nilai yang tumbuh di lingkungan Al-Khairiyah.

Menurut dia, mahasiswa tidak cukup hanya dibekali kemampuan akademik. Mereka juga dituntut memiliki kepedulian terhadap lingkungan, kemampuan berinovasi, serta kepekaan sosial yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat luas.

“Tema yang diusung bukan hanya rangkaian kata-kata. Ini merupakan komitmen untuk melahirkan mahasiswa yang memiliki karakter kuat, peduli lingkungan, inovatif, dan mampu memberi dampak positif bagi sekitarnya,” kata Alawi, Senin (17/8/2026).

Dari total peserta, sebanyak 300 mahasiswa tercatat sebagai mahasiswa baru Unival, sementara 90 lainnya berasal dari Instal.

Rektor Institut Agama Islam Al-Khairiyah, Ahmad Munji, menegaskan bahwa Al-Khairiyah tidak sekadar hadir sebagai institusi pendidikan tinggi yang berorientasi pada capaian akademik.

Baginya, Al-Khairiyah merupakan bagian dari gerakan pendidikan Islam yang memiliki tanggung jawab menjaga dan meneruskan nilai-nilai keislaman yang diwariskan para pendirinya.

“Kampus ini bukan hanya tempat belajar ilmu pengetahuan, tetapi juga ruang untuk menumbuhkan dan menghidupkan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Munji mengingatkan mahasiswa baru agar menjaga etika, cara berkomunikasi, perilaku, hingga aktivitas di media sosial. Menurutnya, identitas seorang mahasiswa Al-Khairiyah harus tercermin tidak hanya di ruang kelas, tetapi juga dalam kehidupan sosial.

Ia menekankan bahwa nilai-nilai ke-Al-Khairiyahan tidak boleh berhenti sebagai teori yang diajarkan dosen di ruang perkuliahan. Nilai tersebut harus menjelma menjadi budaya dan karakter yang hidup di tengah kehidupan kampus.

Sementara itu, Rektor Universitas Al-Khairiyah, Rafiudin, menyoroti pentingnya semangat pengabdian sebagai ruh utama pendidikan di lingkungan Al-Khairiyah.

Menurutnya, seluruh elemen kampus, mulai dari dosen, tenaga kependidikan hingga mahasiswa, memiliki tanggung jawab yang sama untuk mengabdi dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Yang paling penting di Al-Khairiyah adalah pengabdian. Semangat itu yang harus dijaga dan diwariskan,” kata Rafiudin.

Ia mengajak mahasiswa baru menghormati para dosen yang memilih mengabdikan ilmu dan waktunya di Al-Khairiyah. Pengabdian, kata dia, menjadi modal utama yang membuat lembaga pendidikan ini terus tumbuh dan bertahan hingga sekarang.

Ta’aruf tahun ini juga menjadi momentum untuk mengenalkan kembali sejarah panjang Al-Khairiyah kepada generasi muda.

Rafiudin mengingatkan mahasiswa bahwa Al-Khairiyah lahir dari perjuangan Brigjen KH Syam’un, ulama sekaligus pejuang nasional asal Banten yang telah meletakkan fondasi pendidikan Islam jauh sebelum Indonesia merdeka.

Pada 1916, KH Syam’un mendirikan pesantren sebagai pusat pendidikan dan dakwah. Perjuangan itu berlanjut dengan berdirinya Madrasah Al-Khairiyah pada 1925, kemudian berkembang melalui Nahdah Syubbanul Muslimin pada 1930 hingga menjadi organisasi Al-Khairiyah yang dikenal saat ini.

Lebih dari satu abad kemudian, jejak perjuangan tersebut telah meluas ke berbagai daerah di Indonesia. Al-Khairiyah kini memiliki lebih dari 600 cabang yang tersebar di sedikitnya 11 provinsi.

Warisan itulah yang ingin diperkenalkan kepada mahasiswa baru. Bukan sekadar sebagai catatan sejarah, melainkan sebagai sumber inspirasi untuk melanjutkan perjuangan melalui pendidikan, inovasi, dan pengabdian kepada masyarakat.

Melalui Ta’aruf 2026, Al-Khairiyah berupaya menanamkan kesadaran bahwa kehidupan kampus bukan hanya soal mengejar gelar dan prestasi akademik.

Lebih dari itu, mahasiswa diharapkan tumbuh menjadi generasi yang memiliki kepedulian sosial, menjaga nilai-nilai keislaman, mencintai lingkungan, serta mampu menghadirkan solusi bagi persoalan masyarakat.

Di tengah tantangan era digital dan perubahan sosial yang terus bergerak cepat, Al-Khairiyah memilih untuk tetap setia pada nilai-nilai dasar yang diwariskan para pendirinya. Dari kampus ini, semangat perjuangan KH Syam’un terus dirawat, diteruskan, dan ditanamkan kepada generasi muda agar lahir insan-insan yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berkarakter dan memberi manfaat bagi bangsa.

(Has/Red*)