Mahasiswa KKM IAI Al-Khairiyah Bergerak, Bentengi Anak Sekolah dari Ancaman Bullying

SERANG, WILIP.ID – Perundungan atau bullying masih menjadi ancaman nyata di dunia pendidikan. Berawal dari ejekan yang dianggap sepele, tindakan tersebut kerap berujung pada luka batin yang membekas, hilangnya rasa percaya diri, hingga terganggunya tumbuh kembang anak. Kondisi inilah yang mendorong Mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Kelompok 05 Institut Agama Islam (IAI) Al-Khairiyah untuk mengambil aksi nyata.

Dipimpin Ketua Kelompok Gilang Dwi Nugroho bersama 11 anggota, mahasiswa KKM menggelar sosialisasi bertajuk “Bersama Kita Bisa Stop Bullying” di SDN Sumuranja 1 dan SDN Sumuranja 2, Kabupaten Serang, Sabtu (1/8/2026).

Kegiatan yang dimulai pukul 08.00 WIB itu bukan sekadar memenuhi program kerja KKM. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi bentuk kepedulian mahasiswa terhadap masa depan anak-anak yang berhak tumbuh dalam lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan bebas dari rasa takut.

Dengan pendekatan yang komunikatif dan menyenangkan, Kak Ihan selaku narasumber mengajak para siswa memahami bahwa bullying bukanlah bahan candaan ataupun tradisi yang harus dimaklumi. Melalui permainan edukatif, diskusi interaktif, dan sesi tanya jawab, para siswa diajak mengenali berbagai bentuk perundungan, mulai dari kekerasan verbal, fisik, hingga pengucilan sosial yang sering kali luput dari perhatian.

Suasana kelas berubah hidup. Gelak tawa terdengar saat permainan berlangsung, namun di balik keceriaan itu terselip pesan mendalam bahwa setiap ucapan dan tindakan memiliki dampak bagi orang lain.

Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Nurdiyanto, M.Pd., menegaskan bahwa membangun karakter anak tidak bisa menunggu hingga mereka dewasa. Pendidikan tentang empati, kepedulian, dan saling menghargai harus dimulai sejak dini.

“Bullying bukan persoalan kecil. Sekali dibiarkan, dampaknya bisa memengaruhi masa depan anak. Karena itu, kami ingin menanamkan keberanian kepada siswa untuk saling menghormati, tidak menjadi pelaku, tidak diam ketika melihat perundungan, dan berani melapor kepada guru,” ujarnya.

Pesan tersebut diperkuat oleh para mahasiswa KKM melalui contoh-contoh sederhana yang dekat dengan kehidupan anak-anak. Mereka mengajak siswa membiasakan berkata santun, menghargai perbedaan, membantu teman yang sedang kesulitan, serta tidak menertawakan kekurangan orang lain.

Antusiasme peserta terlihat sejak awal hingga akhir kegiatan. Para siswa aktif menjawab pertanyaan, berbagi pengalaman, hingga berani mengungkapkan pendapat mereka tentang pentingnya saling menghormati di lingkungan sekolah. Respons positif juga datang dari pihak sekolah yang mengapresiasi kepedulian mahasiswa terhadap isu perlindungan anak.

Bagi Mahasiswa KKM Kelompok 05 IAI Al-Khairiyah, perubahan besar selalu berawal dari langkah kecil. Menanamkan nilai empati kepada anak-anak hari ini diyakini akan melahirkan generasi yang lebih peduli, berkarakter, dan mampu menciptakan lingkungan belajar yang sehat.

Gerakan “Bersama Kita Bisa Stop Bullying” menjadi bukti bahwa mahasiswa tidak hanya hadir sebagai insan akademik, tetapi juga sebagai agen perubahan yang membawa solusi nyata bagi masyarakat. Sebab, menghentikan bullying bukan hanya tugas guru dan orang tua, melainkan tanggung jawab bersama.

Dari ruang-ruang kelas sederhana di Sumuranja, sebuah pesan penting kembali digaungkan: tidak ada tempat bagi bullying di sekolah. Karena setiap anak berhak belajar, tumbuh, dan bermimpi tanpa rasa takut.

(Has/Red*)