SERANG, WILIP.ID – Gerakan Pramuka tidak cukup hanya hadir dalam seremoni tahunan. Di tengah perubahan zaman yang bergerak cepat, organisasi kepanduan ini dituntut semakin aktif membentuk karakter generasi muda sekaligus mengambil peran dalam berbagai agenda pembangunan.
Pesan itu mengemuka dalam Peringatan Hari Pramuka Tingkat Provinsi Banten yang digelar di Lapangan Sekretariat Daerah (Setda) Provinsi Banten, Selasa (18/8/2026).
Dalam momentum tersebut, Wakil Wali Kota Cilegon sekaligus Wakil Ketua Majelis Pembimbing Cabang (Waka Mabicab) Kwartir Cabang Gerakan Pramuka Kota Cilegon, Fajar Hadi Prabowo, menerima Penghargaan Pancawarsa III.
Penghargaan tersebut menjadi bentuk apresiasi atas kontribusi dan pengabdian Fajar dalam mendukung perjalanan serta pengembangan Gerakan Pramuka.
Penghargaan Pancawarsa III tersebut disematkan langsung oleh Gubernur Banten sekaligus Ketua Majelis Pembimbing Daerah (Mabida) Gerakan Pramuka Banten, Andra Soni. Penyematan penghargaan itu menjadi salah satu momen penting dalam rangkaian peringatan Hari Pramuka tingkat Provinsi Banten.
Bagi Fajar, penghargaan itu bukan sekadar pencapaian pribadi. Lebih dari itu, Pancawarsa III menjadi pengingat bahwa pengabdian di dalam organisasi membutuhkan konsistensi, sekaligus tanggung jawab untuk terus memberikan manfaat.
“Alhamdulillah, hari ini kita bisa hadir dalam rangkaian peringatan Hari Pramuka. Ini menjadi momentum yang luar biasa bagi keluarga besar Pramuka, khususnya di Banten,” ujar Fajar.
Fajar juga menyampaikan apresiasi terhadap perhatian dan dukungan Kwartir Daerah (Kwarda) Gerakan Pramuka Banten terhadap Kwartir Cabang (Kwarcab) Kota Cilegon.
Menurut dia, perhatian tersebut menunjukkan bahwa penguatan Gerakan Pramuka tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri. Dibutuhkan kolaborasi antara pengurus, pemerintah, pembina, keluarga, dan masyarakat agar kegiatan kepramukaan benar-benar menyentuh generasi muda.
Bagi Fajar, wajah Pramuka hari ini tidak semestinya berhenti pada kegiatan baris-berbaris, perkemahan, atau seremoni organisasi.
Pramuka harus menjadi ruang pembelajaran yang membentuk mentalitas dan karakter anak sejak usia dini.
“Kalau kita didik sejak dini, maka mentalitas dan karakter itu pasti akan terbentuk,” katanya.
Pernyataan tersebut menjadi penting di tengah tantangan generasi muda yang semakin kompleks. Perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi membuat pembentukan karakter tidak cukup hanya mengandalkan pendidikan formal.
Nilai kedisiplinan, keberanian, gotong royong, kepemimpinan, kemandirian, dan kepedulian terhadap lingkungan merupakan modal sosial yang relevan untuk terus ditanamkan kepada generasi muda.
Fajar bahkan melihat kegiatan peringatan Hari Pramuka sebagai momentum untuk memastikan gerakan tersebut tetap hidup di tengah masyarakat.
Menurut dia, Pramuka harus mampu menciptakan aktivitas yang menarik, mendidik, sekaligus memberi pengalaman nyata kepada anak-anak dan remaja.
Dalam kesempatan itu, Fajar juga menyinggung agenda besar Gerakan Pramuka di Banten, termasuk kegiatan Jambore Nasional.
Ia menyebut Banten mengirimkan sekitar 400 peserta dalam kegiatan tersebut. Agenda itu dinilai menjadi kesempatan penting bagi anggota Pramuka Banten untuk memperluas pengalaman, membangun jejaring, sekaligus menunjukkan kapasitas generasi muda daerah.
Fajar menilai keterlibatan anak-anak dalam berbagai kegiatan Pramuka juga menjadi ruang pembelajaran yang efektif.
Ia mencontohkan keterlibatan anak-anak dari Cilegon dalam rangkaian acara. Ada yang tampil mengisi kegiatan hingga dipercaya membacakan doa.
Bagi Fajar, keberanian tampil di depan publik merupakan bagian penting dari proses pembentukan karakter.
“Masya Allah, anak-anak ini masih kecil tetapi sudah memiliki keberanian. Itulah Pramuka. Kalau sejak dini dibina, mental dan karakter mereka akan terbentuk,” ujarnya.
Pesan itu sekaligus menunjukkan bahwa Pramuka tidak harus selalu tampil dengan pendekatan yang kaku. Justru, kegiatan yang kreatif dan memberi ruang kepada anak untuk berekspresi menjadi salah satu cara agar organisasi ini tetap dekat dengan generasi muda.
Ke depan, Fajar mendorong Kwarda Banten dan seluruh Kwarcab agar memperbanyak aktivasi kegiatan yang menyentuh anggota sejak usia dini.
Ia menilai keberadaan Pramuka harus terus dirawat, tetapi pada saat yang sama perlu dilakukan inovasi agar organisasi tidak kehilangan relevansinya.
“Sebagai bagian dari Kwarda Banten, kita harus fokus pada aktivasi kegiatan sejak mereka dini. Karakternya harus dibentuk,” tutur Fajar.
Menurut dia, Pramuka merupakan bagian dari perjalanan bangsa dan memiliki nilai yang sejalan dengan semangat Pancasila.
Karena itu, keberadaan Gerakan Pramuka harus dijaga bersama. Bukan hanya oleh pengurus organisasi, tetapi juga pemerintah, orang tua, sekolah, dan masyarakat.
Peringatan Hari Pramuka tahun ini pun menjadi pengingat bahwa organisasi tersebut masih memiliki pekerjaan besar: memastikan generasi muda tidak hanya cakap secara akademik dan digital, tetapi juga memiliki karakter, keberanian, kepedulian, dan rasa tanggung jawab.
Di tengah derasnya perubahan zaman, Pramuka dituntut tidak sekadar bertahan.
Pramuka harus bergerak, beradaptasi, dan hadir lebih dekat dengan generasi muda.
Bagi Fajar Hadi Prabowo, penghargaan Pancawarsa III yang disematkan Gubernur Banten Andra Soni bukan garis akhir dari sebuah pengabdian. Justru sebaliknya, penghargaan itu menjadi energi baru untuk terus mendorong Gerakan Pramuka, khususnya di Banten dan Kota Cilegon, agar semakin aktif membentuk generasi muda yang berkarakter dan siap menjadi bagian dari masa depan bangsa.
(Has/Red*)















