Beasiswa Cilegon Juare Dipertanyakan, Warga Soroti Lemahnya Sosialisasi

CILEGON, WILIP.ID — Program Beasiswa Cilegon Juare bukan hanya soal anggaran dan jumlah penerima. Ada persoalan lain yang tak kalah penting: seberapa luas informasi program tersebut diketahui anak-anak Kota Cilegon yang menjadi sasaran?

Pertanyaan itu disampaikan Iman Budiman, warga Kota Cilegon, setelah anaknya, Arya Mandalika Budiman, diterima di Institut Pertanian Bogor (IPB), Program Studi Kimia, melalui jalur tes.

Arya merupakan mahasiswa baru pada tahun ini. Namun, di tengah kebanggaan atas keberhasilan sang anak menembus salah satu perguruan tinggi negeri ternama, Iman justru mengaku belum mengetahui secara jelas mekanisme untuk mengakses Beasiswa Cilegon Juare.

“Kalau Cilegon Juare untuk anak Kota Cilegon yang diterima di sekolah negeri katanya dapat tunjangan, benar tidak?” kata Iman, Senin, 31 Agustus 2026 kepada wilip.id.

Pertanyaan tersebut sekaligus memperlihatkan adanya celah informasi di tengah program bantuan pendidikan yang telah disiapkan pemerintah daerah.

Iman mengaku belum memahami secara rinci prosedur pendaftaran, persyaratan, maupun mekanisme pengajuan bagi mahasiswa asal Cilegon yang kuliah di luar daerah.

“Anak saya keterima di IPB jalur tes, jurusan Kimia. Saya ingin tahu prosedur mendapatkan beasiswa Cilegon Juare ?” ujarnya.

Menurut Iman, persoalan sosialisasi menjadi penting karena tidak sedikit anak asal Cilegon yang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi di luar kota.

“Banyak anak-anak Kota Cilegon yang kuliah di luar Kota Cilegon. Tapi sepertinya informasinya kurang sampai ke masyarakat,” kata dia.

Ia berharap Pemerintah Kota Cilegon tidak hanya menyediakan program, tetapi juga memastikan informasi mengenai program tersebut sampai kepada calon penerima.

“Kurang disosialisasikan oleh Pemkot,” ujarnya.

Beasiswa Cilegon Juare sebelumnya telah menyasar mahasiswa asal Kota Cilegon, termasuk mahasiswa berprestasi dan mahasiswa dari keluarga kurang mampu. Pada pelaksanaan sebelumnya, pemerintah daerah mengalokasikan anggaran Rp3 miliar dan menyalurkan beasiswa kepada 511 mahasiswa di 22 perguruan tinggi mitra, termasuk IPB.

Pemerintah juga menyediakan portal SICERDAS untuk mendukung penyampaian informasi, pendaftaran, dan proses verifikasi secara daring.

Namun bagi masyarakat, keberadaan situs atau kanal informasi belum tentu berarti persoalan sosialisasi selesai.

Informasi program publik harus hadir di tempat calon penerima berada: sekolah, kampus, orang tua, hingga lingkungan masyarakat.

Terlebih bagi siswa yang baru saja lulus SMA atau sederajat dan kemudian diterima di perguruan tinggi luar daerah. Mereka mungkin mengetahui nama programnya, tetapi belum tentu memahami siapa yang berhak menerima, kapan pendaftaran dibuka, bagaimana prosedurnya, dan dokumen apa yang harus disiapkan.

Di sinilah efektivitas sosialisasi menjadi penting.

Sebuah program beasiswa bisa memiliki anggaran besar dan mekanisme yang jelas. Tetapi jika informasi tidak menjangkau calon penerima secara merata, peluang terjadinya kesenjangan akses tetap terbuka.

Kasus Arya setidaknya menjadi pengingat bahwa informasi mengenai bantuan pendidikan perlu disampaikan secara aktif.

Pemerintah daerah dapat memperkuat sosialisasi melalui sekolah-sekolah, perguruan tinggi, media sosial resmi, kelurahan, kecamatan, hingga forum orang tua dan masyarakat.

Informasi yang disampaikan pun tidak cukup hanya berupa pengumuman bahwa program beasiswa tersedia.

Calon penerima perlu mengetahui secara sederhana: siapa yang berhak, berapa bantuannya, apa syaratnya, kapan pendaftarannya, bagaimana cara mendaftar, dan ke mana harus bertanya jika mengalami kendala.

Dengan cara itu, masyarakat tidak harus mencari-cari informasi sendiri setelah anak mereka diterima di perguruan tinggi.

Persoalan yang disampaikan Iman pada akhirnya bukan sekadar tentang satu mahasiswa bernama Arya Mandalika Budiman.

Ini menyangkut pertanyaan yang lebih luas: apakah seluruh anak Cilegon yang memiliki hak dan memenuhi persyaratan sudah memperoleh informasi yang sama?

Sebab dalam program bantuan pendidikan, akses pertama bukan selalu uang.

Dan ketika informasi belum sampai kepada mereka yang membutuhkan, pemerintah masih memiliki pekerjaan rumah dalam memastikan Beasiswa Cilegon Juare benar-benar hadir hingga ke pintu setiap calon penerima.

Sementara itu Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Pemerintah Kota Cilegon, H. Rahmatullah, memberikan penjelasan mengenai persoalan tersebut.

Rahmatullah mengatakan pendaftaran atau pembukaan Beasiswa Cilegon Juare direncanakan berlangsung pada minggu kedua bulan ini.

“Insya Allah pembukaan Beasiswa Cilegon Juare dibuka minggu kedua bulan ini,” kata Rahmatullah.

Ia mengatakan pemerintah daerah juga mulai menyiapkan materi sosialisasi. Bahkan, pada Senin pagi, tim Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) telah membuat konten yang nantinya digunakan untuk menyampaikan informasi program kepada masyarakat.

“Alhamdulillah tadi pagi dari tim Kominfo sudah buat konten dan akan disosialisasikan ke masyarakat,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menjadi jawaban atas keluhan warga mengenai minimnya informasi mengenai program beasiswa.

Dengan adanya materi sosialisasi yang tengah disiapkan, pemerintah daerah berupaya memastikan informasi mengenai pembukaan Beasiswa Cilegon Juare dapat diketahui masyarakat sebelum masa pendaftaran dimulai.

(Has/Red*)