Megathrust hingga Bencana Industri Mengintai Cilegon, Seberapa Siap Mitigasinya?

CILEGON, WILIP.ID — Selat Sunda kembali menjadi perhatian setelah Guru Besar Geologi Lingkungan dan Mitigasi Bencana UGM, Dwikorita Karnawati, menyebut kawasan itu sebagai salah satu super-prioritas pemantauan kegempaan. Ia menegaskan, lokasi megathrust dapat dipetakan, tetapi waktu terjadinya gempa belum bisa diprediksi secara akurat.

Bagi Cilegon, isu ini tak bisa dipandang sebelah mata. Kota industri sekaligus pesisir tersebut menghadapi risiko berlapis, mulai dari gempa dan tsunami hingga potensi kegagalan teknologi industri.

Pemerhati Kebijakan Publik Muhammad Ibrohim Aswadi mengatakan kondisi tersebut menuntut ikhtiar bumi sebagai kesiapsiagaan yang lebih konkret dari pemerintah, industri, dan masyarakat.

Menurut dia, mitigasi tidak cukup berhenti pada dokumen maupun simulasi. Pemerintah perlu memastikan peta risiko, jalur evakuasi, sistem peringatan dini, tempat pengungsian, fasilitas kesehatan, serta koordinasi dengan industri benar-benar siap digunakan.

“Cilegon berada pada posisi yang menghadapi dua ancaman besar sekaligus,” ujar Ibrohim, Sabtu 12 September 2026.

Ia menilai pertanyaan terpenting bukan kapan gempa besar terjadi, melainkan apakah sistem keselamatan Cilegon mampu bekerja ketika keadaan darurat datang.

Bagi Ibrohim, kesiapsiagaan harus diuji dalam kondisi yang realistis. Jalur evakuasi harus dapat digunakan, peringatan dini harus menjangkau warga, dan industri harus terintegrasi dengan sistem penanggulangan bencana pemerintah daerah.

Megathrust bukan alasan untuk panik. Namun ketidakpastian waktu justru menjadi alasan untuk bersiap.

Bagi kota industri seperti Cilegon, mitigasi bencana bukan sekadar program pemerintah. Ia menyangkut keselamatan warga.

(Has/Red*)