Bandrong Jombang Dideklarasikan, Menjaga Tradisi hingga Membidik Prestasi Nasional

CILEGON, WILIP.ID — Melestarikan seni budaya tidak cukup hanya dengan mempertahankan bentuknya. Tradisi membutuhkan ruang untuk tumbuh, generasi untuk meneruskan, dan pembinaan agar tetap relevan di tengah perubahan zaman.

Semangat itulah yang dibawa dalam deklarasi kepengurusan Bandrong Kecamatan Jombang, Kota Cilegon. Bandrong didorong bukan sekadar menjadi ruang latihan bela diri tradisional, tetapi juga wadah pembinaan generasi muda dan pencetak prestasi.

Ketua DPD Bandrong Kota Cilegon Mustasim Madyaksa mengatakan, terbentuknya kepengurusan di tingkat kecamatan harus menjadi awal dari pembinaan yang lebih terarah.

Menurut dia, kepengurusan Bandrong Jombang masih relatif baru. Karena itu, penguatan organisasi perlu diikuti dengan program pembinaan yang konsisten.

“Karena ini baru terbentuk sekitar dua bulan kemarin, insyaallah ke depannya akan intens melakukan pembinaan,” ujar Mustasim, Minggu malam, 20 September 2026.

Bagi Mustasim, keberadaan organisasi tidak berhenti pada struktur kepengurusan. Ada pekerjaan yang lebih penting, yakni memastikan anak-anak muda memiliki ruang untuk belajar, berkembang, dan menguji kemampuan melalui kompetisi.

Ia meminta pengurus Bandrong Jombang membuka kesempatan seluas-luasnya bagi anggota untuk mengikuti berbagai ajang prestasi.

“Harapan saya kepada pengurus DPC Bandrong Kecamatan Jombang diwajibkan untuk mendidik atau membina dan memberikan kesempatan untuk ikut prestasi, baik di tingkat kota maupun nasional,” katanya.

Pembinaan tersebut selama ini mulai dibangun melalui latihan rutin. Setiap Minggu pagi, para anggota berkumpul untuk berlatih. Aktivitas itu menjadi ruang untuk meningkatkan kemampuan bela diri sekaligus mengenalkan kembali nilai-nilai seni budaya Bandrong kepada generasi muda.

Mustasim mengatakan, pembinaan Bandrong di Kota Cilegon juga telah diarahkan pada pengembangan prestasi. Sejumlah kegiatan dan festival telah diikuti, baik di dalam maupun luar daerah.

Jejak tersebut menjadi modal bagi Bandrong Jombang untuk memperluas kiprahnya.

Ketua DPC Bandrong Kecamatan Jombang Mabsuti mengatakan, keberadaan kepengurusan baru diharapkan mampu memperkuat eksistensi Bandrong sekaligus melahirkan generasi yang memiliki kemampuan dan daya saing.

“Mudah-mudahan eksistensi kita di Kecamatan Jombang ini bisa membuahkan bibit-bibit generasi yang unggul,” ujar Mabsuti.

Ia mengatakan, cita-cita pembinaan tidak berhenti pada tingkat lokal. Prestasi di tingkat kota diharapkan menjadi pijakan menuju kompetisi yang lebih luas.

“Harapannya otomatis lokal ini meningkat dan bisa, kalau bisa, nasional dan mengikuti event internasional,” katanya.

Target tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pelestarian budaya dan pembinaan prestasi dapat berjalan beriringan. Seni bela diri tradisional tidak harus ditempatkan semata sebagai peninggalan masa lalu, tetapi dapat menjadi bagian dari proses pembentukan generasi muda hari ini.

Dewan Pembina DPC Bandrong Kecamatan Jombang Januri juga menyambut terbentuknya kepengurusan tersebut. Ia berharap Bandrong dapat menjadi wadah yang memberikan manfaat lebih luas, terutama bagi anak-anak muda.

Latihan rutin yang berlangsung di kawasan Bonakarta menjadi salah satu ruang pembinaan. Di tempat itu, anggota tidak hanya mempelajari teknik bela diri, tetapi juga berinteraksi dengan tradisi dan seni budaya yang melekat pada Bandrong.

“Kami berharap Bandrong bisa menjadi wadah ke depannya dan memberikan prestasi untuk seni budaya Bandrong itu sendiri,” ujarnya.

Bagi Bandrong Jombang, deklarasi kepengurusan bukanlah garis akhir. Justru, dari titik inilah pekerjaan sesungguhnya dimulai.

Organisasi harus mampu menjaga latihan tetap berjalan, pembinaan terus berkembang, dan regenerasi tidak terputus. Pada saat yang sama, prestasi menjadi ukuran lain dari sejauh mana potensi tersebut berhasil dikembangkan.

Bandrong Jombang kini memiliki dua agenda yang berjalan beriringan: menjaga warisan budaya dan membuka jalan menuju prestasi. Dari latihan setiap Minggu pagi di Bonakarta, harapan itu perlahan dibangun—dari tingkat lokal, menuju panggung yang lebih luas.

(Alfa/Red*)