Haji Mumu Kembali Pimpin PB Al-Khairiyah, Bidik Penguatan Tauhid dan Kualitas SDM

CILEGON, WILIP.ID – Dr. KH. Ali Mujahidin, S.HI., MM., MH., yang akrab disapa Haji Mumu, kembali dipercaya memimpin Pengurus Besar (PB) Al-Khairiyah untuk periode 2026–2031. Memasuki periode ketiga kepemimpinannya, Haji Mumu menegaskan bahwa jabatan bukanlah tujuan akhir organisasi, melainkan amanah untuk melanjutkan perjuangan dan menjawab tantangan zaman.

Haji Mumu terpilih dalam Muktamar XI Al-Khairiyah yang digelar di Aula Brigjen KH Syam’un Al-Khairiyah, Kecamatan Citangkil, Kota Cilegon, Banten, pada 16–18 Oktober 2026.

Terpilihnya kembali Haji Mumu menempatkan penguatan nilai keagamaan, pembentukan karakter, dan pengembangan sumber daya manusia (SDM) sebagai isu penting dalam arah perjuangan Al-Khairiyah lima tahun ke depan.

Dalam sambutannya pada hari kedua muktamar, Sabtu (17/10/2026), Haji Mumu menegaskan bahwa kepemimpinan di lingkungan Al-Khairiyah tidak semestinya dipandang sebagai perebutan kekuasaan. Sebaliknya, kepemimpinan merupakan kesediaan untuk memikul tanggung jawab dan menghadapi berbagai persoalan organisasi.

“Ini amanah yang harus dijalani. Mudah-mudahan Allah memberikan kekuatan dan kemampuan. Di Al-Khairiyah ini bukan rebutan kekuasaan, tetapi rebutan kesulitan,” ujar Haji Mumu.

Pernyataan tersebut menjadi penegasan bahwa jabatan ketua umum harus dibuktikan melalui kerja nyata. Kepercayaan yang diberikan dalam forum muktamar bukan sekadar legitimasi kepemimpinan, melainkan juga tanggung jawab untuk menjaga keberlangsungan organisasi dan memperkuat kontribusinya bagi masyarakat.

Di tengah dinamika organisasi dan perubahan sosial yang terus berlangsung, tantangan kepemimpinan tidak berhenti pada konsolidasi internal. Lebih dari itu, organisasi pendidikan dan keagamaan dituntut mampu menjawab kebutuhan generasi muda tanpa kehilangan nilai-nilai yang menjadi dasar perjuangannya.

Tauhid, Syariat, dan Akhlak Jadi Fondasi Perjuangan
Haji Mumu menyampaikan bahwa Al-Khairiyah ke depan akan memprioritaskan penguatan tauhid, syariat, dan akhlak sebagai landasan dalam membangun peradaban.

Baginya, kemajuan tidak cukup diukur dari penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kemajuan juga harus berjalan beriringan dengan pembentukan karakter, penguatan akidah, dan tanggung jawab moral.

Tantangan tersebut semakin relevan di tengah perkembangan teknologi digital yang memengaruhi cara generasi muda memperoleh informasi, berinteraksi, serta membentuk pola pikir dan perilaku.

Penguasaan teknologi memang menjadi kebutuhan. Namun, tanpa fondasi nilai yang kuat, kemajuan tersebut berisiko tidak diimbangi dengan kedewasaan dalam bersikap dan bertanggung jawab.

Karena itu, penguatan pendidikan keagamaan perlu berjalan seiring dengan pengembangan pengetahuan dan keterampilan. Generasi muda tidak hanya diharapkan mampu mengikuti perubahan zaman, tetapi juga memiliki pegangan moral untuk menentukan arah dan menggunakan kemampuannya bagi kepentingan masyarakat.

Bagi Al-Khairiyah, agenda tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga relevansi perjuangan organisasi. Nilai-nilai yang diwariskan para pendiri harus tetap hidup, bukan hanya dalam forum keagamaan dan lingkungan pendidikan, tetapi juga dalam perilaku serta kontribusi nyata di tengah masyarakat.

Haji Mumu turut menyampaikan terima kasih kepada keluarga besar Al-Khairiyah atas kepercayaan yang kembali diberikan kepadanya. Ia menegaskan bahwa pelaksanaan amanah membutuhkan dukungan seluruh elemen organisasi serta pertolongan Allah SWT.

Yandri Susanto Siap Membersamai Perjuangan Al-Khairiyah
Dukungan terhadap kepemimpinan Haji Mumu juga disampaikan Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, Yandri Susanto. Ia mengucapkan selamat atas terpilihnya kembali Haji Mumu dan menyatakan kesiapannya untuk mendampingi perjuangan Al-Khairiyah, terutama dalam peningkatan kualitas SDM.

“Selamat, Bang Mumu. Saya siap membersamai dalam perjuangan Al-Khairiyah,” kata Yandri.

Pernyataan tersebut membuka ruang kolaborasi antara Al-Khairiyah dan berbagai pihak dalam mendorong peningkatan kualitas manusia. Meski demikian, dukungan tersebut perlu diterjemahkan melalui komunikasi, program, dan kerja sama konkret sesuai peran serta kewenangan masing-masing pihak.

Yandri menilai generasi muda harus dipersiapkan agar tidak hanya menjadi penikmat kemajuan, tetapi juga mampu mengambil peran dalam pembangunan bangsa melalui pendidikan dan pengabdian.

Menurut dia, kompleksitas tantangan generasi muda membutuhkan keterlibatan berbagai elemen. Pendidikan, nilai keagamaan, dan semangat kebangsaan perlu diperkuat secara bersamaan agar pembangunan tidak hanya menghasilkan kemajuan material, tetapi juga membentuk manusia yang berkarakter.

Ia pun berpesan agar keluarga besar Al-Khairiyah menjaga semangat perjuangan dan tidak mudah menyerah dalam menghadapi berbagai tantangan.

“Tidak boleh patah semangat dan pantang mundur. Yang utama adalah semangat dan niat suci untuk agama, bangsa, dan negara,” ujarnya.

Tantangan Lima Tahun ke Depan: Membuktikan Amanah dengan Kerja Nyata
Kembalinya Haji Mumu memimpin PB Al-Khairiyah untuk periode 2026–2031 membawa harapan sekaligus tanggung jawab besar. Kepercayaan organisasi harus menjadi pijakan untuk memperkuat konsolidasi, menjaga nilai perjuangan, dan memperluas manfaat Al-Khairiyah bagi masyarakat.

Namun, komitmen yang disampaikan dalam muktamar perlu diikuti dengan langkah yang terukur. Penguatan tauhid, syariat, dan akhlak membutuhkan program pendidikan yang relevan, pembinaan generasi muda yang berkelanjutan, serta pengembangan SDM yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat.

Demikian pula, dukungan dari berbagai pihak perlu diarahkan pada kolaborasi yang konkret agar tidak berhenti pada pernyataan dukungan seremonial.

Di sinilah tantangan utama kepemimpinan Haji Mumu: menjaga identitas keagamaan Al-Khairiyah sekaligus memastikan organisasi tetap adaptif menghadapi perubahan zaman.

Pada akhirnya, keberhasilan kepemimpinan tidak hanya ditentukan oleh terpilihnya seseorang dalam forum muktamar, tetapi juga oleh kemampuan menjalankan amanah, memperkuat organisasi, dan menghadirkan manfaat yang dapat dirasakan masyarakat.

Bagi Al-Khairiyah, periode 2026–2031 menjadi momentum untuk membuktikan bahwa warisan perjuangan, penguatan nilai keagamaan, dan pembangunan kualitas manusia dapat berjalan beriringan demi agama, bangsa, dan negara.

(Has/Red*)