Air Mati Tiga Malam, Warga Cilegon Hidup Seperti di Kampung Terpencil

Foto : Warga Komplek Palem, Cilegon, mengantre air bersih di pos darurat pada Kamis malam, 10 Juli 2025. Sudah tiga malam berturut-turut air tidak mengalir dari PDAM. Mereka terpaksa membawa jeriken, ember, hingga troli rakitan demi mendapatkan kebutuhan air sehari-hari.

CILEGON, WILIP.ID – Kota industri berkilau seperti Cilegon ternyata menyimpan paradoks yang menyakitkan. Di tengah deru mesin pabrik baja dan geliat pembangunan, ratusan warga di Komplek Palem, Lingkungan Penyairan, dan sekitarnya, justru harus antre air bersih layaknya hidup di pelosok desa.

Selama tiga malam terakhir, tak setetes pun air mengalir dari keran rumah mereka. Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Cilegon seolah lumpuh. Tak ada penjelasan, apalagi permintaan maaf.

“Bayar telat langsung didenda. Tapi giliran air mati, PDAM seperti tak merasa bersalah,” kata Ismail, salah satu warga yang sudah tiga malam mengangkut jeriken dari pos air darurat, Kamis, 10 Juli 2025.

Pernyataan Ismail bukan keluhan satu orang. Deretan jeriken, troli plastik, dan wajah letih para ibu rumah tangga yang datang bergiliran menjadi saksi nyata kegagalan layanan publik. Di antara mereka, ada yang menggendong anak, ada pula yang mendorong ember besar dengan roda rakitan. Satu kilometer lebih mereka tempuh untuk mendapatkan air—air yang seharusnya bisa dinikmati dengan memutar keran.

“Ini kota, bukan kampung di ujung gunung. Tapi giliran air mati, kita seperti hidup di zaman lampau,” ujar seorang ibu yang menolak menyebut namanya. Ia sudah dua hari tak mencuci pakaian anaknya.

Lebih dari sekadar ketidaknyamanan, krisis air ini mulai menyentuh urusan kesehatan. Beberapa warga mengeluhkan iritasi kulit akibat terpaksa mandi dengan air sisa atau kualitas buruk.

Namun, hingga laporan ini disusun, PDAM belum juga menyampaikan pernyataan resmi. Tidak ada pengumuman, tidak ada petugas yang hadir ke lokasi.

Ketiadaan komunikasi ini menambah bara kekecewaan warga. Dalam kota yang dijuluki kawasan strategis nasional, pelayanan dasar seperti air bersih seharusnya tak dibiarkan kolaps.

“Air bersih itu hak warga, bukan barang mewah yang harus dimohonkan,” ucap seorang warga lain.

Kritik pun dialamatkan ke Pemerintah Kota Cilegon. Di tengah geliat investasi dan proyek-proyek raksasa, mengapa layanan paling mendasar justru tercecer?

Direktur PDAM Cilegon, Ikhwan Kurniawan, saat dikonfirmasi hanya memberikan penjelasan singkat. “Benar Pak. Saat ini tim dari PDAM masih di lapangan. Kami usahakan malam ini bisa teratasi,” ujarnya.

Ia menambahkan, pihaknya telah mengirimkan petugas ke lokasi terdampak untuk memperbaiki gangguan distribusi air. Namun, warga menganggap langkah itu datang terlambat dan minim transparansi.

Di balik pembangunan infrastruktur dan geliat industri baja, ada suara-suara warga yang makin serak menuntut hak dasarnya: air bersih yang mengalir ke rumah tanpa harus antre di malam hari.

(Yan/Red*)