CILEGON, WILIP.ID – Suasana pagi di kawasan industri Cilegon sedikit berbeda hari ini. Sekitar pukul 07.30 WIB, puluhan buruh outsourcing berkumpul di depan pabrik PT Bungasari Flour Mills. Mereka menggelar spanduk bertuliskan tagar dukungan seperti #SaveBungasari dan #SaveHajiHikmatullah.
Tak hanya itu, spanduk lain berisi pesan solidaritas dan harapan juga dibentangkan. “Mari jaga bersama investasi di Kota Cilegon”, “Kami bersama Haji Hikmatullah”, serta “Relokasi satu pabrik bisa memicu hengkangnya sepuluh pabrik lain. Tapi mempertahankan satu pabrik bisa menyelamatkan ribuan pekerja.”
Aksi tersebut diinisiasi oleh koalisi buruh outsourcing dan buruh non-serikat sebagai bentuk dukungan terhadap kelangsungan kerja mereka di PT Bungasari. Mereka juga mengapresiasi peran Haji Hikmatullah, anggota DPRD Kota Cilegon yang dinilai telah membantu memfasilitasi kelanjutan kerja para buruh tanpa intimidasi.
Perwakilan Outsourcing: “Kami Bekerja Jika Ada Kerja”
Mansur, salah satu perwakilan buruh outsourcing dari PT Tri Daya, mitra kerja Bungasari, mengatakan bahwa aksi ini murni bentuk dukungan dan rasa terima kasih terhadap pihak manajemen dan Haji Hikmatullah.
“Kami hanya ingin tetap bisa bekerja dan mencari nafkah. Outsourcing itu sistemnya harian—kalau kerja dibayar, kalau tidak, ya tidak ada pemasukan,” ujarnya.
Mansur juga menyayangkan aksi mogok kerja yang sempat dilakukan oleh sebagian karyawan tetap. “Gerakan mereka justru berdampak ke kami yang outsourcing. Padahal kami bergantung penuh pada pekerjaan ini,” tambahnya.
Ia juga membantah isu dugaan penabrakan yang menyeret nama Haji Hikmatullah. “Itu bukan penabrakan. Kendaraan beliau saat itu hanya dihalangi ketika ingin masuk pabrik,” jelasnya.
Sebagai tokoh masyarakat Tegal Ratu sekaligus anggota DPRD, Haji Hikmatullah dinilai aktif menampung keluhan buruh, terutama yang sistem kerjanya borongan dan outsourcing.
Para Buruh yang Kembali Bekerja: “Kami Butuh Nafkah”
Di sisi lain, beberapa buruh yang sempat ikut aksi mogok kini memilih kembali bekerja. Salah satunya Hamsori, karyawan tetap Bungasari.
“Saya ikut aksi karena ikut-ikutan. Tapi sekarang sadar, kerja itu susah dicari. Saya berterima kasih masih bisa kembali kerja,” ujarnya saat ditemui usai aksi.
Hal senada disampaikan Adi C, teknisi maintenance. Menurutnya, ia memutuskan kembali bekerja karena sadar akan tanggung jawab keluarga dan sulitnya mencari pekerjaan baru.
“Saya tidak dipaksa siapa-siapa. Ini keputusan saya sendiri. Kita juga harus realistis. Yang mereka tuntut kan soal relokasi, sementara saya lebih butuh nafkah untuk keluarga,” ucap Adi C.
Penyesalan dan Harapan
Damara, buruh produksi yang juga sempat ikut aksi, mengaku menyesal telah mengedepankan ego.
“Saya punya tanggungan keluarga. Ada anak, istri, juga orang tua. Saya takut kehilangan pekerjaan,” ucapnya lirih. Ia berharap pihak manajemen masih membuka pintu maaf bagi buruh yang kembali.
(Elisa/Red)















