Ali Juhdi: Pulang dari Qatar Demi Reuni Akbar Al Khairiyah Karang Tengah

Foto : Ali Juhdi Alumni MTs. Al Khairiyah Karang Tengah Tahun 1996 (Pegang Buku), Sabtu, 19 Juli 2025

CILEGON, WILIP.ID – Ribuan alumni tumpah ruah dalam Reuni Akbar dan Haul Akbar Madrasah Al Khairiyah Karang Tengah, Sabtu (19/7/2025). Tapi satu nama mencuri perhatian banyak orang—Ali Juhdi, alumni angkatan 1996, yang terbang pulang ribuan kilometer dari Qatar hanya untuk satu alasan: hadir dalam reuni ini.

Ali bukan sekadar alumni biasa. Ia kini bekerja sebagai Senior Control Room di perusahaan migas Qatar, menangani proses produksi dari bahan baku hingga menjadi produk biji plastik. Di sela kesibukan sebagai tenaga ekspatriat, ia juga menjadi trainer profesional yang membina pekerja lokal agar kompeten di industri migas.

“Saya pulang khusus untuk reuni ini. Ini bukan sekadar temu kangen, tapi bentuk penghormatan untuk guru-guru kami dan almamater yang membentuk karakter saya hari ini,” ujar Ali kepada WILIP.ID.

Langkah Panjang untuk Pulang Sekejap

Keputusan Ali bukan tanpa konsekuensi. Ia harus mengatur cuti, menyesuaikan jadwal kerja dan tanggung jawab training. Tapi semua itu dianggap sepadan.

“Banyak yang saya tinggalkan sementara di Qatar. Tapi ini bukan soal waktu atau biaya, ini soal rasa hormat dan tanggung jawab moral sebagai alumni,” tegasnya.

Ia tidak datang untuk bersenang-senang semata. Ali hadir untuk menghormati yang telah tiada, dalam agenda Haul Akbar yang digelar bersamaan dengan reuni. Suasana haru mewarnai acara saat nama-nama guru dan tokoh Al Khairiyah yang telah wafat disebut.

“Kalau bukan kita yang mendoakan mereka, siapa lagi? Banyak dari kita yang tidak akan sampai di titik ini tanpa jasa mereka,” ucapnya lirih.

Reuni Bernyawa, Bukan Sekadar Seremoni

Reuni ini lebih dari sekadar seremoni. Tenda-tenda besar yang dipasang di halaman sekolah berubah jadi ruang nostalgia. Lintasan kenangan muncul: suara guru, bangku reyot, hingga momen dihukum berdiri saat lupa hafalan.

Suasana terasa cair, hangat, dan emosional—jauh dari formalitas kaku.

Ketua Panitia, Ayatullah, menyebut Ali Juhdi sebagai simbol kuat kecintaan alumni terhadap sekolah.

“Kami bangga. Mas Ali datang dari luar negeri untuk momen ini. Ini bukti Al Khairiyah tidak pernah benar-benar ditinggalkan oleh anak-anaknya,” katanya.

Al Khairiyah di Hati, Qatar di Pundak

Meski kini menetap di luar negeri, Ali mengaku Al Khairiyah adalah rumah yang tak pernah ia tinggalkan. Baginya, pendidikan bukan hanya soal pelajaran, tapi nilai hidup.

“Saya tinggal jauh, tapi hati saya tetap di Karang Tengah. Reuni ini jadi pengingat bahwa siapa pun kita hari ini, ada bagian dari diri kita yang dibentuk di sini,” ucapnya penuh makna.

Ia berharap kegiatan seperti ini terus dijaga. Bukan hanya untuk nostalgia, tapi sebagai jembatan generasi, penguat jaringan, dan pengingat bahwa yang besar tak pernah lupa pada akar.

“Saya janji akan datang lagi tahun depan, insya Allah,” tutupnya.

(Has/Red*)