Oleh : Supriyadi, pegiat lingkungan dari NGO Rumah Hijau.
Menyerukan peringatan serius kepada perusahaan-perusahaan kimia yang tengah melakukan startup pabrik. Ia juga mengingatkan masyarakat sekitar agar tidak tinggal diam terhadap fenomena yang tampak biasa, tapi berdampak luar biasa: flaring—proses pembakaran gas ketika unit produksi mulai diaktifkan kembali.
Sekilas, nyala api besar yang menjulang dari cerobong pabrik bisa dianggap sebagai simbol kemajuan industri. Namun, di balik kobaran itu tersembunyi persoalan pelik yang menyentuh aspek lingkungan, kesehatan, sosial, hingga ekonomi.
Asap yang Mengangkasa, Polusi yang Tak Kasatmata
Secara teknis, flaring adalah pembakaran gas yang dilakukan untuk alasan keselamatan—terutama saat proses awal startup atau ketika sistem harus dinyalakan ulang. Tapi praktik ini tidak tanpa konsekuensi.
Gas buang yang dihasilkan—seperti karbon dioksida (CO₂), karbon monoksida (CO), nitrogen oksida (NOx), sulfur dioksida (SO₂), hingga senyawa organik volatil (VOC)—mengisi atmosfer dengan racun tak terlihat. CO₂ dan metana yang tak terbakar sempurna turut menyumbang pada pemanasan global. Sedangkan SO₂ dan NOx, bila bereaksi dengan uap air, bisa turun dalam bentuk hujan asam yang merusak tanah, tumbuhan, dan kehidupan perairan.
Malam pun tak lagi damai. Nyala api dari cerobong flaring bisa menyilaukan cakrawala, mengusik ekosistem malam, bahkan merampas kenyamanan warga yang tinggal di sekitar kawasan industri.
Dampak Kesehatan: Tak Hanya Sesak Napas
Paparan gas buang tidak berhenti di udara. Ia masuk ke paru-paru. Mereka yang tinggal di sekitar pabrik berisiko tinggi mengalami gangguan pernapasan seperti asma, bronkitis, hingga penyakit paru kronis. Senyawa seperti benzena dan VOC yang ikut terbakar dapat memicu kanker jika terpapar dalam jangka panjang. Tak sedikit warga yang juga mengeluh iritasi mata dan kulit.
Yang lebih menyedihkan, kelompok paling rentan—anak-anak dan lansia—menjadi korban diam-diam dari kebijakan industri yang sering tak berpihak pada keselamatan publik.
Ekonomi yang Terkikis Api
Flaring juga menyimpan ironi ekonomi. Gas yang dibakar sebetulnya masih bisa dimanfaatkan—sebagai sumber energi atau bahan baku. Tapi ketika dibakar, potensi ekonomi itu hilang percuma. Lebih dari itu, perusahaan bisa terkena denda jika praktik flaring dilakukan tanpa pemantauan atau di luar regulasi. Reputasi pun bisa hancur secepat api yang menjilat langit.
Konflik Sosial: Ketika Masyarakat Tak Dilibatkan
Tak sedikit warga yang mulai bersuara. Bau menyengat, suara bising, dan cahaya terang dari pabrik memicu keluhan. Namun ketika keluhan tak ditanggapi, konflik sosial mulai menyemai.
“Jika masyarakat terus dikesampingkan dalam pengambilan keputusan, bukan tidak mungkin ketegangan meningkat,” ujar Supriyadi. Menurutnya, keterbukaan informasi dan pelibatan warga adalah jalan terbaik untuk meredakan potensi konflik dan membangun kepercayaan.
Darurat yang Bisa Dikelola
Flaring memang diperbolehkan dalam kondisi darurat atau saat startup unit produksi. Tapi bukan berarti bebas tanpa kendali. Ia harus dibatasi frekuensinya, dikelola secara ketat, dan—bila mungkin—digantikan dengan teknologi pemulihan gas seperti gas recovery system.
Industri boleh maju, tapi tidak boleh melangkah dengan membebani paru-paru bumi dan tubuh masyarakat.
Cilegon, 22 Mei 2025
Redaksi | Wilip.id















