BEDAH SEMIOTIKA POLITIK Pada Penyelenggaraan Muharram Culture 2026

Oleh: Mang Wayut
Direktur Eksekutif LPITG (Lembaga Peneliti Ibu-ibu Tukang Ghibah)

Coba perhatikan poster di atas. Amati deh dari tata letak foto, tulisan, dan pesan apa sesungguhnya yang ingin disampaikan poster ini… atau, siapa sedang membranding siapa sih sebenarnya ini?

Di tengah, lebih maju dari foto lainnya, ada foto seseorang mengenakan baju adat Cilegon (Banten). Tertulis namanya dengan huruf lebih besar “*AYATULLAH KHUMAENI*”. Jabatan di bawahnya juga ditulis lebih panjang: “KETUA DEWAN KEBUDAYAAN KOTA CILEGON”.

Di kiri, ROBINSAR mengenakan baju dinas Walikota, berwarna putih, topi, dasi. Di bawah tertulis “WALIKOTA CILEGON”. Di kanan, FAJAR HADI PRABOWO mengenakan baju dinas Wakil Walikota, berwarna putih juga, topi, dasi, dan di bawahnya tulusan “WAKIL WALIKOTA CILEGON”.

Yuk, kita bedah pesan apa yang ingin disampaikan poster ini. Hukum desain grafis itu kejam kadang-kadang.

Kalau anda perhatikan poster-poster film di bioskop, yang di tengah dengan foto yang lebih besar biasanya pemain utama. Sedangkan yang di samping biasanya figuran.

Ini sebuah bisikan halus Ayatullah Khumaeni kepada dua foto di-kirikanan-nya: _”Di acara budaya, jabatan budaya tuh lebih tinggi dari jabatan struktural”_.

Logo di kiri jelas tertulis “DEWAN KEBUDAYAAN KOTA CILEGON”, berarti dia yang punya panggung. Walaupun saya yakin seluruh biaya acara ditanggung sepenuhnya oleh Pemkot.

Bisa disimpulkan: yang punya hajat Ayatullah Khumaeni, yang biayai Pemkot. Gak abis pikir saya, betapa cerdiknya Ketua Dewan Kebudayaan ini…

Beras punya Robinsar, ayam punya Robinsar, kompor Punya Robinsar… yang masak pembantunya Robinsar…. Ketika nasi gonjlengannya mateng, dia yang manggil warga: _”Ayo makan semua! Ini saya yang masak, saya yang beli beras sama ayamnya… Kalian tinggal makan..!”_

Ini namanya “Kampanye Terselubung Level Dewa”. Gak pake spanduk, cuma modal obor dan kendang. Gak pake orasi, hanya pidato budaya. Gak pake atribut partai, cuma pake kopiah dan baju koko.

Menurut sosiolog ini “_Clientelism_ Budaya”. Kasih warga hiburan, santunan, nasi box. Balasannya? Warga ngerasa “berhutang budi” ke yang ngasih. Dan yang ngasih Ayat dan Wakil Walikota.

Lho, Walikotanya kemana?

Walikota gak hadir. Dia lebih memilih (baca: dipilihkan) agenda yang gak populis, seperti: pengentasan penyakit TBC, menangkal gerakan radikalisme dalam keluarga, dsb.

Dia gak nyadar kalau ada “kudeta branding politik” yang sedang berlangsung. Malah dia ikut tepuk tangan menyaksikan acara kudeta itu berlangsung via streaming.

…Tepuk tangan untuk acara kematiannya sendiri di panggung politik nanti.

Siapa Ayatullah Khumaeni?

Sebelum lanjut ke “Kudeta Paling Sopan, Bahkan yang Dikudetapun Ikut Tepuk Tangan”, ada baiknya kita mengenal sosok si kancil yang cerdik ini.

Publik mengenalnya dengan nama AYAT. Ayat ini anggota DPRD dua periode, 2019-2024 dan 2024-2029. Partainya Golkar, dari Dapil Citangkil-Ciwandan yang sering disebut-sebut dapil neraka.

Sebelum 2019, publik belum ada yang mengenalnya. Pencalonannya diremehkan banyak orang. Tapi dunia perpolitikan lokal dikejutkan oleh perolehan suaranya yang mencapai 3.266 suara di Pemilu 2019.

Yang bikin para politisi geleng kepala lagi, di Pemilu 2024, untuk menghambat perolehan suaranya, beberapa parpol pasang calon kuat di zona pemilihnya, bahkan ada yang mencalonkan tetangga persis depan rumahnya. Tujuanya satu: kubur Ayat hidup-hidup di dapilnya sendiri!

Ajaib! Dia tetep menang, Brooh… Malah suaranya naik jadi 3.777.

Selain menjabat sebagai Anggota DPRD Komisi III, Ayat juga dinobatkan menjadi Ketua Dewan Kebudayaan Kota Cilegon (DKCC) periode 2025-2029.

Dua kewenangan strategis dia pegang sekaligus. Sebagai penyusun anggaran dan sebagai penentu kebudayaan apa saja yang berhak menerima anggaran.

Cerdik lagi kan…

(Baca Selanjutnya: KUDETA PALING SOPAN DI DUNIA. Bahkan yang Dikudetapun Ikut Tepuk Tangan)