Pelabuhan Warnasari: Pintu Masuk Ekonomi Maritim Kota Cilegon

 

Oleh Mang Wayut

Ada langkah menarik yang sedang ditempuh Pemerintah Kota Cilegon untuk menggaet investor global, dan sosok Fajar Hadi Prabowo cukup aktif di baliknya. Perannya lebih tepat disebut business diplomacy bukan sekadar menerima tamu, tapi merangkai hubungan jangka panjang.

Polanya mulai terlihat: diawali kunjungan investor Inggris, disusul penjajakan pengembangan pelabuhan dengan Guangdong pada Mei 2025, lalu Mei 2026 Fajar menerima calon investor Jepang yang meninjau kawasan industri seluas 2.845 hektare. Yang terbaru, Juli 2026, delegasi dari Dongguan datang khusus membicarakan bisnis maritim dan Pelabuhan Warnasari.

Sayangnya, publik belum mendengar kabar lanjutannya. Semua kunjungan itu masih sebatas penjajakan dan pengembangan model bisnis, belum jadi investasi yang benar-benar bisa dibiayai bank (bankable), apalagi proyek yang pasti terealisasi. Padahal warga Cilegon sudah menaruh harapan besar pada peluang bisnis ini.

Bisnis Apa yang Sebenarnya Sedang Dibangun?

Cilegon sudah lama kuat di sisi produksi baja, petrokimia, kimia, energi, dan industri turunannya. Tapi nilai ekonomi kota industri tidak berhenti begitu barang selesai dibuat. Barang itu masih harus disimpan, diangkut, dinaikkan ke kapal, dikirim, dibongkar, lalu didistribusikan. Di titik inilah bisnis pelabuhan menjadi sangat menjanjikan.

Datanya pun mendukung: BPS mencatat PDRB Cilegon 2025 mencapai sekitar Rp148,56 triliun, tumbuh 5,78%, dengan industri pengolahan tumbuh 7,09%. Artinya, permintaan terhadap jasa logistik di Cilegon memang sudah sangat besar.

Kenapa Warnasari Jadi Kunci?

PT Pelabuhan Cilegon Mandiri (PCM), BUMD milik Pemkot, memegang sekitar 45 hektare lahan yang siap dikembangkan. Tahun ini PCM kembali menawarkannya kepada investor lewat berbagai skema kerja sama.

Yang menarik, dari semua sektor yang dipaparkan Fajar kepada delegasi Dongguan, logam, petrokimia, logistik, data center, perhatian mereka justru paling besar pada maritim dan pelabuhan Warnasari. Ini sinyal penting: investor tidak lagi sekadar bertanya “di mana kami bisa bangun pabrik?”, tapi “di mana kami bisa mengendalikan rantai logistik kami sendiri?”

Dongguan bukan kota sembarangan. Ia salah satu basis manufaktur terbesar di Guangdong, dengan pengalaman mengoperasikan pelabuhan kontainer berkapasitas sekitar 4 juta TEUs per tahun. Mereka melirik Cilegon karena Tanjung Priok dinilai makin padat. Logikanya sederhana: Dongguan punya manufaktur dan teknologi, Cilegon punya industri berat plus akses laut ke Jawa-Sumatra dan pasar Jakarta, sementara Warnasari berpotensi menjadi simpul logistik baru yang menghubungkan keduanya.

Bukan Sekadar Menjual Lahan, tapi Ekosistem

Yang ditawarkan Fajar sebenarnya lima lapis bisnis sekaligus:

Pertama, pelabuhan itu sendiri yang di dalamnya ada komponen bongkar-muat, curah, general cargo, kemungkinan kontainer, jasa kapal, hingga pergudangan, dengan kebutuhan investasi diperkirakan sekitar Rp2 triliun.

Kedua, logistik; trucking, warehouse, distribution center, freight forwarding, sampai cold chain.

Ketiga, kargo industri, yang pasarnya sudah tersedia karena kawasan industri Cilegon sudah ditopang 3 pelabuhan pengumpul dan 17 TUKS, dengan konsentrasi industri di besi-baja dan petrokimia. Artinya Warnasari tidak perlu membangun pasar dari nol, pasarnya sudah berdiri di belakang pelabuhan.

Keempat, jasa maritim yang sering luput dari perhatian publik: pemanduan kapal, kapal tunda, mooring, hingga cargo handling. Semakin banyak kapal singgah, semakin banyak titik yang menghasilkan uang.

Kelima, kawasan industri terpadu, meliputi: pelabuhan, warehouse, logistics park, industrial park, hingga pabrik untuk ekspor-impor, dengan Warnasari sebagai jangkar dari seluruh kawasan ekonomi tersebut.

Kalau Ini Berhasil, Apa Untungnya untuk Cilegon?

Keuntungan daerah tidak harus datang dari kepemilikan penuh atas pelabuhan. Pemkot bisa meraup pendapatan dari beberapa sisi sekaligus: dividen PCM, pajak daerah, penyerapan tenaga kerja, hingga efek berganda dari tumbuhnya industri baru di sekitar kawasan. Singkatnya, targetnya bukan sekadar “pelabuhan menghasilkan uang”, melainkan “pelabuhan yang menciptakan ekosistem penghasil uang”.

Ini bukan soal gengsi semata. Transfer dana pusat ke Cilegon pada 2026 berkurang sekitar Rp235 miliar, sehingga penguatan PAD lewat optimalisasi BUMD menjadi salah satu jalan keluar. Kalau Warnasari berjalan, PCM diharapkan bukan lagi sekadar BUMD pengelola pelabuhan, tapi penopang fiskal daerah.

Di sinilah letak peluang terbesar dari langkah Fajar: bukan hanya membangun pelabuhan, tapi membangun mesin pertumbuhan baru bagi kota. Industri menghasilkan barang, pelabuhan menggerakkannya, logistik menghubungkannya, investor membangun fasilitasnya, dan BUMD memetik pendapatannya. Ujungnya, Pemkot mendapat PAD, warga mendapat pekerjaan, dan Cilegon mendapat posisi baru dalam rantai pasok regional maupun global.