CILEGON, WILIP.ID – Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kota Cilegon menutup agenda 2025 dengan serangkaian capaian yang mereka sebut sebagai “fondasi awal” penguatan wajah pariwisata kota industri ini. Dalam pemaparan resmi yang digelar pada Kamis, 4 Desember 2025, dinas tersebut juga mengumumkan rencana pengembangan kawasan wisata Situ Rawa Arum untuk tahun anggaran 2026.
Ali Mufti, Adyatama Kepariwisataan dan Ekonomi Kreatif Disporapar Cilegon, mengatakan bahwa tahun 2025 menjadi momentum penataan elemen-elemen dasar pariwisata—kecil, tapi terlihat oleh publik. Salah satunya, pemasangan plang informasi di lima titik strategis wilayah Pulomerak.
“Alhamdulillah, kita sudah menyelesaikan penyediaan plang di lima lokasi—Pulomerak Kecil, Bukit Kembar, Gerem, Situ Rawa Arum, dan Kampung Kresi Lukis,” ujar Ali. Ia menyebut plang-plang tersebut bukan sekadar penanda, tetapi bagian dari upaya menegaskan identitas ruang publik Cilegon.
Selain itu, Disporapar juga mengadakan papan nama akrilik baru di kawasan Situ Rawa Arum. Papan tersebut dilengkapi lampu sehingga tampak menyala pada malam hari. “Papan nama itu kita buat sendiri, dan kalau malam hari terlihat lebih hidup. Kami ingin kawasan ini punya karakter visual yang lebih kuat,” kata Ali.
Memasuki 2026, Disporapar beralih ke pekerjaan yang lebih bersifat konseptual: penyusunan masterplan pengembangan Situ Rawa Arum. Kajian ini akan menjadi peta jalan resmi untuk menata ulang salah satu ruang wisata air paling potensial di Cilegon.
“Insyaallah di 2026 kami membuat program kajian berupa penyusunan masterplan Situ Rawa Arum. Selain itu, akan ada beberapa penataan fisik seperti pembuatan pagar, turap, dan pematokan lahan,” ujarnya.
Ali menegaskan bahwa program penataan awal tersebut tidak membutuhkan anggaran besar. “Nilainya tidak besar, satu paket itu di bawah Rp50 juta atau Rp60 juta. Tidak sampai miliaran,” katanya.
Di kota industri seperti Cilegon, pariwisata kerap bergerak perlahan dan bertahap. Situ Rawa Arum menjadi contoh bagaimana sebuah ruang yang dulu dianggap biasa, kini mulai dirancang sebagai destinasi yang layak dikunjungi. Ali menilai, pembangunan identitas ruang publik tidak selalu harus dimulai dari proyek raksasa—justru sering dibangun dari elemen kecil seperti penanda, pagar, hingga lampu yang membuat sebuah tempat terasa “utuh”.
Dengan tuntasnya sejumlah program 2025 dan rencana pengembangan 2026, Disporapar berharap Situ Rawa Arum dapat berkembang menjadi ruang rekreasi yang nyaman, aman, dan semakin menarik, bukan hanya bagi warga Cilegon tetapi juga pengunjung dari luar kota.
(Pis/Red*)















