Festival Marawis: Silaturahmi, Bukan Ajang Cari Untung

Oleh: Wawan

Marawis bukan sekadar dentuman rebana dan lantunan shalawat. Ia adalah seni tradisi yang lahir dari spirit kebersamaan dan religiusitas. Maka ketika Festival Marawis digelar di Masjid Agung Cilegon, seharusnya ia menjadi ruang silaturahmi, ajang edukasi, dan panggung bagi anak-anak didik untuk menyalurkan bakat sekaligus memperkuat karakter keislaman.

Ketua Bidang Festival DPD HIMMI Kota Cilegon, Wawan, mengingatkan bahwa tujuan utama festival ini adalah membangun silaturahmi dan ruang berbagi keterampilan. “Anak-anak bisa belajar satu sama lain, bertukar pengalaman, dan mendapatkan edukasi seni. Ini bukan sekadar mencari juara,” ujarnya.

Namun, di tengah semangat itu, publik sempat tersentak dengan adanya pungutan pendaftaran Rp500 ribu per kelurahan. Angka ini dianggap sebagian pihak terlalu tinggi, bahkan menimbulkan kesan festival dijadikan ajang mencari keuntungan. Kritik pun muncul, karena kegiatan yang digelar di masjid semestinya mengedepankan nilai kebersamaan, bukan beban finansial.

Di sinilah kita perlu jernih. Festival seni tradisi seperti marawis memang membutuhkan biaya: untuk panggung, perlengkapan, hingga hadiah. Tetapi, jangan sampai semangat silaturahmi dan edukasi tertutup oleh angka-angka yang membuat peserta merasa festival ini eksklusif. Apalagi, yang menjadi peserta adalah anak-anak didik yang justru sedang belajar menumbuhkan kecintaan pada seni islami.

Kota Cilegon yang dikenal sebagai kota industri, dengan segala dinamika sosial-ekonominya, mestinya mampu menghadirkan festival marawis yang inklusif. Pemerintah daerah, sponsor, hingga pihak swasta bisa diajak menanggung beban biaya, sehingga tidak membebankan kelurahan di Kota CIlegon untuk menanggung nominal besar.

Festival marawis akan kehilangan makna jika berubah menjadi kompetisi mahal yang hanya bisa diikuti kelompok tertentu. Padahal, rebana hanya berbunyi merdu ketika dipukul bersama-sama. Begitu pula festival ini: hanya akan indah jika mampu merangkul semua kalangan.

Marawis adalah silaturahmi, bukan bisnis. Ia adalah pendidikan, bukan pungutan. Maka sudah seharusnya penyelenggaraan festival kembali pada ruh sejatinya: menyatukan, bukan memisahkan; menguatkan, bukan memberatkan.

 

Cilegon, 19 September 2025