Forum Pemerhati Kebangkitan Krakatau Steel Dorong Penanganan Terpadu Pascabanjir di Ciwandan

CILEGON, WILIP.ID — Banjir bandang yang melanda sejumlah titik di Kota Cilegon, khususnya di wilayah Kecamatan Ciwandan, menjadi perhatian serius Forum Pemerhati Kebangkitan PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (FPKKS). Forum ini menegaskan komitmennya untuk turut berperan aktif dalam mendorong penanganan pascabanjir yang lebih terintegrasi dan berkelanjutan.

Ketua FPKKS, H. Rebudin, menyampaikan empati dan keprihatinan mendalam saat meninjau langsung lokasi terdampak banjir di kawasan Ciwandan, Rabu (7/1/2026). Peninjauan tersebut dilakukan bersama jajaran pengurus forum yang baru terbentuk, sebagai wujud kepedulian terhadap masyarakat yang terdampak.

“Alhamdulillah hari ini kami turun langsung bersama pengurus Forum Pemerhati Kebangkitan Krakatau Steel. Kehadiran kami semata-mata karena empati atas musibah banjir bandang yang beberapa hari lalu melanda sejumlah titik di Kota Cilegon,” ujar Rebudin.

Dalam peninjauan itu, rombongan forum menyusuri kawasan Krakatau Bandar Samudra (KBS) hingga beberapa titik lainnya. Sedikitnya terdapat 19 lokasi yang tercatat mengalami dampak banjir cukup signifikan. Kondisi tersebut, menurut Rebudin, menunjukkan bahwa persoalan banjir tidak dapat dibebankan kepada satu pihak saja.

FPKKS menilai penanganan pascabanjir harus dilakukan secara kolaboratif, melibatkan masyarakat, pelaku industri, Pemerintah Kota Cilegon, hingga Pemerintah Provinsi Banten bahkan Pemerintah Pusat melalui satker BPJN. Terlebih, sebagian wilayah terdampak berada di jalur strategis jalan nasional yang memiliki peran vital bagi aktivitas ekonomi dan mobilitas masyarakat.

“Pascabanjir ini perlu ada langkah bersama. Semua pihak harus duduk satu meja, mencari solusi jangka pendek dan jangka panjang, agar kejadian serupa tidak terus berulang,” tegasnya.

Rebudin juga menyoroti pentingnya pembenahan infrastruktur, terutama di kawasan yang beririsan langsung dengan aset-aset industri. Ia menilai, tingginya genangan air yang sempat masuk ke permukiman warga menjadi indikator bahwa sistem pengendalian air perlu ditata ulang secara lebih serius dan terukur.

“Banjir yang terjadi kemarin adalah refleksi dari tanggung jawab seluruh stakeholder. Kami dari forum ingin mengambil bagian, memberi masukan, sekaligus membantu Pemerintah Kota Cilegon, Pemprov Banten, dan keluarga besar Krakatau Steel dalam upaya penanganannya,” kata dia.

Sebagai bentuk kontribusi konkret, FPKKS mengusulkan pembangunan sistem pengendalian air berupa tandon atau kolam retensi di kawasan aset industri PT Krakatau Steel. Menurut Rebudin, desain tandon harus dirancang dengan dimensi yang memadai agar mampu menampung debit air dalam jumlah besar.

“Fondasi jangan dibuat terlalu sempit. Kalau aliran air terhambat, justru akan berbalik ke permukiman warga. Ini yang harus diantisipasi sejak awal,” jelasnya.

Forum berharap, berbagai masukan tersebut dapat menjadi bahan pertimbangan dalam penataan kawasan industri dan sekitarnya ke depan. Dengan perencanaan yang matang dan sinergi lintas sektor, risiko banjir berulang di wilayah Ciwandan dan sekitarnya diharapkan dapat ditekan.

“Intinya, kami ingin berkontribusi nyata. Membantu warga, mendukung pemerintah, dan bersama-sama mencari solusi terbaik agar Cilegon lebih tangguh menghadapi bencana,” pungkas Rebudin.

 

(Pis/Red*)