GEMA Al Khairiyah Bangkit di Tahun ke-9, Pemkot Cilegon Sebut Mitra Strategis Pembangunan

CILEGON, WILIP.ID – Usia sembilan tahun bukan sekadar angka bagi Gerakan Mahasiswa (GEMA) Al Khairiyah. Di momentum Hari Lahir (Harlah) ke-9, organisasi mahasiswa ini menegaskan eksistensinya lewat dua agenda besar: pelantikan Dewan Pengurus Daerah (DPD) Kota Cilegon dan santunan bagi 100 anak yatim, Jumat (27/2/2026).

Bertempat di Aula Diskominfo Kota Cilegon, peringatan harlah kali ini tidak berhenti pada seremoni pergantian kepemimpinan. Di bawah komando ketua baru, Duhriyah, GEMA Al Khairiyah langsung mengirim pesan kuat: organisasi harus hadir, bukan hanya bersuara.

“Alhamdulillah, pada harlah ke-9 ini kami bisa menyantuni 100 anak yatim. Data penerima kami himpun dari seluruh kecamatan di Kota Cilegon, mulai dari Jombang, Citangkil hingga Cibeber. Harapannya ke depan jumlah penerima bisa terus bertambah dan pendataan semakin menyeluruh,” ujar Duhriyah.

Langkah tersebut menjadi penanda bahwa GEMA Al Khairiyah tidak ingin terjebak pada rutinitas struktural semata. Kepengurusan baru diharapkan lebih aktif bersosialisasi, memperkuat kolaborasi lintas sektor, dan menghadirkan program yang langsung menyentuh masyarakat.

Menurut Duhriyah, kekompakan kader dan dukungan berbagai pihak menjadi kunci suksesnya kegiatan ini. Ia menegaskan, semangat kolektif harus menjadi fondasi organisasi ke depan.

Acara tersebut turut dihadiri Wakil Wali Kota Cilegon, Fajar Hadi Prabowo, jajaran pemerintah daerah, unsur TNI, serta perwakilan bagian kesejahteraan rakyat. Dukungan Pemkot Cilegon terlihat nyata, mulai dari partisipasi langsung dalam santunan hingga fasilitasi konsumsi bagi peserta.

Fajar Hadi Prabowo menilai sembilan tahun perjalanan GEMA Al Khairiyah sebagai capaian yang patut diapresiasi.

“Sembilan tahun bukan waktu yang singkat. Ini pencapaian luar biasa. Hari ini bukan hanya seremonial, tapi momentum pergantian kepemimpinan dan berbagi kepada sesama,” katanya.

Ia juga menegaskan posisi GEMA Al Khairiyah sebagai mitra strategis pemerintah daerah. Bagi Pemkot, gerakan mahasiswa bukan ancaman, melainkan energi kontrol sosial yang konstruktif.

“Kami memandang GEMA Al Khairiyah sebagai mitra diskusi dan bagian dari garda terdepan dalam menjaga serta mengawal program-program positif di tengah masyarakat,” tegasnya.

Menariknya, Fajar secara terbuka menyinggung isu kepemimpinan perempuan. Di bawah kepemimpinan Duhriyah yang menggantikan Supardi, ia menekankan bahwa kapasitas lebih penting daripada gender.

“Tidak ada lagi anggapan ketua harus laki-laki. Indonesia pernah punya presiden perempuan dan banyak menteri perempuan. Jadi jangan melihat gender, yang penting kemampuan dan kebersamaan,” ujarnya.

Pernyataan itu sekaligus menjadi pesan simbolik bahwa ruang kepemimpinan di organisasi mahasiswa semakin inklusif dan progresif.

Fajar pun mengaku bersyukur melihat dinamika mahasiswa di Cilegon yang aktif dan kritis. Menurutnya, selama gerakan dilakukan dengan tata cara yang baik, keberanian mahasiswa justru menjadi modal sosial pembangunan.

“Kita harus senang jika mahasiswa aktif dan peduli. Di Cilegon, banyak pemuda berani mengingatkan dan peduli terhadap pembangunan. Itu patut disyukuri,” pungkasnya.

Di usia ke-9, GEMA Al Khairiyah berada di persimpangan penting: menjaga idealisme sekaligus memperluas dampak sosial. Pelantikan kepengurusan baru dan santunan 100 anak yatim menjadi sinyal bahwa organisasi ini tidak ingin sekadar bertahan, tetapi tumbuh dan memberi arti.

Dengan dukungan pemerintah daerah dan soliditas internal, GEMA Al Khairiyah berpeluang menjadi salah satu motor gerakan mahasiswa yang bukan hanya vokal, tetapi juga solutif bagi masyarakat Kota Cilegon.

 

(Pis/Red*)