HIPMI Cilegon Salurkan 250 Paket Sembako untuk Korban Banjir, Desak Pemerintah Perkuat Normalisasi

CILEGON, WILIP.ID — Banjir yang kembali melanda sejumlah wilayah di Kota Cilegon tak hanya menyisakan genangan air, tetapi juga pertanyaan besar soal kesiapsiagaan dan pencegahan. Di tengah situasi itu, Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Kota Cilegon turun tangan langsung menyalurkan bantuan bagi warga terdampak.

Ketua HIPMI Kota Cilegon, Ivan Ferdiansyah, mengatakan kegiatan yang dilakukan pada Minggu (4/1/2026) tersebut merupakan agenda sosial untuk meringankan beban masyarakat pascabanjir. Bantuan didistribusikan ke sejumlah titik terdampak, mulai dari kawasan Ciwandan hingga Jombang.

“Hari ini kami mendistribusikan bantuan untuk warga yang terdampak banjir kemarin. Ada beberapa kampung yang kami datangi, salah satunya di ciwandan lalu berlanjut ke wilayah Jombang,” ujar Ivan.

Sebanyak sekitar 250 paket sembako disalurkan kepada warga. Isinya beragam kebutuhan pokok, mulai dari beras, gula, teh, hingga bahan pangan lain yang dibutuhkan masyarakat dalam kondisi darurat.

“Totalnya kurang lebih 250 paket. Isinya sembako, beras, gula, teh, dan kebutuhan dasar lainnya,” jelasnya.

Ivan menegaskan, bantuan tersebut merupakan hasil gotong royong internal HIPMI Kota Cilegon, dengan dukungan sejumlah mitra usaha. Menurutnya, solidaritas pengusaha muda menjadi bukti bahwa dunia usaha juga memiliki tanggung jawab sosial di saat masyarakat dilanda bencana.

“Ini patungan dari anggota HIPMI, dan juga ada kontribusi dari rekan-rekan serta mitra kami. Prinsipnya, kami ingin hadir langsung di tengah masyarakat,” katanya.

Namun, di balik aksi kemanusiaan itu, Ivan menyampaikan catatan kritis. Ia berharap pemerintah daerah tidak hanya fokus pada penanganan pascabencana, tetapi juga melakukan evaluasi serius terhadap langkah pencegahan, terutama di wilayah yang berulang kali terdampak banjir.

“Harapan kami, bantuan ini bisa sedikit meringankan beban warga. Ke depan, kami juga berharap pemerintah melakukan evaluasi sebelum kejadian terjadi lagi, termasuk memperbanyak normalisasi di daerah-daerah yang selama ini rawan banjir,” tegas Ivan.

Banjir di Cilegon, yang kerap berulang dari tahun ke tahun, dinilai bukan sekadar persoalan curah hujan. Minimnya normalisasi saluran air, persoalan tata ruang, hingga kesiapan infrastruktur menjadi pekerjaan rumah yang terus menunggu jawaban konkret. Di tengah itu, aksi solidaritas seperti yang dilakukan HIPMI menjadi penyangga sementara, sementara solusi jangka panjang tetap berada di tangan kebijakan pemerintah.

 

(Has/Red*)