CILEGON, WILIP.ID – Di era ketika informasi berseliweran lebih cepat dari kilat, menulis bukan lagi sekadar keterampilan tambahan, melainkan kebutuhan mendesak. Inilah yang coba ditegaskan oleh Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Al-Khairiyah Citangkil, Cilegon, saat menggelar Workshop Creative Writing bertajuk “Hidup Makin Bermakna dengan Menulis”.
Workshop ini menghadirkan Aat Surya Safaat, seorang jurnalis senior yang juga Asesor Uji Kompetensi Wartawan PWI. Selama hampir dua jam, Aat bukan hanya mengajari teknik menulis kreatif, tetapi juga menyalakan api idealisme: bahwa menulis adalah jalan sunyi yang mampu mengubah arah hidup.
“Menulis bukan cuma aktualisasi diri. Ini soal membawa pesan, menyuarakan cita-cita, dan mengabadikan gagasan untuk perubahan,” tegas Aat dalam paparannya.
Ucapan itu bukan basa-basi. Aat adalah mantan Kepala Biro Kantor Berita ANTARA di New York (1993–1998) dan Direktur Pemberitaan ANTARA (2016), yang telah meniti karier jurnalistik selama puluhan tahun. Ia menyebut nama-nama seperti Andrea Hirata, yang baru mulai menulis di usia 40 dan sukses besar lewat Laskar Pelangi. Bagi Aat, tidak ada kata terlambat untuk memulai.
Workshop Jadi Syarat SKPI
Ketua STIT Al-Khairiyah, H. Ahmad Munji, menyambut baik kehadiran Aat. Dalam perbincangan dengan wartawan di Cilegon, Minggu (6 Juli 2025), ia menyebut kegiatan ini bukan sekadar pelatihan teknis, tetapi bagian dari transformasi institusi.
“Ke depan, workshop Creative Writing akan menjadi syarat bagi mahasiswa untuk memperoleh Surat Keterangan Pendamping Ijazah (SKPI),” kata Munji.
Langkah ini, lanjut Munji, akan ditopang dengan kerja sama resmi antara kampus yang dipimpinnya dan lembaga pers yang dikomandoi Aat. Sebuah MoU dan Perjanjian Kerja Sama tengah disiapkan sebagai payung hukum pelatihan menulis yang berkelanjutan bagi mahasiswa.
“Kami ingin mahasiswa tidak hanya lulus dengan ijazah, tapi juga dengan keterampilan nyata. Salah satunya menulis,” ucap Munji.
Dosen Juga Harus Menulis
Tak hanya mahasiswa, dosen STIT Al-Khairiyah juga didorong untuk menulis secara aktif. Dalam sesi motivasi, Aat menekankan pentingnya menulis untuk dunia akademik. Menurutnya, jumlah karya tulis dosen yang dimuat di jurnal ilmiah—terutama jurnal internasional—adalah indikator nyata dari kualitas sebuah perguruan tinggi.
“Kampus bisa dianggap berkelas dunia jika karya-karyanya terbit di jurnal ilmiah internasional dan disiarkan dalam bentuk tulisan ilmiah populer di media massa,” katanya.
Ia berharap para dosen peserta workshop mampu menjadi penulis yang tak hanya cakap teknis, tetapi juga memiliki daya gugah. Menulis, kata Aat, adalah medium untuk mencerdaskan dan mencerahkan masyarakat, terutama dari ruang-ruang akademik yang selama ini terlalu asyik dengan jargon-jargon kaku.
Lebih dari Sekadar Tulisan
STIT Al-Khairiyah, yang berdiri di tengah hiruk-pikuk industri dan geliat urbanisasi Cilegon, kini memproklamirkan diri sebagai kampus yang bukan hanya religius, tapi juga progresif. Menulis menjadi senjata intelektual baru yang digenggam erat oleh sivitas akademik kampus ini.
Aat pun menyatakan kesediaannya untuk mendampingi STIT Al-Khairiyah dalam program penulisan lanjutan. Bukan sekadar pelatihan, tetapi pembinaan agar mahasiswa siap menghadapi dunia kerja—bukan dengan tangan kosong, tapi dengan narasi yang mampu menembus ruang dan waktu.
“Menulis bukan soal indahnya kata-kata, tapi tentang membangun makna. Dan makna yang baik selalu hidup lebih lama dari usia penulisnya,” tutup Aat.
(Elisa/Red*)















