Menyiapkan Pemimpin Muda, Gema Al-Khairiyah Gelar LBT ke-14

CILEGON, WILIP.ID – Kaderisasi bukan sekadar rutinitas organisasi. Ia adalah proses panjang membentuk watak, nalar, dan ketangguhan mental calon pemimpin. Kesadaran inilah yang melatarbelakangi Dewan Pengurus Komisariat (DPK) Gerakan Mahasiswa (Gema) Al-Khairiyah STIT Al-Khairiyah menggelar Leadership Basic Training (LBT) ke-14, Sabtu 17 Januari 2026.

Kegiatan yang menjadi pintu awal pembinaan kader ini mengusung tema “Growing Leaders, Shaping the Future”—mengembangkan pemimpin, membentuk masa depan. Tema tersebut dipilih bukan tanpa alasan. Menurut Ketua Pelaksana LBT ke-14, Iffatunida, tantangan zaman menuntut lahirnya pemimpin muda yang tidak hanya cakap secara intelektual, tetapi juga berintegritas dan berkarakter.

“Tema ini kami ambil untuk melatih seluruh kader Gema Al-Khairiyah agar memiliki jiwa kepemimpinan yang berintegritas,” kata Iffatunida. Ia menegaskan, proses kaderisasi harus mampu menumbuhkan daya kritis, sikap progresif, serta kemampuan bersaing di tengah dinamika sosial yang kian kompleks.

Senada dengan itu, Ketua DPK Gema STIT Al-Khairiyah, Abdu Rosid, menekankan bahwa pembentukan kader tidak boleh berhenti pada penguasaan teori. Menurutnya, kepemimpinan sejati juga lahir dari kekuatan mental dan kedisiplinan.

“Membentuk kader itu bukan hanya dari sisi intelektualnya saja, tetapi juga perlu pelatihan mental,” ujar Abdu Rosid.

Dalam pelaksanaannya, LBT ke-14 menerapkan sistem disiplin waktu yang ketat. Peserta dibimbing oleh koordinator lapangan, mentor, dan panitia yang secara aktif mengawal seluruh rangkaian kegiatan—mulai dari bangun pagi, pelaksanaan tahajud, hingga waktu istirahat.

“Peserta dilatih penuh kedisiplinan dan mentalnya. Di akhir kegiatan juga dilaksanakan post test untuk mengulas kembali materi yang telah disampaikan, agar peserta mampu memahami dan menyampaikannya kembali,” kata Abdu.

Lebih jauh, Abdu menegaskan bahwa mahasiswa memiliki peran strategis sebagai agent of change sekaligus agent of control. Peran itu, kata dia, tidak lahir secara instan, melainkan melalui proses kaderisasi yang berkelanjutan.

“LBT ini adalah langkah awal untuk menjadi agen perubahan,” ujarnya.

Kegiatan LBT ke-14 pun ditutup dengan yel-yel khas organisasi yang menggema penuh semangat—sebuah penegasan identitas dan komitmen kader.

Siapa kita? Gema Al-Khairiyah.

Siapa kita? Satria Setia Bhakti.

Siapa kita? Muslim dan Muslimat.

Di titik inilah kaderisasi menemukan maknanya: membentuk pemimpin muda yang sadar jati diri, siap mengabdi, dan berani mengambil peran dalam perjalanan masa depan.

 

(Pis/Red*)