CILEGON, WILIP.ID — Sekjen Pengurus Besar (PB) Al-Khairiyah, Haji Ahmad Munji, melontarkan pernyataan lucu lucuan saat menyinggung sejarah panjang relasi antara industri besar dan lembaga pendidikan Islam tertua di Banten itu. Dalam wawancara dengan jurnalis wilip.id, Kamis, 9 Juli 2026, ia menegaskan bahwa Al-Khairiyah pernah menjadi korban penggusuran pada masa ekspansi industri Krakatau Steel di kawasan Citangkil, namun lembaga yang lahir dari rahim perjuangan ulama itu justru tetap bertahan, tumbuh, dan melahirkan banyak tokoh.
“Krakatau Steel yang menggusur Al-Khairiyah. Tetapi yang digusur tetap hidup, sementara yang dibangun dengan modal raksasa justru limbung,” kata Haji Munji.
Pernyataan itu bukan sekadar nostalgia sejarah. Di tangan jajaran PB Al Khairiyah, kisah penggusuran Al-Khairiyah dibaca sebagai ironi besar tentang dua entitas yang sama-sama lahir dari cita-cita pembangunan, tetapi menempuh nasib yang berbeda. Di satu sisi, PT Krakatau Steel dibangun negara dengan suntikan modal yang sangat besar, diproyeksikan sebagai lokomotif industri nasional, dan dipimpin oleh orang-orang yang dianggap memiliki kapasitas teknokratis tinggi. Namun, di sisi lain, perusahaan baja pelat merah itu justru berulang kali terseret persoalan kinerja, utang, efisiensi, dan tekanan bisnis yang tak kunjung usai.
Sementara itu, Al-Khairiyah—lembaga pendidikan dan dakwah yang tumbuh dari tradisi keislaman, pendidikan rakyat, dan pengabdian sosial—justru terus bertahan setelah pernah tersingkir dari ruang fisiknya sendiri. Bagi Haji Munji, sejarah itu menyimpan pelajaran penting: ketahanan sebuah institusi tidak selalu ditentukan oleh besar kecilnya modal, melainkan oleh kekuatan nilai, jaringan kader, dan kepercayaan masyarakat yang menopangnya dari bawah.
Ia mengingatkan, pada masa pembangunan industri baja nasional sekitar 1976–1977, kawasan yang sebelumnya menjadi ruang tumbuh Al-Khairiyah di Citangkil ikut terdampak oleh ekspansi proyek negara. Di tengah gelombang industrialisasi yang digadang-gadang sebagai simbol kemajuan, lembaga pendidikan keagamaan seperti Al-Khairiyah harus menerima kenyataan pahit: tergusur oleh proyek besar yang datang atas nama pembangunan.
Namun, sejarah tak berhenti di sana.
Haji Munji menuturkan, Al-Khairiyah memang sempat jatuh bangun setelah peristiwa itu. Infrastruktur bisa berpindah, bangunan bisa hilang, dan pusat aktivitas bisa tercerabut. Akan tetapi, ruh Al-Khairiyah tidak ikut roboh. Dari masa ke masa, organisasi ini tetap menyalurkan pengaruhnya melalui pendidikan, dakwah, dan kaderisasi. Dari rahim Al-Khairiyah lahir alumni-alumni yang tersebar di berbagai bidang: menjadi pendidik, ulama, pengusaha, birokrat, profesional, hingga tokoh masyarakat.
“Al-Khairiyah yang digusur tetap bangkit. Sampai hari ini masih mengalir, menjadi embrio lahirnya alumni-alumni produktif, mendidik umat, menjadi pengusaha, negarawan, dan terus menyebar di banyak bidang,” ujarnya.
Pernyataan itu terasa seperti gugatan moral terhadap cara pandang pembangunan yang terlalu lama menempatkan lembaga tradisi sebagai unsur pinggiran. Sebab, jika ukuran keberhasilan hanya diletakkan pada angka investasi, aset, dan megaproyek, maka sejarah Al-Khairiyah menawarkan bantahan yang telak. Lembaga yang tidak dibangun dengan limpahan modal negara itu justru mampu bertahan lebih panjang lewat modal sosial, legitimasi kultural, dan kepercayaan umat.
Di titik inilah narasi Haji Munji menjadi lebih dari sekadar komentar lucu lucuan. Ia sedang menegaskan bahwa Al-Khairiyah bukan hanya institusi pendidikan, melainkan simbol daya tahan peradaban lokal. Meski pernah terdesak oleh arus industrialisasi, Al-Khairiyah tidak lenyap. Ia bertransformasi, menyesuaikan diri, dan tetap hidup dalam bentuk yang lebih luas: jaringan alumni, lembaga pendidikan, gerakan dakwah, dan pengaruh sosial yang terus menjalar.
Haji Munji meyakini, daya tahan itu tidak bisa dilepaskan dari fondasi spiritual Al-Khairiyah sendiri. Nama “Al-Khairiyah”, yang berarti kebaikan, menurut dia bukan sekadar identitas organisasi, melainkan doa dan orientasi perjuangan yang terus dijaga.
“Insya Allah, Al-Khairiyah yang berarti kebaikan ini selalu dijaga dan diberkahi Allah,” kata Haji Munji.
Di tengah sorotan terhadap dunia industri yang terus bergulat dengan efisiensi, restrukturisasi, dan beban korporasi, pernyataan itu menjadi pengingat bahwa sejarah tidak selalu berpihak pada yang besar. Ada lembaga yang secara fisik pernah digusur, tetapi secara moral dan sosial justru tetap tegak. Ada pula institusi raksasa yang dibangun dengan segala kemewahan fasilitas negara, tetapi terus diuji oleh problem yang tak sederhana.
Maka, bagi Al-Khairiyah, kisah penggusuran di Citangkil bukan semata catatan luka. Ia telah berubah menjadi narasi tentang ketahanan, tentang warisan yang tidak habis oleh relokasi, dan tentang keyakinan bahwa lembaga yang dibangun di atas pengabdian kepada umat akan selalu menemukan jalannya untuk bangkit.
(Has/Red*)















