Rakerwil GEMA Al-Khairiyah Banten: Menjaga Idealisme di Tengah Godaan Pragmatisme

CILEGON, WILIP.ID — Di tengah derasnya arus pragmatisme politik, disrupsi teknologi, dan kian longgarnya ikatan intelektual di kalangan mahasiswa, Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Gerakan Mahasiswa Al-Khairiyah (GEMA Al-Khairiyah) Provinsi Banten memilih menegaskan satu hal: idealisme tidak boleh ditanggalkan.

Pesan itu mengemuka dalam Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) DPW GEMA Al-Khairiyah Provinsi Banten Tahun 2026 yang digelar di Auditorium Institut Al-Khairiyah, Kota Cilegon, Sabtu, 4 Juli 2026. Forum tahunan ini bukan sekadar agenda administratif untuk menyusun program kerja, melainkan ruang konsolidasi gagasan, pembacaan arah gerakan, dan peneguhan posisi mahasiswa sebagai kekuatan moral di tengah perubahan zaman.

Mengusung tema “Merawat Idealisme, Menata Gerakan, Menyemai Peradaban, Membentuk Perubahan”, Rakerwil tahun ini memperlihatkan upaya organisasi mahasiswa Al-Khairiyah untuk tidak terjebak menjadi sekadar pelengkap seremoni kampus. Di forum itu, GEMA Al-Khairiyah ingin menegaskan diri sebagai rumah kaderisasi, pusat pengembangan intelektual, dan instrumen sosial yang relevan dengan kebutuhan masyarakat Banten.

Ketua DPW GEMA Al-Khairiyah Provinsi Banten, Supardi, menyebut Rakerwil sebagai momentum penting untuk menata ulang orientasi gerakan mahasiswa agar tidak larut dalam rutinitas organisasi yang miskin gagasan.

“Rapat Kerja Wilayah ini bukan sekadar agenda rutin organisasi, melainkan momentum reflektif dan strategis untuk meneguhkan kembali komitmen perjuangan kita sebagai mahasiswa Al-Khairiyah. Idealisme harus tetap menjadi kompas moral dalam setiap gerakan yang kita bangun,” kata Supardi dalam sambutannya.

Pernyataan itu terasa relevan. Di banyak organisasi mahasiswa, idealisme kerap terkikis oleh hasrat jangka pendek: mengejar posisi, memburu kedekatan dengan kekuasaan, atau sekadar sibuk pada aktivitas seremonial tanpa dampak yang terukur. Dalam konteks itu, Rakerwil GEMA Al-Khairiyah menjadi penting karena berupaya menggeser orientasi organisasi dari sekadar “sibuk bergerak” menjadi “bergerak dengan arah”.

Rakerwil dihadiri jajaran pengurus wilayah, perwakilan pengurus cabang, kader dari berbagai daerah di Banten, unsur akademisi, tokoh organisasi, serta para alumni. Kehadiran berbagai unsur ini menunjukkan bahwa GEMA Al-Khairiyah tidak hendak memaknai forum kerja hanya sebagai agenda internal, melainkan sebagai ruang temu antara gagasan mahasiswa, pengalaman alumni, dan kebutuhan sosial masyarakat.

Dalam forum tersebut, peserta melakukan evaluasi atas program kerja sebelumnya, memetakan tantangan organisasi ke depan, lalu menyusun agenda strategis untuk satu periode mendatang. Isu yang dibahas pun tidak berhenti pada teknis kelembagaan, tetapi merentang hingga soal penguatan sumber daya manusia, pendidikan, pemberdayaan masyarakat, hingga peran mahasiswa dalam merespons persoalan kebangsaan.

Di sinilah Rakerwil menemukan bobotnya. Sebab organisasi mahasiswa yang sehat semestinya tidak hanya pandai menggelar kegiatan, tetapi juga mampu membaca zaman, merumuskan sikap, dan menawarkan jalan keluar. Banten, sebagai provinsi dengan tantangan sosial yang kompleks—dari isu pendidikan, pengangguran, kualitas SDM, hingga kesenjangan pembangunan—memerlukan kehadiran organisasi mahasiswa yang tidak hanya lantang bersuara, tetapi juga cakap merancang kerja-kerja perubahan.

Supardi menilai tantangan generasi muda hari ini tak lagi semata soal kompetisi akademik atau adaptasi teknologi. Yang tak kalah serius, kata dia, adalah krisis nilai, krisis kepemimpinan, dan melemahnya budaya intelektual di kalangan mahasiswa.

“Kita tidak sedang mempersiapkan kader untuk menjadi penonton sejarah. Kita sedang menyiapkan generasi yang mampu menjadi pelaku perubahan. Oleh karena itu, GEMA Al-Khairiyah harus menjadi laboratorium kepemimpinan, pusat pengembangan intelektual, sekaligus ruang pengabdian sosial yang mampu menjembatani kepentingan akademik dengan kebutuhan masyarakat,” ujarnya.

Pernyataan ini menyentuh persoalan mendasar dunia kemahasiswaan. Dalam beberapa tahun terakhir, ruang-ruang diskusi mahasiswa di banyak tempat cenderung menyusut, digantikan oleh budaya instan, kompetisi citra, dan pragmatisme yang menggerus kedalaman berpikir. Mahasiswa sibuk membangun jejaring, tetapi sering kehilangan keberanian untuk membangun gagasan. Mereka ramai di ruang digital, tetapi tak selalu hadir di ruang sosial tempat masyarakat menunggu kontribusi nyata.

Karena itu, ketika GEMA Al-Khairiyah menempatkan organisasi sebagai laboratorium kepemimpinan dan pusat pengembangan intelektual, yang sedang dibangun sesungguhnya bukan hanya program kerja, melainkan ekosistem kaderisasi. Sebuah ruang yang memungkinkan mahasiswa tumbuh bukan sekadar menjadi aktivis, tetapi menjadi pemikir, penggerak, sekaligus pelayan masyarakat.

Bagi Supardi, tema Rakerwil bukan slogan kosong. Ia menegaskan bahwa setiap frasa dalam tema tersebut memuat orientasi gerakan yang konkret.

“Merawat idealisme berarti menjaga integritas. Menata gerakan berarti membangun organisasi yang terukur dan berkelanjutan. Menyemai peradaban berarti menghadirkan ilmu pengetahuan sebagai instrumen kemajuan. Dan membentuk perubahan berarti berani mengambil peran dalam menyelesaikan persoalan umat, bangsa, dan negara,” kata dia.

Pernyataan itu sekaligus menjadi garis tegas bahwa organisasi mahasiswa tidak cukup hanya hidup dari romantisme sejarah. Ia harus mampu membuktikan relevansinya melalui tata kelola yang baik, kaderisasi yang berkelanjutan, dan program yang menyentuh kebutuhan riil masyarakat. Idealisme, dalam konteks ini, bukan retorika yang dipajang di spanduk forum, melainkan fondasi etik yang membimbing arah gerakan.

Di tengah iklim sosial-politik yang serba transaksional, menjaga idealisme memang bukan pekerjaan mudah. Tetapi justru di titik itulah organisasi mahasiswa diuji: apakah ia tetap berdiri sebagai kekuatan moral yang independen, atau perlahan berubah menjadi kendaraan kepentingan sesaat.

Rakerwil DPW GEMA Al-Khairiyah Banten 2026 juga menghasilkan sejumlah rekomendasi strategis. Fokus utamanya meliputi penguatan kaderisasi, pengembangan riset dan kajian kebijakan publik, digitalisasi organisasi, peningkatan kapasitas sumber daya kader, serta perluasan kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan.

Arah ini menunjukkan bahwa GEMA Al-Khairiyah sedang berupaya bergerak lebih modern tanpa meninggalkan watak ideologisnya. Kaderisasi diperkuat agar organisasi tidak kehilangan pasokan pemimpin masa depan. Riset dan kajian kebijakan publik didorong agar mahasiswa tak hanya pandai mengkritik, tetapi juga mampu menyusun argumentasi berbasis data. Digitalisasi organisasi menjadi kebutuhan agar gerakan lebih adaptif terhadap perkembangan zaman. Sementara kolaborasi dengan berbagai pihak penting agar energi mahasiswa tidak berhenti di ruang diskusi, melainkan menjelma menjadi kerja nyata yang memberi dampak sosial.

Jika rekomendasi ini dijalankan secara konsisten, GEMA Al-Khairiyah berpeluang menempatkan diri bukan sekadar sebagai organisasi intra-gerakan, melainkan sebagai mitra kritis pembangunan daerah. Banten membutuhkan lebih banyak kelompok muda yang berani berpikir, berani menyusun solusi, dan berani hadir di tengah masyarakat dengan karya.

Rakerwil 2026 pada akhirnya menegaskan satu pesan: mahasiswa Al-Khairiyah ingin tetap berada di jalur perjuangan intelektual dan pengabdian sosial. Di tengah perubahan global yang serba cepat, GEMA Al-Khairiyah berupaya menjaga agar gerakan mahasiswa tidak tercerabut dari akar nilai, tidak kehilangan keberpihakan pada masyarakat, dan tidak terjebak pada pragmatisme yang mematikan daya kritis.

Forum ini menjadi titik tolak bagi lahirnya gerakan mahasiswa yang lebih progresif, berdaya saing, dan berpijak pada agenda pembangunan peradaban. Dengan semangat kolektif yang dibangun dalam Rakerwil, DPW GEMA Al-Khairiyah Provinsi Banten menegaskan kesiapannya untuk terus mengambil peran sebagai bagian dari solusi atas persoalan sosial, pendidikan, dan kemasyarakatan.

Bagi organisasi ini, merawat idealisme bukanlah nostalgia. Ia adalah syarat agar gerakan tetap hidup, tetap tajam, dan tetap relevan. Sebab mahasiswa yang kehilangan idealisme, cepat atau lambat, hanya akan menjadi penonton dari perubahan yang seharusnya mereka pimpin.

(Has/Red*)