JAKARTA, WILIP.ID – Perjalanan hidup seseorang kadang dimulai dari ruang-ruang sederhana, dari kampung kecil, dari keluarga biasa, dari mimpi yang tak banyak diketahui orang. Namun dari tempat yang sederhana itulah, sejarah besar kerap lahir. Kisah itu kini melekat pada sosok Dr. Hasani Ahmad Said, M.A., putra daerah asal Cilegon, Banten, yang akan dikukuhkan sebagai Guru Besar bidang Tafsir Maqashidi di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada usia 44 tahun.
Pengukuhan itu dijadwalkan berlangsung pada Senin, 13 Juli 2026, di Hotel Grand Mercure Harmoni, Jakarta Pusat, dan akan menjadi momen penting, bukan hanya bagi Hasani Ahmad Said secara pribadi, melainkan juga bagi dunia akademik Islam di Indonesia. Di balik prosesi ilmiah itu, tersimpan kisah panjang tentang ketekunan, pengabdian pada Al-Qur’an, dan jejak intelektual yang dibangun sejak usia muda.
Di tengah gegap gempita dunia modern, nama Hasani Ahmad Said hadir sebagai representasi bahwa kesungguhan menuntut ilmu tetap mampu mengantarkan seseorang ke puncak pencapaian akademik. Dari seorang anak kampung, lahirlah seorang intelektual yang kini berdiri di barisan terdepan dalam pengembangan studi tafsir Al-Qur’an di Indonesia.
Anak Kampung dari Cilegon, Menembus Panggung Ilmu Pengetahuan
Hasani Ahmad Said lahir di Cilegon, 21 Februari 1982. Ia tumbuh dalam keluarga sederhana sebagai anak ke-11 dari 12 bersaudara. Latar belakang ekonomi dan kehidupan kampung tidak membuat langkahnya surut. Justru dari situ, watak tangguh, daya juang, dan kesederhanaannya dibentuk.
Lingkungan pesantren menjadi ruang pertama yang menanamkan kecintaan mendalam pada Al-Qur’an. Bagi Hasani, Al-Qur’an bukan sekadar bacaan ritual, melainkan sumber pengetahuan, jalan hidup, dan medan pengabdian intelektual. Dari mushala, ruang belajar sederhana, dan tradisi keilmuan pesantren itulah benih-benih kecintaan pada tafsir tumbuh kuat.
Tak berlebihan jika perjalanan akademiknya hari ini disebut sebagai buah dari kesetiaan panjang pada satu jalan: jalan ilmu Al-Qur’an.
Satu Jalan Ilmu, Satu Napas Pengabdian
Jika banyak akademisi menempuh lintasan keilmuan yang beragam, Hasani Ahmad Said justru dikenal karena konsistensinya yang nyaris tak bergeser. Ia menempuh S1, S2, hingga S3 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, seluruhnya dalam rumpun Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir. Konsistensi itu menunjukkan satu hal penting: Hasani tidak sekadar belajar tafsir, tetapi benar-benar mengabdikan hidupnya untuk mendalami, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu tafsir.
Pada 2011, ia meraih gelar doktor dengan capaian yang mengesankan. Ia tercatat sebagai lulusan doktor terbaik, sekaligus termuda dan tercepat di bidangnya. Capaian tersebut menegaskan reputasi akademiknya sejak awal. Disertasinya mengupas kajian mendalam dalam ilmu tafsir, termasuk pembahasan tentang munasabah antar ayat, salah satu tema penting dalam studi Al-Qur’an yang membutuhkan ketelitian, keluasan referensi, dan ketajaman metodologis.
Prestasi itu tidak berhenti di sana. Hasani juga tercatat sebagai lulusan terbaik Program Pendidikan Kader Mufassir di Pusat Studi Al-Qur’an, sebuah pengakuan yang semakin mengokohkan posisinya sebagai salah satu mufassir muda paling menonjol di Indonesia.
Dari Dosen Muda hingga Menjadi Guru Besar
Jejak pengabdiannya di dunia pendidikan dimulai sejak 2009 sebagai ASN dosen di IAIN Raden Intan Lampung. Lalu pada 2014, ia melanjutkan pengabdiannya sebagai dosen tetap Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sejak saat itu, kiprahnya terus berkembang. Ia aktif mengajar di berbagai jenjang, termasuk program pascasarjana, baik di lingkungan kampus sendiri maupun di sejumlah perguruan tinggi lain.
Bagi para mahasiswa dan kolega, Hasani dikenal bukan hanya sebagai dosen, melainkan juga pembimbing intelektual yang tekun, terbuka, dan produktif. Ia berada di ruang kelas, ruang seminar, ruang penelitian, hingga forum-forum diskusi keilmuan, membawa satu misi besar: menjadikan Al-Qur’an tetap hidup dalam percakapan zaman.
Pengukuhan sebagai guru besar pada usia relatif muda menegaskan bahwa pengabdiannya tidak berjalan biasa-biasa saja. Ia menempuhnya dengan disiplin ilmiah, konsistensi karya, dan komitmen kuat terhadap pengembangan keilmuan tafsir.
Tafsir Maqashidi, Jalan Tengah antara Teks dan Realitas
Salah satu kontribusi terbesar Hasani Ahmad Said dalam dunia akademik adalah kiprahnya dalam mengembangkan Tafsir Maqashidi. Inilah bidang yang kemudian mengantarkannya pada posisi guru besar. Dalam pendekatan ini, Al-Qur’an dibaca bukan hanya dari sisi teks, tetapi juga dari tujuan-tujuan syariat (maqashid al-syari’ah), nilai kemaslahatan, dan relevansinya terhadap persoalan manusia modern.
Di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks—mulai dari persoalan sosial, kemanusiaan, keadilan, kebangsaan, hingga etika kehidupan modern—Tafsir Maqashidi hadir sebagai pendekatan yang menjembatani teks suci dengan realitas sosial. Hasani menjadi salah satu tokoh penting yang memperkuat pendekatan ini di Indonesia.
Lewat gagasannya, tafsir tidak berhenti pada makna literal, tetapi bergerak menuju pemahaman yang lebih substantif, kontekstual, dan solutif. Tafsir harus mampu berbicara tentang kehidupan nyata, tentang keadilan, kemanusiaan, kebersamaan, dan kemaslahatan publik. Di titik inilah pemikiran Hasani menemukan relevansinya.
Produktif Menulis, Kuat dalam Gagasan
Perjalanan intelektual Hasani Ahmad Said juga ditandai dengan produktivitas yang tinggi dalam dunia tulis-menulis. Ia telah menghasilkan berbagai karya ilmiah dan buku yang menjadi rujukan dalam studi Al-Qur’an dan tafsir.
Di antara karya terbarunya adalah Tafsir Maqashidi: Metodologi Penafsiran Al-Qur’an Berbasis Maqashid al-Syari’ah dan Tafsir Tasawuf: Menyelami Makna Al-Qur’an, yang diterbitkan Rajawali Press. Selain itu, ia juga menulis sejumlah buku penting lain seperti Munasabah Al-Qur’an dan Sejarah Al-Qur’an yang terbit melalui Amzah/Bumi Aksara.
Tidak hanya buku, Hasani juga aktif menulis artikel ilmiah di berbagai jurnal nasional dan internasional. Karya-karyanya tercatat dan dirujuk dalam berbagai basis data akademik seperti Scopus, Sinta, dan Google Scholar. Produktivitas ini menunjukkan bahwa Hasani tidak hanya aktif mengajar, tetapi juga terus menyumbang gagasan untuk memperkaya khazanah keilmuan Islam kontemporer.
Menembus Forum Internasional, Membawa Wajah Islam Indonesia
Nama Hasani Ahmad Said juga tidak asing di panggung ilmiah internasional. Ia aktif mengikuti konferensi, seminar, dan forum akademik di berbagai negara, mulai dari Amerika Serikat, Uzbekistan, Turki, Iran, Arab Saudi, Mesir, hingga sejumlah negara di Eropa dan Asia Tenggara.
Kehadirannya di forum-forum internasional bukan sekadar mewakili institusi, tetapi juga membawa wajah Islam Indonesia yang moderat, ilmiah, dan dialogis. Pengalaman global tersebut memperkaya perspektifnya sebagai akademisi, sekaligus memperkuat jejaring keilmuan yang berdampak pada perkembangan studi tafsir di tanah air.
Di tengah arus globalisasi pemikiran Islam, Hasani tampil sebagai akademisi yang tetap berpijak pada tradisi, namun terbuka terhadap perkembangan zaman. Ia memperlihatkan bahwa keilmuan Islam Indonesia memiliki kapasitas untuk berdialog di level global tanpa kehilangan akar keilmuan dan identitas kebangsaannya.
Dai, Intelektual Publik, dan Wajah Dakwah yang Menyejukkan
Di luar kampus, Hasani Ahmad Said juga dikenal luas sebagai dai dan intelektual publik. Ia aktif berdakwah di berbagai forum keagamaan dan terlibat dalam organisasi Islam nasional. Salah satu amanah penting yang diembannya adalah sebagai Wakil Sekretaris Komisi Dakwah MUI Pusat.
Kehadirannya di ruang publik menjadikan sosok Hasani tidak hanya dikenal di kalangan akademisi, tetapi juga dekat dengan masyarakat. Dakwahnya menjangkau banyak kalangan melalui ceramah, kajian, forum diskusi, hingga media televisi nasional seperti TVRI, tvOne, ANTV, dan MNCTV.
Gaya dakwahnya dikenal moderat, teduh, dan argumentatif. Ia menghadirkan Islam dalam wajah yang ramah, inklusif, dan menyejukkan. Dalam sosok Hasani, publik melihat perpaduan antara ulama, akademisi, penulis, dan komunikator keagamaan yang mampu menerjemahkan nilai-nilai Al-Qur’an ke dalam bahasa yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Deretan Prestasi yang Menguatkan Rekam Jejak
Jejak panjang Hasani Ahmad Said menuju kursi guru besar bukanlah capaian yang datang secara tiba-tiba. Ia ditopang oleh sederet prestasi dan pengakuan akademik yang konsisten, di antaranya:
- Lulusan Doktor Terbaik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
- Lulusan Terbaik Pendidikan Kader Mufassir
- Juara MTQ tingkat nasional
- Penerima penghargaan Satya Karya dari Presiden Republik Indonesia
Selain itu, Hasani juga kerap dipercaya sebagai dewan hakim MTQ di berbagai tingkatan. Kepercayaan tersebut memperkuat otoritasnya dalam bidang Al-Qur’an dan menunjukkan pengakuan luas atas kapasitas keilmuan serta integritasnya.
Pengukuhan Guru Besar, Simbol Ketekunan dan Harapan Baru
Pengukuhan Hasani Ahmad Said sebagai Guru Besar Tafsir Maqashidi bukan semata seremoni akademik. Lebih dari itu, ia adalah simbol dari ketekunan, konsistensi, dan pengabdian panjang pada ilmu. Dari seorang anak kampung di Cilegon, ia menjelma menjadi salah satu akademisi Muslim terkemuka yang memberi warna baru dalam studi tafsir Indonesia.
Momen ini juga menjadi pesan kuat bagi generasi muda bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi. Jalan ilmu mungkin panjang, melelahkan, dan penuh tantangan, tetapi selalu menyediakan ruang bagi mereka yang tekun, sabar, dan setia pada proses.
Di usia 44 tahun, Hasani Ahmad Said menorehkan capaian yang tidak hanya membanggakan keluarga dan almamaternya, tetapi juga masyarakat Banten, dunia pesantren, dan komunitas akademik Islam Indonesia. Dari Cilegon, dari ruang-ruang sederhana, dari kecintaan pada Al-Qur’an, lahirlah seorang guru besar yang kini berdiri di panggung akademik nasional dengan satu pesan yang jelas: ilmu, jika dirawat dengan kesungguhan, akan menemukan jalannya menuju kemuliaan.
(Has/Red*)















