PUPR Cilegon Genjot Normalisasi Sungai, 500 Titik Sedimentasi Ditangani untuk Tekan Banjir

CILEGON, WILIP.ID – Pemerintah Kota Cilegon melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) terus mengintensifkan penanganan banjir di sejumlah wilayah rawan. Langkah ini dilakukan sebagai respons atas persoalan klasik yang selama ini menjadi pemicu genangan, terutama saat hujan dengan intensitas tinggi. Upaya tersebut disampaikan pada Senin (22/12/2025).

Kepala Dinas PUPR Kota Cilegon, Dendi Rudiatna, menyebut terdapat tiga persoalan utama yang selama ini memperparah risiko banjir. Pertama, tingginya sedimentasi di pintu-pintu air. Kedua, maraknya bangunan liar yang berdiri di atas aliran sungai dan saluran air. Ketiga, penyempitan saluran yang menghambat laju aliran air ke hilir.

“Sedimentasi cukup tinggi, kemudian banyak bangunan yang berdiri di atas saluran, dan terjadi penyempitan alur air. Ini yang menjadi penyebab utama banjir,” ujar Dendi.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Dinas PUPR telah mengerahkan alat berat dan personel selama empat hari terakhir. Hasilnya, ratusan titik sedimentasi berhasil ditangani melalui pengerukan sungai dan saluran air.

“Hampir 500 titik sudah kita kerjakan, baik di sungai maupun saluran,” jelasnya.

Masalah banjir juga diperparah oleh adanya tembok penghalang aliran air di kawasan industri PT Krakatau Steel Industri (KSI). Saat hujan deras, air hanya dapat keluar melalui tiga pipa kecil berdiameter sekitar empat inci, sehingga aliran menjadi tersendat.

Setelah dilakukan koordinasi, manajemen PT KSI menyatakan kesediaannya untuk memperlebar bahkan membongkar saluran pembuangan tersebut. Langkah ini diharapkan dapat mempercepat aliran air menuju hilir.

“Di dalam kawasan KSI sudah dilakukan normalisasi sungai dan saluran sesuai arahan Pak Wali Kota. Mudah-mudahan beberapa minggu ke depan, ketika hujan turun lagi, dampak banjir bisa jauh berkurang,” kata Dendi.

Sementara itu, di wilayah Kubangsari dan sepanjang Jalan Lingkar Selatan (JLS), persoalan utama terletak pada pendangkalan saluran serta bangunan tambal ban yang menutup aliran air. PUPR pun melakukan pengerukan memanjang agar air dari kawasan JLS dapat segera mengalir ke sungai-sungai terdekat.

Dendi menegaskan, Pemkot Cilegon kini lebih menitikberatkan pada langkah preventif. Normalisasi dan pengerukan dilakukan sebelum hujan turun sebagai upaya menjaga fungsi saluran air tetap optimal.

“Arahan Pak Wali jelas, sebelum hujan kita lakukan pengerukan sedimentasi. Pencegahan jauh lebih penting,” ujarnya.

Upaya tersebut mulai menunjukkan hasil. Pada hujan deras yang terjadi semalam, tiga sungai yang biasanya meluap—Sungai Cibeber dekat Polsek Cibeber, Kali Kumpang, dan Kubang Lampit—terpantau tidak mengalami luapan. Kondisi serupa juga terjadi di wilayah BBS 3 yang relatif aman dari banjir.

Meski sempat terjadi genangan di jalan protokol, air dilaporkan cepat surut. Menurut Dendi, genangan tersebut disebabkan sodetan menuju gorong-gorong jalan nasional yang masih tersumbat dan menggunakan pipa berdiameter kecil.

“Bukan sungainya yang bermasalah, tapi air dari jalan tidak langsung masuk ke sungai. Itu sudah kita keruk dan menjadi arahan Pak Wali untuk diperlebar,” katanya.

Selain PT KSI, sejumlah perusahaan lain seperti PT Lotte juga turut berperan aktif dalam normalisasi saluran dan pengangkatan sampah di kawasan industri. Di wilayah Penauan, pengerukan dilakukan baik di luar maupun di dalam kawasan industri untuk mengatasi endapan yang menumpuk.

“Normalisasi ini sebenarnya sudah kita lakukan sebelum banjir terjadi. Sekarang kita fokus pada perbaikan dan pemeliharaan agar hasilnya lebih optimal,” pungkas Dendi.

 

(Pis/Red*)