Refleksi Hari Pahlawan: Saatnya Pemuda Cilegon Jadi Pahlawan bagi Sekitarnya

CILEGON, WILIP.ID – Dalam semangat Hari Pahlawan, komunitas FOLKACER X Gen Z Cilegon menggelar diskusi publik bertajuk “Apakah Pemuda Bisa Menjadi Pahlawan bagi Setiap Individu dan Kelompok?” di Café Paradiso, Kota Cilegon, Senin malam 10 November 2025.

Tiga sosok muda hadir sebagai pembicara: Yamanan (Anggota DPRD Cilegon Fraksi Golkar), Shidqi Andrezha (Anggota DPRD Cilegon), dan Rizki Putra Sandicka (Aktivis muda Cilegon).

Malam itu, perbincangan mengalir tajam. Tak sekadar mengenang jasa pahlawan, namun menelisik bagaimana pemuda masa kini bisa menjadi “pahlawan” dalam konteks sosial dan kebangsaan di era modern.

Yamanan, yang juga dikenal sebagai aktivis muda, menegaskan pentingnya ruang diskusi seperti ini sebagai wadah untuk merawat nalar kritis dan mempertajam cara berpikir generasi muda.

“Anak muda harus punya ruang publik yang terbuka untuk menyampaikan aspirasi. Saya, sebagai bagian dari legislatif, akan terus mengawal ruang itu,” tegasnya.

Ia menambahkan, beberapa isu penting yang muncul dalam diskusi meliputi Perda Kepemudaan, rencana pembangunan Gedung Center Pemuda Cilegon, serta persoalan mendasar masyarakat.

“Kepemimpinan Pak Robinsar (Wali Kota Cilegon) akan kami kawal di legislatif. Pemuda hari ini harus berani menjadi pahlawan bagi bangsa dan daerahnya sendiri. Jangan minder dan jangan ragu pada potensi diri,” ujar Yamanan.

Sementara itu, Shidqi Andrezha menyoroti urgensi kemandirian pemuda, baik secara berpikir maupun ekonomi.

“Pemuda Cilegon harus merdeka secara cara berpikir dan penghasilan. Kami di DPRD siap menampung dan menyalurkan aspirasi anak muda,” ujarnya.

Shidqi juga menyoroti tingginya angka pengangguran di Cilegon dan mengusulkan solusi konkret.

“Program magang di industri bisa jadi langkah awal memperkaya pengalaman anak muda. Kami juga mendorong pelatihan berbasis kebutuhan industri dan ekonomi padat karya, terutama di kawasan JLU,” katanya.

Ia menegaskan dukungannya terhadap kebijakan positif pemerintah kota.

“Kalau programnya baik untuk masyarakat, tentu kami akan dorong agar bisa lebih ditingkatkan,” tambahnya.

Aktivis muda Rizki Putra Sandicka mengajak peserta untuk menengok kembali semangat perjuangan para pendiri bangsa.

“Hari Pahlawan harus jadi momentum refleksi diri. Apakah kita sudah berbuat sesuatu untuk negeri ini? Dulu para pemuda seperti Bung Hatta dan tokoh-tokoh lainnya berjuang melawan ketidakadilan — sekarang, giliran kita melawan ketidakpedulian,” ujarnya.

Rizki juga menekankan pentingnya peran pemerintah kota dalam memfasilitasi gerakan pemuda.

“Kepala daerah harus jadi jembatan kepentingan antara organisasi kepemudaan dan masyarakat. Jangan menutup mata terhadap potensi besar pemuda Cilegon dalam membangun peradaban kota,” tutupnya.

Diskusi malam itu menjadi pengingat bahwa makna kepahlawanan tak lagi sebatas perang dan bambu runcing. Di tengah arus modernisasi, menjadi pahlawan berarti berani berpikir kritis, berbuat nyata, dan menyalakan semangat perubahan di lingkungannya sendiri.

 

(Elisa/Red*)