CILEGON, WILIP.ID — Ketua DPRD Kota Cilegon, Rizki Khairul Ichwan, berbicara lantang di podium Musyawarah Perencanaan Pembangunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (Musrenbang RPJMD) 2025–2029, Senin, 5 Mei 2025.
Baginya, Musrenbang bukan sekadar parade pidato atau dokumen rapi di meja birokrasi. Ia menyebut forum itu sebagai momentum serius untuk mendengar dan merespons jeritan warga.
“Musrenbang RPJMD ini akan menjadi pedoman penting bagi seluruh OPD dalam menyusun rencana strategis atau renstra. Kami berharap dokumen RPJMD segera disempurnakan dan ditetapkan,” ujar Rizki di Aula Bappedalitbang, dengan nada tegas.
Namun Rizki tidak berhenti di tataran teknis. Ia mengingatkan bahwa esensi pembangunan bukan hanya soal rencana di atas kertas, tapi keberpihakan nyata kepada rakyat. Ia meminta seluruh kepala organisasi perangkat daerah (OPD) agar tidak terjebak rutinitas administratif. “Keterlibatan aktif OPD sangat menentukan arah dan keberhasilan pembangunan,” ujarnya, menohok para pejabat yang hadir.
Pernyataan Rizki seolah menampar wajah birokrasi yang selama ini kerap nyaman dalam zona seremoni. Sebab, tantangan pembangunan tidak hanya berhenti di ruang sidang. Di luar sana, warga sudah lama menunggu janji-janji yang kerap berakhir di papan pengumuman.
Lihat saja sektor kesehatan. Wali Kota Robinsar menjanjikan puskesmas buka 24 jam, sebuah program yang di atas kertas tampak sederhana, tapi dalam praktiknya menuntut keseriusan penuh: tambahan anggaran, tenaga medis, obat-obatan, hingga fasilitas penunjang. Tanpa perencanaan matang, janji itu hanya akan menjadi bunga-bunga manis dalam dokumen RPJMD.
Itulah mengapa seruan Rizki untuk menghentikan “perayaan administratif” menjadi relevan. Masyarakat tak lagi sabar menanti pembangunan yang hanya hidup dalam brosur pemerintah. Mereka ingin puskesmas yang buka tengah malam, bukan sekadar ucapan di mikrofon; sekolah yang layak, bukan sekadar angka capaian.
Musrenbang di Cilegon kini menjadi ujian bersama: apakah para pemimpin daerah mau melepaskan kebiasaan seremoni, atau kembali tenggelam dalam ritual lima tahunan yang hanya melahirkan janji?
(Red*)















