Tak Sekadar Perayaan, Panjang Mulud Jadi Ruang Edukasi Pemuda Sumampir Timur

oplus_0

CILEGON, WILIP.ID – Dari sebuah masjid sederhana di Lingkungan Sumampir Timur, Kecamatan Purwakarta, Cilegon, gema zikir dan doa syukur kembali terdengar. Minggu keempat bulan Maulid tahun ini terasa berbeda. Tak hanya dipenuhi jamaah, tetapi juga oleh wajah-wajah muda yang berdiri paling depan.

Mereka—para pemuda kampung—menjadi motor kebangkitan tradisi panjang mulud yang sempat terhenti.

Tradisi ini bukan baru di Cilegon. Puluhan tahun ia hidup di banyak lingkungan. Namun di Sumampir Timur, baru dua kali dilaksanakan: 2023, lalu vakum pada 2024 karena kendala kesehatan pengurus masjid. Tahun ini, pemuda turun tangan. Mereka tidak ingin tradisi leluhur ini tenggelam ditelan zaman.

“Alhamdulillah bisa berjalan lagi. Panjang mulud ini hasil musyawarah jauh hari. Kami ingin menjaganya agar tetap ada di lingkungan kami,” kata Ketua DKM Masjid Ibnu Mardjuk, Ustad Tb. Dinar Hadi, Minggu, 21 September 2025.

Dari Zikir Pagi hingga Berkat Sore

Pukul 07.00 pagi, lantunan doa mengalun. Sekitar 80 jamaah larut dalam zikir yang menggema di ruang utama masjid. Rangkaian acara berlanjut hingga siang: doa syukur, santap bersama, lalu ditutup dengan pembagian berkat—simbol berbagi rezeki sekaligus perekat silaturahmi.

Bagi warga, panjang mulud bukan sekadar memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Ia adalah napak tilas perjuangan, pengingat teladan, dan cara sederhana menanamkan cinta kepada Rasulullah sejak dini.

Pemuda di Garda Depan

Yang membuat suasana kali ini berbeda, adalah peran pemuda. Jika biasanya para orang tua yang sibuk menyiapkan acara, kini generasi muda yang mengambil alih peran.

“Sesepuh selalu bilang, maju mundurnya kampung tergantung pemudanya. Itu yang jadi motivasi kami. Kalau tidak dari sekarang, tradisi bisa hilang,” ujar Ketua Pelaksana, H. Hilman.

Namun di balik semangat itu, ada kegelisahan. Ketua DKM menilai minat generasi muda terhadap kegiatan keagamaan terus menurun.

“Orang tua sekarang lebih mudah mencetak anak intelek, tapi sulit mencetak anak saleh. Panjang mulud ini kami jadikan ikhtiar mendekatkan pemuda pada agama,” ucap Ustad Dinar.

Foto : Sesepuh dan tokoh masyarakat sumampir timur terus mensuport para pemuda.

Tradisi Lama, Budaya Baru

Ustad Dinar juga menekankan pentingnya keseimbangan. Tradisi lama tak harus ditinggalkan demi modernitas.

“Selama budaya baru baik dan positif, bisa kita kombinasikan. Jangan terlalu kaku, tapi jangan juga meninggalkan akar tradisi,” tegasnya.

Dengan pendekatan itu, panjang mulud di Masjid Ibnu Mardjuk bukan sekadar ritual tahunan. Ia menjadi ruang silaturahmi, wadah edukasi, dan benteng moral bagi generasi muda.

Di tengah derasnya arus digitalisasi, Sumampir Timur memilih jalannya sendiri: mengakar di tradisi, tapi tetap terbuka pada zaman.

 

(Elisa/Red*)