CILEGON, WILIP.ID – Di tengah bayang-bayang naiknya harga bahan pokok tahun depan, Pemerintah Kota Cilegon bersiap menyalakan kembali satu program lama yang dianggap cukup ampuh menahan gejolak dapur warga: sembako bersubsidi.
Melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag), program ini dirancang agar masyarakat kurang mampu bisa membeli paket kebutuhan pokok seharga Rp120 ribu hanya dengan membayar separuhnya—Rp60 ribu. Sisanya, ditanggung oleh kas daerah.
Langkah itu bukan semata bagi-bagi bantuan, melainkan strategi menahan laju inflasi dari bawah. Kepala Disperindag Cilegon, Andriyanti, mengatakan bahwa program ini menjadi salah satu cara paling langsung untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah ketidakpastian harga pangan.
“Tahun kemarin program itu sempat berjalan, meski dengan anggaran kecil sekitar Rp150 juta. Dampaknya positif, tapi memang belum menjangkau banyak warga,” ujar Andriyanti, Jumat, 24 Oktober 2025 di ruang kerjanya.
Karena itulah, tahun 2026 nanti, Disperindag akan kembali mengajukan program serupa dengan skala lebih besar. Anggaran yang diusulkan naik dua hingga tiga kali lipat—antara Rp300 juta hingga Rp500 juta—agar lebih banyak keluarga penerima manfaat bisa merasakan dampaknya.
“Kami ingin jangkauannya lebih luas dan terasa nyata di masyarakat,” kata Andriyanti dengan nada optimistis.
Kebijakan ini seolah menjadi tameng kecil di tengah arus besar ekonomi nasional yang belum sepenuhnya pulih. Kenaikan harga beras dan bahan pokok dalam dua tahun terakhir membuat banyak daerah berupaya keras menahan inflasi di tingkat lokal. Di Cilegon—kota industri yang bukan penghasil pangan—tugas itu menjadi dua kali lebih berat.
Kepala Bidang Perdagangan Disperindag Cilegon, Fitriadi Achmad, menyadari betul tantangan itu.
“Cilegon bukan daerah penghasil pangan, jadi kami harus ekstra menjaga stok dan kestabilan harga di pasar,” ujarnya.
Selain menyalurkan paket sembako murah, tim Disperindag juga rutin melakukan operasi pasar dan menjalin kerja sama dengan para distributor untuk memastikan pasokan tetap lancar. Upaya itu diharapkan mampu menahan tekanan inflasi sekaligus menjaga agar kebutuhan pokok tetap terjangkau bagi warga.
Dalam konteks yang lebih luas, langkah Cilegon mencerminkan dilema banyak pemerintah daerah: bagaimana melindungi warganya dari guncangan ekonomi tanpa membebani anggaran terlalu besar. Subsidi sembako mungkin tampak sederhana, tapi di tengah ekonomi yang rapuh, bantuan separuh harga bisa berarti selisih antara dapur yang tetap mengepul atau tidak.
(Elisa/Red*)















