CILEGON, WILIP.ID — Bagi Nurul Hadiyati, Hari Kartini bukan sekadar perayaan seremonial. Ia menjadikannya momen refleksi atas perjalanan panjang perempuan dalam meraih ruang dan peran di tengah masyarakat. Sebagai lurah perempuan di Kota Cilegon, Nurul adalah bukti nyata bahwa semangat Kartini masih menyala.
Kisahnya dimulai dua dekade lalu, saat Nurul masih menjadi mahasiswi Universitas Diponegoro. Tahun 2003, ia mengikuti program Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Purwodadi, Jawa Tengah. Dalam kelompoknya, ia dipercaya sebagai wakil ketua.
Namun, pengalaman yang ia alami saat itu masih membekas hingga kini. Saat ketua kelompok berhalangan hadir dalam sebuah acara kemasyarakatan, seharusnya Nurul yang tampil mewakili. Tapi, kenyataannya berbeda—seorang rekan laki-laki justru yang mengambil alih.
“Karena saya perempuan, saya dianggap tidak layak menyampaikan sambutan. Saya dan teman-teman perempuan malah diminta membantu ibu-ibu menyiapkan konsumsi,” kenangnya.
Peristiwa itu menjadi titik sadar bagi Nurul: bahwa ketimpangan gender bukan sekadar cerita lama. Ia mengalaminya sendiri—bagaimana perempuan kerap dipinggirkan dari ruang-ruang formal dan simbolik, meski secara struktur sudah layak berada di sana.
Kini, dua puluh tahun berselang, posisi itu telah berbalik. Nurul berdiri di garis depan sebagai Lurah Kota Cilegon. Bukan lagi berada di balik layar, ia kini kerap menjadi sosok utama dalam berbagai forum masyarakat, menyampaikan sambutan, memimpin rapat, hingga menjadi wajah pemerintahan di wilayahnya.
“Perempuan hari ini sudah jauh lebih berdaya. Kesempatan terbuka lebar bagi siapa pun yang mau berjuang, tanpa melihat gender,” ujarnya, Senin (21/4/2025), dalam peringatan Hari Kartini.
Baginya, semangat Raden Ajeng Kartini tetap relevan hingga hari ini—bukan sekadar simbol emansipasi, tetapi juga pengingat bahwa perjuangan perempuan masih terus berjalan.
“Selamat Hari Kartini. Untuk semua perempuan hebat di seluruh Indonesia, mari terus berikhtiar mewujudkan impian,” tutupnya penuh semangat.
(Red*)















