CILEGON, WILIP.ID — May Day bukan cuma panggung orasi dan poster berisi janji-janji usang. Di balik euforia Hari Buruh Internasional, masih membayang masalah yang terus berulang: pengangguran yang membengkak di kampung sendiri.
Di Kota Cilegon, Banten, Kepala Bidang Penempatan Tenaga Kerja (Penta) Disnaker, Hidayatullah, bicara lantang. Pada Sabtu, 3 Mei 2025, di sela peringatan May Day, ia menyentil perusahaan-perusahaan yang beroperasi di daerahnya agar tak melupakan warga lokal.
“Pengangguran adalah tanggung jawab bersama. Media juga punya peran penting untuk ikut mengawal dan mempublikasikan kewajiban perusahaan mempekerjakan tenaga kerja lokal seperti yang sudah diatur dalam AMDAL,” kata Hidayatullah.
Hidayatullah tidak asal tuding. Ia mengingatkan bahwa dalam setiap proyek investasi, kebutuhan tenaga kerja—baik yang terampil maupun tidak—sudah tercatat jelas dalam dokumen analisis dampak lingkungan. “Kalau kebutuhan itu bisa dipenuhi dari tenaga lokal, kenapa harus mendatangkan pekerja luar? Kecuali untuk skill khusus yang memang tak tersedia di sini, itu lain cerita,” ujarnya.
Masalahnya, perusahaan kerap abai. Disnaker sudah berulang kali mengingatkan, tapi keputusan akhir tetap ada di tangan pemilik modal. “Kami selalu mengingatkan agar setiap rekrutmen memprioritaskan tenaga kerja lokal,” tegas Hidayatullah.
Tak hanya berhenti pada seruan, pemerintah kota juga ikut turun tangan. Dalam proyek investasi senilai Rp15 triliun yang digarap PT CAA, Wali Kota Cilegon bahkan memimpin langsung rapat koordinasi bersama kontraktor utama. Fokus utamanya: memastikan serapan tenaga kerja lokal dan memberi ruang bagi pengusaha lokal untuk ambil bagian dalam pekerjaan yang mampu mereka tangani.
“Pak Wali berharap pekerja lokal dilibatkan dan semuanya tetap berjalan profesional,” kata Hidayatullah.
May Day kali ini, jika mau jujur, bukan lagi soal merayakan atau berteriak lantang di jalanan. Tapi soal seberapa jauh kebijakan, investasi, dan komitmen politik benar-benar turun ke akar rumput: apakah warga sekitar ikut merasakan manfaat, atau hanya jadi penonton di halaman rumah sendiri.
(Red*)















